Hari-hari berikutnya Velov sengaja menghindari Keenan, semua pekerjaan yang melibatkan kerjasama mereka Velov serahkan kepada orang kepercayaannya di café.
Suara ketukan pintu membuyarkan konsentrasi Velov pada laptop nya.
“masukk” seru nya pada seseorang dibalik pintu yang dia yakini adalah pegawainya, karena selama ini tidak ada tamu yang akan mengetuk pintu ruang kerjanya.
“udah masuk jam makan siang dek, masih aja serius kerja” suara hangat kakak sepupunya menyapa, ahh Velov lupa kalau ada tiga orang selain pegawainya yang bebas masuk ruangannya ini.
Selain kedua sahabatnya Cindy dan Desta, kakak sepupu di depannya inilah yang bebas masuk sesukanya ke ruang kerja velov di café. SAMUDRA
“hai bang…” sapa Velov sambil berdiri menghampiri Sam dan memeluk kakaknya erat, dia rindu laki-laki ini.
“tumben kesini?? Biasanya juga udah gak peduli sama adek nya” suara Velov manja dan sedikit merajuk karena Sam yang akhir-akhir ini sibuk dan jarang mendatanginya di café
Laki-laki ini adalah satu-satunya keluarga yang percaya padanya disaat semua orang termasuk orang tuanya sendiri menghakimi dirinya atas insiden lima tahun lalu, kakak laki-laki yang siap pasang badan jika ada orang memaki-maki atau menyalahkan Velov termasuk bude dan pakde nya yang notabene adalah orang tua kandung Sam.
Velov amat sangat menyayangi dan menghormati kakaknya ini, dia merasa Sam satu-satu nya keluarga yang dia miliki saat ini.
“perusahaan lagi sibuk-sibuknya dek, ada beberapa tikus-tikus nakal yang mencoba menggoyahkan perusahaan. Mau tidak mau abang sendiri yang harus turun tangan” jelas Sam yang memang harus menjelaskan detail perihal kondisi perusahaan yang di pimpinnya.
Karena sebenarnya perusahaan itu adalah milik otang tua Velov yang sudah di wariskan kepada Velov.
Velov sendiri tidak tertarik untuk mengurusnya, jadilah dia percayakan perusahaan itu untuk di pegang Sam. Satu-satunya orang yang dia percaya tidak akan mungkin menghianatinya.
“terus gimana bang? Udah ketemu tikus nya yang mana?” timpal Velov serius.
“abang sudah ada sih orang yang di curigai, kurang dikit lagi bukti biar bisa nyeret mereka keluar dari persembunyian”
“Udah kamu gak usah terlalu mikirin itu, serahkan semuanya sama abang” suara Sam lembut sambil mengusap sayang rambut hitam adiknya.
“iya, Velov percaya sama abang. Oh iya abang mau ngajakin aku makan ya?” seru Velov girang sesaat dia ingat mungkin tujuan abangnya kesini adalah mengajaknya makan siang.
Mengingat tiap berkunjung kesini urusan mereka tidak jauh-jauh dari urusan perut.
“maaf ya abang udah selesai makan siang bareng klien tadi, tapi kalau mau di temenin makan boleh kok sini mau pesan apa, biar abang pesenin online aja. Abang capek habis meeting sama klien kalau harus keluar lagi. Gak apa-apa kan dek??” tanya Sam dengan nada sedikit menyesal.
“boleh deh, pesenin apa aja terserah abang” cicit Velov sambil cemberut menggemaskan yang sukses bikin Sam terbahak bahak ngeliat bibir Velov udah maju beberapa centi.
“gemesin amat sih adik abang satu ini, eh iya… nih ada undangan dari ATMAJAYA GROUP. Ntar datengnya sama abang ya” suara Sam berubah tegang, takut dengan reaksi adiknya.
“jangan bilang yang nganter undangan ke abang si b******k itu” tanya Velov dengan nada yang sudah berubah dingin.
‘mampus..’ umpat Sam dalam hati, di lihat dari reaksi adiknya dia sudah bisa menebak kalau Keenan sudah menemui adiknya ini. Karena tahun-tahun sebelumnya setiap acara ulang tahun perusahaan ATMAJAYA GROUP , Velov juga salah satu undangan tetap dan setiap tahunnya dia juga akan datang untuk sekedar menghormati om Ferdy dan tante Lina orang tua Keenan.
Sebenci-benci nya Velov kepada Keenan, dia juga tidak akan ikut-ikutan membenci kedua orang tua Keenan, meskipun hubungan mereka juga tidak sehangat dulu. Lebih tepatnya Velov yang mulai menjaga jarak kepada kedua orang tua itu.
“jadi kapan kamu ketemu sama dia?” tanya Sam penasaran
“sebulan yang lalu dia datang kesini” jawab Velov seraya mengembuskan nafas nya dalam dalam.
”aku gak tau bisa dateng atau enggak bang” lirih Velov .
”rasanya masih tetap sama, ketika bertemu dengannya rasanya aku ingin sekali mencekik laki-laki itu” sambung Velov lagi.
“oke abang ngerti perasaan kamu, tapi tolong kamu pertimbangkan om ferdy dan tante lina, mereka akan sedih kalau tahun ini kamu gak datang. Abang gak akan maksa, pikirkan baik-baik aja dulu” timpal Sam yang hanya di jawab anggukan kepala oleh Velov.
15 menit kemudian makanan yang di pesan Sam sampai.
“mau abang suapin gak dek?” tawar Sam ,”itung-itung sebagai permintaan maaf abang karena gak bisa ngajakin kamu makan diluar dan karena abang gak bisa halangin Keenan buat nemuin kamu” sambung Sam lagi.
“boleh, kali ini sogokannya berhasil. Tapi nanti gak ada ya yang kayak gini lagi” jawab Velov manja, sambil mendekati duduk lebih dekat dengan Sam.
Sam menyuapi adiknya dengan sayang. Dia berharap bisa sedikit mengembalikan mood adiknya yang tiba-tiba anjlok setelah pembahasan tentang Keenan.
Setelah makanan habis, Sam merapikan tempat bekas makan Velov lalu kemudian membuangnya ketempat sampah, setelahnya cuci tangan lalu Sam mendekat mengecup kening Velov dengan sayang kemudian pamit untuk Kembali ke kantor.
“abang balik kantor dulu, jangan terlalu terbebani dek. Apapun keputusannmu abang ngerti kok” dan lagi lagi hanya di jawab anggukan oleh adiknya.
“hati-hati dijalan bang” suara lirih Velov terdengar ketika Sam hampir menutup pintu, tetapi masih bisa di dengar oleh laki-laki itu. Senyum tipis mengembang dari bibir tipis Sam.
Sam tau seberapa sayang nya Velov terhadapnya, begitu pula Sam yang amat menyayangi Velov seperti adik kandung nya sendiri. Sam berjanji akan selalu menjadi orang terdepan untuk melindungi adiknya ini, bahkan urusan perempuan pun Sam akan sangat mementingkan pendapat Velov.
Dulu Sam pernah dekat dengan seorang Wanita, namun setelah hampir saja Sam ingin memutuskan untuk menyatakan perasaannya. Dia memergoki Wanita gebetannya itu sedang mencoba mengintimidasi Velov untuk tidak terlalu dekat dengan Sam. Ya walaupun Velov tidak merasa terintimidasi sama sekali, karena Velov yakin abang nya akan lebih memilih dia ketimbang siluman ular itu.
Di dalam ruangan Velov mengambil undangan yang tadi di bawa oleh Sam. Dengan satu tangan bersedekap di d**a dan satu tangan memegang undangan itu ia melangkah ke depan jendela. Tampak di bawah sana lalu Lalang kendaraan yang bikin jalanan macet ibu kota.
Velov menimbang-nimbang apakah dia akan datang atau tidak ke acara tahunan ATMAJAYA GROUP itu. Dia amat sangat tidak ingin bertatap muka dengan Keenan, rasanya masih sama sakitnya seperti lima tahun lalu. Ketika laki-laki itu berkali-kali menghancurkan perasaannya.
Tapi benar kata abang nya, kalau dia juga harus mempertimbangkan om ferdy dan tante lina. ‘tau lah, pusing mikirinnya. Lihat entar aja deh’ batin Velov yang akhirnya melempar undangan itu sembarangan yang tandanya ia sudah nyerah memikirkan hal itu sekarang.