#13

614 Kata
CHAPTER 13   A/N Haaaayyy. Ehh, kan di part sebelumnya gue bilang bakal update 1 minggu sekali. Tapi kok kayaknya lamaaaaaa bgt yaaaa. Jadi gini deh, gue bakal update kalo partnya udah siap di publish. Nah gitu. Oke, makasih yaa buat yang masih setia baca. Salam ketjup... *** Ini adalah hari paling mager. Gimana engga? Pagi-pagi udah gerimis disertai angin sepoi-sepoi. Langit mendung terus, bahkan cahaya matahari enggan menembus atmosfer. Boro-boro mau belajar. Jam istirahat ke kantin aja kayaknya maleeeeesss banget. Sama seperti Hana sekarang, dengan semangat kemagerannya, dia hanya menelungkupkan kepalanya di atas meja dengan berbantal sweater abu-abu kebanggaannya kala di kelas hanya terdapat beberapa siswa karna sekarang memang jam istirahat. Termasuk Amoy di dalamnya. Sayup-sayup, kelopak cantik itu mulai menutup jika saja tidak ada yang menyebut namanya keras dengan suara bariton yang sangat dikenalnya. Buru-buru Hana bangkit dari duduknya tanpa mengindahkan pandangan dari teman-teman yang tersisa. Berjalan keluar kelas sembari mengumpulkan nyawa yang sempat merenggang demi menemui orang yang sangat disayanginya itu. Senyum merekah di wajah Abra. Sesampainya Hana di hadapannya, tangan besar itu pun terulur untuk sekedar mengacak rambut dari gadis lugu di hadapnya. "Apaan sih! Nanti jadi berantakan tau." rutuk Hana dengan pipi digembungkan. Lucu sekali. Membuat lelaki di depannya itu terkekeh gemas. Tangan besar nan hangat itu menangkup kedua pipi tembam Hana. Mengarahkan tatapannya kepada manik hangat berwarna cokelat itu. Membuat sedikit-demi sedikit kesadaran merasuki Hana. Tanpa jeda, pipi itu pun bersemu bagai musim cherry. Seperti ada ribuan kupu-kupu yang terbang mengelilingi perutnya saat ini. Istilahnya mah baper. Terdengar kekehan yang lebih besar dari bibir sang pria. "Di sekolah itu belajar. Malah tidur. Gini nih yang ngancurin bangsa." Hana memelototkan matanya. "Enak aja. Namanya juga cuaca kaya gini. Kan bawaannya ngantuk terus." Abra yang sudah terlanjur gemas pun mencubit pipi Hana dengan mudahnya. "Ihhh, sakit tau." ujar Hana mencebik lucu yang lagi-lagi hanya dibalas kekehan dari Abra. Emang dasar udah cool mah susah. Bawaan lahir sih. "Tumben kesini? Ngapain?" tanya Hana yang baru menyadari keanehan fenomena ini. "Maaf ya gue suka jutek. Belum terbiasa punya pacar." ujar Abra membuat Hana makin tersipu. "Tadi gua denger katanya kejur mau ke percetakan." ujar Abra mulai serius walau senyum hangat masih terpatri di bibir seksi nya. Hana menganggukan kepalanya dengan pandangan polos yang langsung bertatapan dengan pandangan dalam dari abra. "Iya. Emangnya kenapa? Mau nemenin?" tanya Hana dengan balon-balon kebahagiaan mulai terpompa. Abra kembali terkekeh dengan tangan yang kala ini dimasukkan ke dalam saku. "Ngarep ya mba. Mau nitip cetak pamflet boleh?" tanya Abra dengan nada yang sukses membuat Hana terperanjat. Sangat lembut. Hana sempat salting beberapa detik. Dan buru-buru ia mengendalikan dirinya. "Ga boleh ya?" tanya Abra. "Emmm, boleh-boleh aja sih. Tapi tumben aja. Biasanya kan apa-apa maunya sendiri. Biar lebih puas katanya." ujar Hana dengan nada agak lesu. Php banget lah ya.. "Hari ini penuh banget. Jadi ga sempet ke percetakan. Tolongin ya Han. Demi acara terakhir angkatan juga kan." ujar Abra dengan nada yang berbeda. "Yaudah iya. Tapi emangnya penuh apaan? Bukannya persiapan udah selesai ya?" ujar Hana agak heran. "Itu, gue udah janji mau bantuin buat rincian dana terbaru sama Andien." jawab Abra dengan senyum tanpa dosa. Jleb. Jleb. Jleb. Entah ada berapa jleb. Yang jelas rasanya seperti ada yang meledak di dalam perut. Bikin mules. Kesel. Emosi. Pengen nangis. Tenggorokan kering. Suara tercekat. Dan efek samping lainnya. "Oh sama Andien ya." ucap Hana dengan mood yang benar-benar hancur. "Oke Han, makasih ya. Ni flashdisk nya. Btw udah mau masuk. Gue duluan." ucap Abra menyerahkan flashdisk kepada Hana dan langsung melenggang pergi. Tanpa memikirkan kata-katanya yang begitu menyayat hati gadis yang berstatus sebagai pacarnya itu. "Please. Gausah nerbangin kalo ujung-ujungnya ngejatohin." ucap Hana lirih dan kembali ke kelas. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN