Weekend ini Velov memutuskan untuk datang ke acara tahunan ATMAJAYA GROUP. Dia mencoba mengesampingkan egonya, ada banyak hal yang menjadi pertimbangannya. Salah satunya adalah hubungan baik dia dengan kedua orang tua Keenan dan tentu dia juga harus memikirkan nama baik perusahaannya sendiri.
Meskipun Samudra adalah CEO resmi dari DIRGANTARA GROUP, tapi semua orang tau siapa pemilik sebenarnya dan mereka juga tau hubungan baik nya dengan ATMAJAYA GROUP seperti apa. Maka akan sangat di pertanyakan kalau dirinya tidak datang di acara penting ATMAJAYA GROUP.
Hari ini Velov sudah ada janji dengan Cindy membeli gaun untuk acara nanti malam, tentu saja mereka akan sekalian memanjakan diri ke salon langganan mereka. Sebenarnya Cindy tidak mendapat undangan resmi dari ATMAJAYA GROUP, karena acara makan malam nanti hanya di peruntukan bagi petinggi-petinggi dari mitra bisnis ATMAJAYA GROUP, tapi karena ia di minta untuk menjadi teman perempuan dari Desta yang akan menemaninya datang ke acara tersebut jadilah dia harus ikutan sibuk mencari gaun untuknya.
Diantara mereka bertiga mungkin yang kurang beruntung soal materi adalah Cindy, dia hanyalah seorang staf biasa di perusahaan yang di pimpin Desta. Kehidupannya sangat sederhana, orang tuanya bertani di kampung halamannya di Jawa, dia memiliki dua adik yang masih sekolah.
Cindy sangat bersyukur meskipun dia orang yang kurang mampu dalam hal materi, tapi sahabat-sahabatnya ini tidak pernah memandangnya sebelah mata. Dia merasakan ketulusan Velov dan Desta yang notaben nya adalah anak orang kaya.
Jarum jam masih manunjukan pukul 9 pagi, Velov sudah bersiap untuk menjemput Cindy di kos nya. Di ayunkan kakinya menuruni anak tangga, Velov menuju ruang makan untuk memulai sarapannya yang sebenarnya sudah amat sangat telat karena dia bangun kesiangan.
“mbok aku mau sandwich telur sama s**u aja ya, udah siang ini” pinta Velov pada mbok yem ART nya.
“siap non, ditunggu sebentar ya non. s**u nya mau yang hangat apa dingin non?” jawab mbok yem sekaligus menanyakan pada majikannya.
Karena Velov itu adalah jenis orang yang tidak konsisten soal begituan, kadang maunya dingin kadang panas kadang hangat.
“dingin aja deh mbok, lagi hauss banget tumbenan” jawabnya sambil tetap fokus pada benda pipih di tangannya. Beberapa menit kedepan tampak hening dan mbok yem sibuk dengan pesanan nona nya.
“ini non sandwich telur sama s**u dinginnya, silahkan di nikmati” suara mbok yem sambil meletakan piring dan gelas di depan Velov, kemudian berlalu melanjutkan pekerjaannya yang tertunda.
“makasih mbok.” Setelahnya Velov melahap sarapannya yang kesiangan dengan cepat, karena cacing dalam perutnya sudah demo daritadi minta diberi makan.
Setelah selesai dengan sarapannya ,Velov beranjak menyambar tas dan gawainya lalu kemudian melangkah mencari keberadaan mbok yem.
Di temuinya wanita paruh baya itu yang sedang membersihkan area taman samping. “Mbok hari ini aku pulang nya larut malam ya, ntar gak usah ditungguin deh langsung tidur aja. Mau ke acaranya ATMAJAYA ntar palingan sama bang Sam pulangnya” pamit Velov pada wanita paruh baya di depannya.
Yaahh meskipun mbok yem hanya ART dirumah ini, tapi Velov sangat menghormatinya. Terlebih mbok yem sudah mengabdikan dirinya di rumah ini sudah 26 tahun, seumuran dengan usianya. Meski kedua orang tua Velov sudah tiada mbok yem tetap ingin bekerja dan menjaga nona kecilnya ini, begitu yang pernah dikatakan nya ketika dulu Velov sempat memintanya berhenti bekerja paska kepergiaan orang tuanya.
“iya non, hati-hati dan jangan telat makan ya. Akhir-akhir ini mbok perhatikan non Velov sudah tidak perhatian pada diri sendiri” nasihat mbok yem sambil menatap lekat mata majikan kecilnya, dia sedih ketika memperhatikan akhir-akhir ini nona nya sedikit murung dan kurang memperhatikan dirinya sendiri.
“iya mbok…makasih ya sudah perhatian sama Velov” suara Velov tercekat sambil maju menubrukan badannya memeluk wanita paruh baya tersebut. Dia terharu dan bahagia wanita ini begitu sayang dan memperhatikannya. ahhh kenapa Velov merasa dirinya akhir-akhir ini begitu cengeng. Di urai pelukannya dan dia mundur dua langkah untuk menatap wajah keriput di depannya.
Tanpa menjawab ucapan majikannya, mbok yem mengangguk dan tersenyum tulus kepada Velov. Dia takut untuk mengeluarkan suara yang akan otomatis air matanya ikut keluar juga.
