bc

Nyangkut Di Hati Sahabat (RAVINALEA)

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
billionaire
forbidden
HE
friends to lovers
sweet
bxg
campus
city
like
intro-logo
Uraian

"Makanya cari pasangan! Baru gue gak bakalan peduli lagi sama lo." Kata itu yang selalu terucap dari mulut Ravin.“Gue gak bakal cari pasangan sebelum lo dapetin pasangan duluan.” Dan selalu seperti ini pula jawaban Alea.Tanpa mereka tahu bahwa mereka saling menunggu dan saling mencintai dalam diam. Memilih memendam tanpa mengutarakan agar tak merusak persahabatan.Ravin dan Alea, keduanya adalah sahabat sedari kecil. Begitu orang mengartikan hubungan mereka. Namun, tak ada seorang pun yang tahu bila keduanya saling menyimpan perasaan. Bahkan debarannya hanya mereka dan Tuhan yang rasakan. Entah sejak kapan perasaan itu bersarang di hati keduanya. Yang pasti, baik Ravin maupun Alea tak pernah menampakkan perasaan di depan satu sama lain.Bagaimana kelanjutan kisah mereka?Akankah cinta mereka tersampaikan? Yuk ikuti terus kisah mereka hanya di Dreame/Innovel ya!Jangan lupa tap love, follow, dan tinggalkan jejak di kolom komentar ya, Sayang" akoh!

chap-preview
Pratinjau gratis
Korban Perampokan
“Al, ini gue, Ravin, tenang ya! Lo sudah aman sekarang,” ucap Ravin menenangkan Alea yang baru saja jadi korban perampokan dan nyaris jadi korban pelecehan. Beruntung Ravin datang tepat waktu. “Takut, Vin, takut,” adu Alea seraya memeluk tubuh Ravin begitu erat. Ravin pun melakukan hal yang sama. “Lo sudah aman, preman preman itu sudah pergi. Sekarang kita ke rumah sakit ya!” Alea mengangguk, saat ini Alea sudah tidak memiliki tenaga lagi. Ravin menyelimuti tubuh Alea dengan jaketnya, lantas membopong tubuh Alea ala bridal style ke dalam mobil. Jok kemudi di sebelahnya Ravin setting senyaman mungkin agar Alea bisa rebahan. Sepanjang perjalanan, tangan kiri Ravin terus menggenggam tangan Alea. Dan ketika sampai di rumah sakit, Ravin kembali membopong tubuh Alea ke ruang IGD dan meminta pihak RS untuk segera menangani Alea. Pihak RS tentu terkejut melihat kedatangan Alea yang tak berdaya dan penuh luka, pasalnya 30 menit yang lalu gadis tersebut baru keluar dari RS dalam keadaan baik baik saja. Namun, saat ini kembali dengan keadaan berantakan dan tak berdaya. 15 menit lamanya Ravin menunggu di depan ruang IGD, barulah dokter yang menangani Alea keluar. “Gimana keadaan Alea, Dok?” tanya Ravin cemas. “Untuk keadaan fisiknya tidak perlu dikhawatirkan, karena hanya luka luka ringan saja. Tapi sepertinya dr.Alea mengalami shok. Karena beberapa kali beliau berteriak ketakutan,” jelas dokter tersebut. “Baik, Dok, terima kasih atas penjelasannya.” Dokter itu pun mengangguk dan pamit pergi. Ravin sendiri bergegas menemui sahabatnya yang terbaring lemas di atas brankar. “Ravin, Ravin, takut, Vin,” racau Alea lagi dalam keadaan di bawah alam sadarnya. “Gue di sini, Al, gue janji bakal jagain lo terus. Gue pastikan kejadian ini gak bakal terulang lagi.” Ravin mengelus puncak kepala Alea. “Vin, tolong gue, Vin! Gue takut, Vin.” Kembali Alea meracau. Ravin langsung memeluk tubuh lemas milik Alea. Dan ternyata pelukan Ravin membuat Alea terbangun dari tidurnya. “Ravin,” panggil Alea seraya membalas pelukan Ravin. “Hey, sudah bangun? Mau minum?” Alea mengangguk. “Bentar gue ambil minum dulu!” “Vin,” panggil Alea lagi dan menarik baju Ravin. “Jangan jauh jauh dari gue! Gue gak mau sendiri.” “Bentar ya! Gue ambil minum aja kok. Haus, kan?” Alea mengangguk. Tak berselang lama, Ravin datang dengang air mineral di tangannya. “Minum dulu! Nanti kalau sudah tenang, kita pulang.” Jujur, saat ini perasaan Ravin nano nano. Dia ingin marah karena Alea tidak mengindahkan permintaannya. Kalau saja tadi Alea mau menunggu dirinya untuk menjemput ke RS, kejadian ini gak bakal terjadi. Ravin menahan dirinya untuk tidak berbicara dengan Alea, dia takut tidak bisa mengontrol emosinya dan berakhir menyakiti Alea. Ravin tidak mau marahnya akan memperburuk kondisi Alea. “Kita pulang sekarang yuk, Vin!” Ravin mengangguk. Ketika Ravin ingin mengangkat tubuh Alea, Alea mencegahnya. “Gua jalan aja, Vin, gak enak di liat orang orang.” Ravin kembali mengangguk. Namun, Ravin meminta Alea untuk duduk di kursi roda. “Semoga segera sehat dan pulih kembali, dr.Alea.” Semua orang orang yang dilewati berucap demikian pada Alea yang notabennya adalah dokter bedah di RS tersebut. Di perjalanan menuju apart mereka pun saling diam. Alea tahu bahwa Ravin pasti sedang marah padanya. Alea memilin ujung bajunya, dia gak suka didiamkan seperti ini oleh Ravin. Untuk membuka percakapan lebih dulu pun Alea takut, takut jika Ravin memarahinya. Hingga sampai di apart pun mereka tetap saling mempertahankan diamnya masing masing. Dan ketika sampai di depan pintu unit miliknya, Alea menoleh ke pintu unit milik Ravin. Ternyata laki laki itu sudah memasuki unitnya lebih dulu tanpa menghiaraukan Alea, kebetulan unit mereka bersebelahan. Sedangkan Alea, bukannya masuk ke dalam unit, Alea malah terduduk di depan pintu seraya memeluk kakinya sendiri, dengan lelehan air matanya yang jelas. “Ngapain belum masuk?” Suara berat itu jelas mengagetkan Alea dan pemilik suara itu juga telah berdiri di depan Alea. “Mau kejadian tadi terulang lagi?” Alea menggeleng cepat. “Masuk sekarang!” bentak Ravin kemudian. “Gue takut.” “Makanya masuk! Takut tapi kok masih tetap di luar.” Nada suara Ravin meninggi. Dengan setengah hati Alea memencet tombol di pintu agar bisa terbuka. Alea masuk diikuti oleh Ravin. “Tidur! Gue temenin,” ucap Ravin dan sukses membuat Alea tercengang. “Kamu tidur di kamar, aku tidur di sofa ruang tamu.” Bagaimana pun Ravin tidak tenang kalau harus membiarkan Alea sendiri saat ini. “Makasih ya, Vin. Maaf selalu merepotkan lo!” “Hem, cepat tidur!” “Lo harusnya gak perlu seperti ini!” “Seperti ini gimana maksudnya?” “Gak perlu sepeduli ini sama gue, gue juga gak mau bergantung terus sama lo.” Ravin mendekati Alea. “Gak mau bergantung, tapi dalam keadaan apa pun yang lo selalu memanggil nama gue. Itu apa maksudnya?” Alea diam membeku di tempatnya. “Makanya cari pasangan! Baru gue gak bakalan peduli lagi sama lo. Gue masih punya janji sama almarhum bokap lo untuk jagain lo sampai lo memiliki pasangan hidup yang bisa gue percaya untuk jagain lo.” “Gue gak bakal cari pasangan sebelum lo dapetin pasangan duluan.” Ravin memicingkan matanya dan menatap intens Alea. “Atas alasan apa?” Alea tidak bisa ditatap seperti ini oleh Ravin, itu tidak baik untuk jantungnya. “Pokoknya lo dulu, baru gue susul.” “Kalau gue gak mau?” “Gue tunggu sampai kapan pun itu.” “Gue cari pasangan nanti kalau lo udah nikah, biar janji tanggung jawab gue ke Alm.bokap lo lunas, Al.” “Gue nikah nunggu lo nikah, Vin.” “Boleh tau alasannya?” Alea menggeleng lemas kepalanya. “Kalau lo gak punya alasan, ya sudah cari pasangan terus nikah, beres ‘kan?” “Gak semudah itu, Vin.” “Di mana letak susahnya? Gue kira sudah banyak laki laki yang mengincar lo untuk langsung ke hubungan yang lebih serius, Al, tinggal lo pilih dan terima aja, ‘kan?” “Gue gak mau mereka,” jawab Alea. “Ada seseorang yang lo tunggu?” Alea mengangguk. “Siapa orangnya? Apa gue kenal? Kalau iya, nanti gue bantu comblangin.” “Tidak perlu, sepertinya tidak bisa.” “Apa sih yang gak bisa dilakukan seorang Ravin?” sombongnya. “Tenang! Semua bakal aman di tangan gue, Al, gue pastikan semua akan berjalan lancar sesuai yang lo mau.” “Udahlah, gak usah dibahas. Aku masuk kamar dulu.” Alea pun berlalu. Alea sudah merebahkan di atas kasur, begitu pun dengan Ravin yang merebahkan tubuhnya di atas sofa ruang tamu unit Alea. Mereka sama sama belum bisa memejamkan mata untuk menjemput mimpi, bahkan mereka sama sama sedang berargumen dengan isi kepalanya sendiri. "Kalau saling menunggu seperti ini, sampai kapan, Vin?" ucap Alea bermonolog. "Aku pengen kamu punya pasangan, biar aku sadar bahwa kamu memang bukan takdirku. Aku hanya berhak mencintai dalam diam, tapi tidak berhak mengutarakan. Apalagi minta cinta ini terbalaskan, jelas itu hanya hayalan. Selama ini aku berusaha menyimpan rasa cinta ini sendiri, agar tidak merusak hubungan persahabatan kita." Mata Alea berkaca kaca. Setelahnya Alea pun memaksa untuk memejamkan matanya. Pukul 1 dini hari, Alea terbangun dengan kondisi badan demam. Alea berusaha memanggil Ravin, namun anak itu sepertinya tidak mendengar. "Viiin, Viiin," Alea mengencangkan suaranya, namun tetap tak membuat Ravin terbangun dari tidurnya. Alea berusaha bangun untuk mengambil selimut dan pakaian tebal lainnya. Permukaan tubuhnya panas, sedangkan yang ia rasakan dalam tubuhnya dingin. Lantas, tak sengaja Alea menyenggol lampu tidur di atas nakas hingga jatuh dan menimbukan suara yang keras. "Al," Ravin berlari ke kamar Alea. "Dingin, Vin, dingin," adu Alea. "Ya ampun, lo demam, Al." "Dingin, Vin." Ravin langsung mencari bedcover, jaket, dan kaos kaki di lemari Alen. Lantas memasangkan di tubuh Alea. Tak lupa Ravin juga memasangkan plester kompres di kening Alea. Ravin memeluk tubuh sahabat perempuannya itu untuk sedikit memberikan kehangatan. Saat ini mereka dalam posisi duduk dan kepala Alea di bahu Ravin. "Lo rebahan aja ya! Gue izin temani lo di sini. Nanti gue pindah kalau lo udah bisa ditinggal." Alea mengangguk lemah. “Jangan pergi, Vin, temani aku di sini!”

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.5K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.8K
bc

TERNODA

read
198.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
233.8K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
188.7K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
60.4K
bc

My Secret Little Wife

read
132.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook