9

819 Kata
Sudah seminggu yang lalu, sejak keluar dari rumah sakit, kini aku merasa sudah sehat dan siap untuk bekerja lagi. Anak-anak juga sudah kembali ke kota untuk melanjutkan pendidikan mereka. Tak lupa aku berikan sedikit uang untuk bekal mereka dan menitipkan pesan agar mereka tetap hidup dengan prihatin dan rajin ibadah. Pagi ini, setelah selesai sarapan dan membersihkan rumah, menyirami tumbuhan dan tanaman mawar milikku, kubersihkan diri lalu mengenakan pakaian yang pantas kemudian bersiap-siap untuk berangkat ke pasar. Sudah seminggu lapak sembako tidak dibuka jadi aku rindu suasana pasar dan rindu pembeli yang suka menawar sampai ke titik akhir. Heheheh. Ketika kukunci rumah, tetanggaku Mbak Elsa menyapa. "Sudah sehat dan siap ke pasar Mbak?" "Sudah. Alhamdulillah." "Wah, mbak cerah sekali." "Harus semangat untuk anak," jawabku dengan lantang dan tawa renyah. "Alhamdulillah." "Yuk semangat lagi kita," ucapku pada wanita yang berprofesi sebagai guru itu. Ku keluarkan motor dari garasi lalu menungganginya dan menekan tombol start, rasanya sudah lama motor kesayanganku itu tidak kunaiki sehingga beberapa bagian terlihat berdebu dan merindukanku. Aku tertawa sendiri dengan itu. Sampainya di pasar terus apa tukang parkir yang telah menjadi sahabatku, dia tersenyum dan berseloroh tentang diri ini yang harusnya tidak perlu cari uang lagi. Katanya uangku sudah banyak jadi hanya tinggal ongkang-ongkang kaki. Aku hanya menanggapinya dengan senyum dan kibasan tangan ke udara. Hidup tidak semudah ucapan, jadi aku hanya tertawa saja. "Hai, mba Arimbi," ucapku pada Embak cantik penjual beras dan minyak, lapaknya tepat berada di sebelah kiri lapakku. Dia tersenyum lebar Saat melihatku menyapanya dan kembali bugar untuk datang dan bersaing lagi dengannya. "Pasar ini merindukan canda dan tawamu," ucapnya. "Sungguhkah tanpa candaanku suasananya sangat sepi?" "Iya hahahah." "Ah, Alhamdulillah, berarti saya berguna juga Mbak." "Setidaknya lebih baik dariku yang tidak bisa membuat orang tertawa," jawabnya. Kubuka gembok lalu mendorong pintu ke sebelah kiri dan kanan, kugelar daganganku dan kutata bagian-bagian yang berantakan. Kusapu juga toko kecil yang sudah menjadi penopang hidup kami selama belasan tahun, selagi melakukan semua aktivitas kurs apa juga orang-orang yang berada di sekitar tempatku berjualan, bibi penjual pecak, bapak pendorong gerobak minyak dan tukang emas yang jemari tangannya selalu penuh dengan perhiasan model terbaru. Semua itu adalah warna di dalam hidup dan keseharianku. * Aku tidak ingat kapan waktunya saat itu terjadi, yang pasti ketika alam alarm tubuhku merasakan bahwa lambung ini harus terisi maka itu pasti sudah menjelang siang. Aku baru saja ingin mencari makan ke warteg sebelah, saat tiba-tiba seorang pembeli dan suaminya menghampiri daganganku. "Bungkusin minyak 2 kilo, gula 5 kilo, dan sabun lima renceng!" Begitu perintahnya. Aku yang belum menoleh padanya hanya bisa mengucapkan istighfar dan mengelus d**a, beberapa jenis pembeli memang seperti itu sedikit ketus dan rasa dirinya adalah raja. "Baik Bu," ucapku, Tapi saat ku balikan badan itu ternyata adalah istrinya Mas Fendi. Dan sialnya ada dia juga di belakang istrinya sedang membawakan barang belanjaan. "Kamu rupanya," ucap wanita itu sinis. "Iya, saya." "Ya udah bungkusin!" Ucapnya dengan ketus. Sebenarnya aku tidak pernah memaksa dia untuk mampir atau membeli di lapaku tapi karena dia ingin belanja, maka aku tetap melayani yang seperti seorang penjual yang baik. "Karetin dengan erat jangan sampai terlepas!" "Baik." "Gulanya timbang dengan baik, jangan sampai timbangan itu kurang, karena aku akan mengulangnya di rumah!" Astagfirullah, orang-orang yang kebetulan belanja di sebelah lapakku langsung melihat kepada diri ini dengan pandangan penuh penghakiman seakan-akan aku adalah penjual yang curang dan tidak jujur. "Sudahlah, diam!" Mas Pendi mencoba untuk menahan ucapan istrinya. ,"Loh aku ini adalah pembeli jadi aku berhak mengatakan apa yang ada di dalam pikiranku!" "Iya betul, tapi jangan mempermalukan orang lain tolong jaga ucapanmu!" Sepertinya wanita ini memang sengaja datang belanja untuk mempermalukanku jadi aku tidak akan diam saja untuk kali ini. "Silakan beli di lapak lain saja, Jika kamu tidak berkenan membeli di lapak saya. Saya tidak memaksa."aku tetap tenang dalam mengatakan kalimat itu, aku sendiri tidak mengerti mengapa wanita itu masih saja rese mengganggu diri ini. Sebenarnya apa yang membuat dia punya dendam pribadi padahal aku sendiri tidak pernah mengusik hidupnya atau merayu suaminya. Ah, heran sekali. "Kurang ajar ya, masa pembeli diusir begitu saja?" "Ada jenis pembeli yang bisa dilayani dengan baik dan ramah. Maaf Kamu mungkin tidak cocok berbelanja di tempat saya, jadi pindahlah." Mbak Arimbi yang saat itu sedang melayani pembeli juga terlihat mencuri pandang dan sedikit sinis menatap wanita ketus itu. "Mbak, apakah kamu bisa membantu istri dari mantan suami saya ini?" tanyaku pada Mbak Rimbi. "Ogah, biar dia belanja di tempat lain saja. amit-amit punya pembeli seperti dia." "Saya juga tidak mau membeli di tempat kalian, dasar rendahan dan menjijikan!" Sebenarnya Mbak rimbi ingin naik pitam dan menyerang wanita itu tapi aku hanya tersenyum dan memberi dia isyarat dengan gelengan kepala. Sebaiknya tetap tenang lebih baik untuk menghadapi musuh yang hanya bisa berkoar-koar saja. "Dasar gila," gumam mbak Rimbi. "Kalian yang gila dasar pedagang tidak tahu diri! Bukannya malah menerima rezeki dengan senang hati kalian malah menolaknya. Dasar tidak tahu diuntung!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN