Chapter 12.
Malam sudah berganti lagi menjadi pagi. Menandakan kegiatan baru akan dimulai.
Saat ini, keadaan kelas 12-4 bisa dibilang cukup gaduh. Biasa, pagi-pagi sibuk cari contekan PR.
3 menit lagi saatnya masuk kelas.
"Assalamu'alaikum." ujar Hana kelewat santai memasuki ruang kelasnya.
"Anjir lu Han, jam segini baru dateng. Mentang-mentang pacar ketos lu!."
"Aiisshhh, orang ngucap salam tuh dijawab. Bukan dihujat." ujar Hana membalikkan keadaan.
"Wa'alaikumsallam Hana.." ucap Aji dari pojokan.
Dan dengan senyum puas, Hana pun melangkah ke tempat duduknya bersama Amoy.
***
Tak terasa waktu istirahat berbunyi. Menyelesaikan jam-jam pelajaran yang sungguh subhanallah. Bagai oase di gurun pasir.
"Kamu,neng. Sini sebentar." ujar Bu Ida. Guru matematika yang ternyata belum keluar kelas.
"Saya? Ada apa bu?" yanya Hana seraya mendekat.
"Ini, tolong bawain ke kelas 12-1 IPA ya." ujar guru tersebut sambil menyerahkan beberapa buku(baca: tumpukan buku), dan kotak pensilnya.
"Oh iya bu." Hana meraihnya dengan senyum. Namun dalam hati, siapa yang tau.
"Makasih ya neng." ujar Bu Ida meninggalkan kelas.
Buru-buru Hana melangkahkan kakinya. Dari pada dia ga bisa istirahat. Secara kelas IPA sama kelas IPS cukup jauh. Harus nyebrang halaman. Dan naikin tangga. Dihhh, males banget sebenernya. Sedangkan Amoy, udah ilang ga tau kemana.
Kelas 12-1 IPA. Kelas 12-1 IPA. Kelas 12-1 IP-
Tunggu. Kelas 12-1 IPA. Bukannya itu kelas Abra ya? Yappsss, itu kelasnya Abra. Dan seketika, langkah Hana pun menjadi lebih ringan.
Tepat di depan matanya terdapat pintu kayu dengan papan nama 12-1 IPA. Masih terdengar ocehan guru dari dalam sana. Biasa anak IPA, suka ditahan walaupun udah istirahat.
Dengan memberanikan diri, Hana pun bersiap untuk mengetuk pintu kayu di depannya itu.
Cekreekk...
Pintu itu sudah terbuka bahkan sebelum ia menyentuhnya.
"Aduuhh si eneng. Untung ga tabrakan." ujar Bu Sauroh yang ternyata telah selesai mengajar. Sementara, anak-anak murid di dalam kelas masih duduk rapi dan diam. Memang sudah kebiasaannya seperti itu. Mereka akan mulai ramai jika punggung Bu Sauroh benar-benar sudah hilang.
"Hehe, iya bu. Maaf. Ini mau naro titipan dari Bu Ida." ujar Hana ramah diselingi kekehan terpaksanya.
"Oalah. Yaudah neng, hati-hati." ujar Bu Sauroh, lalu melenggang pergi.
Pandangan Hana beralih ke dalam kelas yang masih sunyi. Emang ya, anak IPA sama anak IPS itu beda banget.
"Assalammu'alaikum. Permisi." ujar Hana sambil mengetuk pintu.
"Waalaikumsallam." ujar seorang gadis yang duduk di dekat pintu.
"Ini, mau naro buku-bukunya Bu Ida." ujar Hana dan segera masuk saat sudah dipersilakan oleh tuan rumah.
"Yoiii, Abra. Baru bel langsung disamperin doaayyy." suara yang dikenali sebagai suara Endang itu memenuhi ruang kelas.
Dan dalam sekejab, gema cieee memasuki indra pendengaran Hana. Dialihkan pandangannya ke arah Abra yang kala itu masih memandang bukunya walau segaris senyum tipis sempat tercipta. Dalam waktu sepersekian detik, Hana membatu di tempatnya dengan rona merah jambu di pipi kala Abra mengangkat kepalanya dari buku yang sedari tadi menjadi fokus utamanya. Mengakibatkan iris tajam bertemu dengan pandangan hangat.
"Aduuuhh, yang saling telepati sambil pandang-pandangan." ucap Fahmi mengada-ngada.
"Apaan si lu Mi!" ujar Abra sepertinya err.. Salting?
Sedangkan yang lain hanya tertawa.
"Ini titipan dari Bu Ida ya. Makasih." ujar Hana setelah melewati masa kritisnya dan berbalik untuk pergi.
"Han, ga bareng Abra ke kantinnya?" kali ini suara Rey yang terdengar.
Hana menoleh sebentar, "terserah Abranya aja gue mah. Lagi males nunggu. Soalnya udah laper banget."
Dan Hana benar-benar pergi tanpa tau bahwa pandangan Abra mengikutinya hingga..
Bughhhh.
"Awwww." ringis Hana.
"Aduh, sorry ya. Gue ga sengaja." ucap suara berat di hadapannya. Pasti suara cowok. Pantesan tubuhnya ambruk begitu saja.
Hana mendongakkan kepalanya.
"Eh, Daffa."
"Hana?" Daffa membelalakkan matanya.
"Aduh, maaf banget Han. Aku ga sengaja. Beneran deh. Sakit ya? Mau ke uks?" bom Daffa dengan pertanyaannya sambil membantu Hana berdiri walaupun Hana tak menerima uluran tangannya.
"Ga usah Daf. Makasih." ujar Hana lembut dengan senyum yang terlihat hangat yang sebenarnya hanyalah senyum formalitas belaka.
"Serius?" tanya Daffa yang diangguki Hana.
"Yaudah ya Daf, gue duluan." ujar Hana setelah ada hening sesaat dan berniat melangkah meninggalkan Daffa jika saja tak ada yang memegang tangannya.
"Hati-hati ya." ujar Daffa sambil mengacak rambut Hana. Wajah Hana yang langsung bertatapan dengan cahaya matahari pun terlihat merah.
Ia hanya menganggukan kepalanya dan benar-benar pergi.
Masih tanpa tau jika pandangan bak elang setia mengikuti hingga punggungnya benar-benar hilang.
***
A/N
Haaaiiii, apa kabar semuanya? Masih pada idup kan yaaakkkk. Wkwkw,canda vrrooooh.
Maaf banget ya gue nge-nextnya lama. Mulai sekarang, udah gue putusin kalo gue bakal update seminggu sekali setiap hari Sabtu malam alias malam Minggu. Keeyyyyy??
Soalnya gue lagi sibuk banget. Jujur kelas 8 semester dua tuh parrrraaahhhh naujubillah..
Banyak banget hal-hal yang ngalangin gue buat nulis. Pertama karna pelajaran yang semakin susah dan mengharuskan gue belajar extra. Terus karna pr yang bejibun numpuknya. Dan yang paling parah, gue dipilih jadi pimpro buat teater akhir semester nanti. Omeegaaatttt.
Nah, sebenernya gue bikin a/n ini bukan cuma buat curcol doang. Tapi karna ada sesuatu yang mau gue sampein.
Kalo di part pertama itu bukan bulan Februari melainkan bulan Januari. Mohon maaf gue ngabarinnya disini. Soalnya gue males banget revisi dari awal, walaupun cuma 1 part.
Sekali lagi maafin gue ya. Kenapa baru sekarang gue revisi?
Karna gue baru kepikiran, kalo bulan Februari itu harusnya segala macam organisasi dan ekskul sudah tidak dipegang oleh kelas 12 lagi karna mereka seharusnya fokus UN.
Nah, itu dia yang mau gue omongin. Mohon maaf apabila banyak kesalahan, terutama typo nya yang ga ketulungan. Gue emang anaknya gitu.
Okeeyyy, sampe sini aja....
Dadaaaaahhhh.
Oh ya, vomments jangan lupa ya. Biar gue semangat nulisnya. Muahhhh...