Setelahnya Velov melangkah keluar menghampiri Porsche kesayangannya dan melaju cepat membelah jalanan ibu kota. Sesampainya di depan kos yang di tinggali Cindy ia memarkirkan mobilnya lalu melangkahan kakinya memasuki bangunan tersebut.
Tok…tok… “Cin bukain, gak pake lama” serunya di balik pintu. Sedetik kemudian pintu coklat di depannya sudah terbuka dan menampilkan wajah segar berbalut handuk sahabatnya.
“eh busyett cepet amat lo, kaget gue” suara Velov spontan meninggi dan mengelus-elus dadanya lalu kemudian beranjak masuk kamar kosan Cindy.
“lahh gimana sih maemunahhh… lo sendiri yang teriak gak pake lama, giliran cepet dibuka ngomel. Perasaan salah mulu gue” jawab Cindy gemasss.
“kasih aba-aba kek kalau mau bukain pintu, kan kalau tiba-tiba gitu kaget gue nya” cerocos Velov enggak mau disalahkan.
“serahh…serahhh…sebahagianya elo dehh” jawab Cindy cuek sambil berlalu ke kamar mandi untuk memakai bajunya. Dia masih belum ada tenaga untuk berdebat dengan sahabatnya yang selalu menyebalkan ketika sedang menyetel mode ngajak gelut.
30 menit kemudian Cindy sudah siap menenteng tas di bahunya. “kuyy keburu siang, gue laper belum makan dan lo harus beliin gue sarapan” todong nya langsung melangkah keluar kos dan di ikuti langkah Velov di belakangnya.
“lo gak dandan dulu gitu??” tanya Velov heran melihat sahabatnya polosan tanpa bedak dan teman-temannya, benar-benar kayak anak SMP gini.
“gue udah cantik ini meski tanpa dandan, kuyy la..lagian ntar juga di hapus di salon dan di dandanin lagi” jelas Cindy sambil tersenyum sombong.
“iya deh percaya yang kecantikannya ngalahin miss universe, tapi tetep di bawah gue” balas Velov lebih sombong lagi sambil mengedipkan sebelah matanya menggoda sahabatnya.
“ck.. kebiasaan sombong anda sudah tingkat dewa” jawab Cindy dengan muka jengkel dan ngeloyor pergi meninggalkan Velov yang sedang terbahak di belakangnya. Mood nya hari ini sudah membaik berkali kali lipat ketika sukses bikin jengkel wanita di depannya.
Setelahnya mereka langsung pergi menuju Mall besar ternama di ibu kota, sebelum berkeliling mencari gaun yang akan mereka pakai malam nanti, mereka menyempatkan dulu mengisi perut. Tentu saja Velov juga ikut makan lagi, ketika melihat Cindy makan dengan lahap dia jadi ngiler dan ber akhir lah sarapan kedua untuk Velov. Untungnya dia memiliki badan yang susah banget buat gendut, jadi tidak perlu khawatir dengan hoby nya yang suka makan.
Setelah puas menyantap makanannya dan beritirahat sejenak supaya makanan yang dimakan nya sudah tercerna dengan baik, Velov dan Cindy beranjak melangkahkan kakinya menuju toko dengan brand terkenal dunia.
“selamat siang..ada yang bisa saya bantu” sapa ramah seorang pegawai toko menyambut mereka.
“siang mbak…kita mau cari gaun pesta, boleh kita lihat-lihat dulu” balas mereka tidak kalah ramah.
“silahkan bu…” jawab pegawai toko dan setelahnya mengarahkan dua wanita itu ke deretan gaun-gaun pesta terpajang rapi disana.
Setelah puas mengelilingi dan melihat-lihat gaun pesta yang ada, akhirnya pilihan Velove jatuh pada gaun One Shoulder Dress dengan potongan d**a rendah dan belahan sampai ke tengah paha yang akan menampilkan kaki jenjang si pemakai. Dan warna hitam adalah piihannya, terlihat sexy dan anggun tapi tetap sopan.
“udah dapet belum Cin?? Butuh bantuan gak?” tanya Velov setelah melihat temannya kebingungan menentukan pilihan.
“oke gue nyerah…semua nya bagus-bagus dan gue gak tau harus milih yang mana, lo aja yang pilihin” erang Cindy frustasi.
“sini lo ikut gue..” Velov menarik tangan Cindy pelan supaya mengikutinya jalan. Beberapa langkah dari situ Velov mengambil satu gaun Midi Dress tanpa lengan yang terlihat simple berwarna peach, tapi tetap memperlihatkan pinggul ramping pemakainya. Velov tau temannya satu ini tidak pernah pede memakai pakaian yang terbuka, jadi menurutnya gaun ini sangat cocok dengan Cindy.
Benar saja, setelah mencoba nya di kamar pas terlihat Cindy keluar dengan mata berbinar dan senyum lebar, dia puas dengan pilihan sahabatnya.
“lo emang juara soal beginian..gue ngerasa kayak putri kerajaan, cantik banget sumpah pas gue ngaca tadi” cerocos Cindy sambil terbahak dengan senangnya. Dan hanya di balas tatapan malas dan bibir atas naik sebelah dari Velov.
Kedua nya berjalan menuju kasir dan dilanjutkan mencari sepatu serta tas yang cocok untuk gaunnya, setelah itu mereka memanjakan dirinya dengan perawatan spa dan berakhir dengan make up flawlles yang akan menemani mereka menghadiri pesta malam ini.