CHAPTER 14
Langit mendung masih menghiasi langit Bogor. Bahkan tetes-tetes air terkadang jatuh membasahi tanah. Angin bertiup lumayan kencang. Mungkin Hana akan menggigil jika saja ia melepas sweater nya.
Koridor IPS sudah sepi. Biasa, anak IPS. Isinya murid-murid teladan semua. Telat datang pulang duluan. Apalagi dengan cuaca seperti ini. Bakal ada banyak alasan supaya bisa langsung tidur di kamar masing-masing.
Perlahan, Hana mulai melangkahkan kaki menuruni tangga sambil sesekali memeluk dirinya sendiri. Tak jarang rok abu-abunya menggelembung berisikan angin basah yang bertiup cukup kencang.
Sampai sudah ia di ujung koridor. Dengan wajah menantang langit, mata hangatnya memperhatikan tetes-tetes air yang sesekali masih turun. Tangannya pun ikut menengadah merasakan gerimis yang jatuh.
Dengan jail, ia pun berjalan sambil menghentak-hentakkan kakinya ke becekan hingga genangan air bercampur lumpur itu menyebar ke segala arah mengenai rok abu-abu para siswa yang lewat. Menggundang tatapan-tatapan aneh dari teman-teman sebayanya.
Dengan bermodal sweater tanpa pelindung apa lagi, Hana pun berdiri resah di depan gerbang sekolah menunggu angkot sesuai tujuannya datang. Tak peduli tetes air nakal mulai meresapi tubuh mungilnya.
"Oh iya! Nama file nya apaan ya? Ntar gua salah buka yang keluar malah video bokepnya Abra lagi. Kan ga lucu!" ujar Hana kepada dirinya sendiri setelah mengingat kebodohannya. Dengan malas pun, ia berjalan masuk kembali menuju ke ruang OSIS yang selama acara ini dibuka untuk segala pihak yang bersangkutan.
"Permisi." ujar Hana saat sudah di dalam.
"Iya, ada apa?" ucap orang yang ada di dalam yang tak lain tak bukan adalah Andien si manusia eeegghhhhh!
"Eh Andien. Ini, ada perlu sama Abra. Ada Abranya gak?" tanya Hana berbasa-basi demi kesopanan semata.
"Oh Abra. Abranya lagi keluar. Katanya sih mau beli makan. Emangnya kenapa Han?" tanya Andien dengan suara lembut namun yang terdengar di telinga Hana hanyalah suara ghaib.
"Ini, gue mau nanya nama file buat pamfletnya apa. Soalnya kan dia nitip cetak pamflet ke gue. Tapi ntar aja deh, dianya lagi ga---"
"Namanya pamflet pensi 2015." ujar Andien memotong omongan Hana.
"Hah?" ujar Hana yang bingung.
"Jan ngasal Ndien. Nanti kalo salah buka bahaya." ucap Hana masih dengan senyuman.
"Gak mungkin salah lah Han." jawab Andien yang entah mengapa terlihat lebih santai?
"Kok lo bisa yakin gitu?" tanya Hana yang niat awalnya cuma basa basi,namun...
"Kan yang bikin pamflet gue sama Abra."
Oke fix...
Sakiddhhh Brooo
Gaxx kuaadddhhhh!
Wajah Hana pun seketika flat.
Bahkan dalam bidang gue aja lu masih milih Andien, b*a. Ga kuat gue kalo kaya gini caranya.
"Oh." ucap Hana dengan tatapan kosong.
"Yaudah deh, gue duluan ya. Takut kesorean juga. Apa lagi mau ujan gini." ucap Hana mengendalikan diri.
"Oke deh, hati-hati ya." ucap Andien. Dengam senyum kemenangan di bibirnya?
Satu kata yang terlintas di benak Hana saat ini. Gapapa.
Baru saja kakinya ingin melangkah meninggalkan ruang laknat itu, namun rekan jurnalistik menyerukan namanya. Sehingga membuatnya berbincang sebentar. Dan akhirnya, ia harus menyaksikan Abra berjalan melewatinya dengan kantong plastik putih di genggaman tanpa memperdulikan keberadaannya.
Mata Hana yang tadinya hangat pun berubah menjadi tatapan datar yang setia mengikuti gerak gerik Abra yang kala itu tengah menarik kursi di samping Andien tanpa memperdulikan ocehan rekan jurnalnya.
Suasana lama-lama hening sehingga percakapan mesra yang dilakukan Abra-Andien pun sampai ke telinganya.
Tatapan Hana terkunci pada sinar mata Andien yang menatap Abra dengan mata Anjingnya!
Abra menoleh. Ke Andien. Tanpa mengetahui Hana ada di situ.
"Apa liat-liat? Mau?" tanya Abra sambil tersenyum jail.
"Eh, gitu kek dari tadi. Orang udah mupeng juga." ucap Andien mengambil alih nasi goreng di hadapan Abra dan menyuapkannya ke dalam mulutnya sendiri dengan sendok yang tadi Abra gunakan. Ewwwhhh.
Semoga hepatitis!
Namanya juga cewe. Kalo liat doi udah sama cewe lain, beuuhh segala macem bisa keluar dari mulut.
"Buset, laper banget ya?" tanya Abra yang diangguki Andien.
"Emangnya belom makan?"
"Belum. Tadi sibuk banget." ucap Andien.
"Kenapa tadi ga bilang? Kan bisa sekalian dibeliin." ucap Abra yang diabaikan Andien.
"Ga kepikiran. Oh ya, nih kamu makan juga." ucap Andien yang dibalas dengan satu suapan ke mulut Abra.
Dengan ending, mereka makan nasi goreng bareng-bareng.
Menyisakan pedih di hati Hana.
Enak ya jadi Andien itu. Bisa dapet perhatian dari Abra tanpa harus susah payah berusaha.
Diajakin makan bareng. Ditanyain udah makan apa belum. Pake sendok satu berdua. Ditanyain macem-macem, ngomong pake aku-kamu yang bahkan Hana sebagai pacarnya pun belum pernah merasakan hal itu.
Kebayang ga sih sakitnya gimana?
***