Chapter 9

660 Kata
CHAPTER 9   Hana memasuki gerbang sekolah dengan wajah berserinya. Hari kedua dengan status sebagai pacar Abra. Malu dong kalo telat. Masuk ke dalam kelas 12-5 IPS dengan senyum berserinya. Bahkan Hana menyapa teman-temannya. Berjalan ke kursi belakang dan langsung memeluk Amoy. "Gue seeeeneeeeeenggggggg bangeeeeetttttt." ucap Hana terlihat sangat bahagia. "Laahh, tumben? Kenapa lo?" tanya Amoy menaikan alisnya. "Semalem Abra nge- chat gue." ujar Hana sumbringah. "Yaelah lo gitu doang. Baper mulu taken kagak." Amoy menimpali dengan senyum geli. "Wesss, kata siapa gue belom taken sama Abra? Lo ga liat stat bm dia?" tanya Hana mengedip jahil. "Maksud lo? Kemaren gue ga nge-cek hape sama sekali." timpal Amoy sambil membuka pasword ponselnya. Mata Amoy membelalak kaget dengan mulut menganga diiringi oleh tawa ngakak dari mulut Hana. "Gue udah jadian sama Abra. Kemaren." "Taai! Demi apa? Astaagggg... Lo--lo ahhhh, gue bingung!" teriak Amoy langsung memeluk Hana. Dengan sigap, Hana pun membalas pelukan Amoy tak kalah eratnya. "Akhirnya Han, penantian lo selesai." Ahhhhhh, hari ini indah banget untuk Hana. Mungkin untuk Abra juga. *** Teng nong neng nong... Sekarang jam istirahat.. "Han, ikut ke kantin ga?" tanya Amoy. "Ikut deh. Tapi gue bawa bekel." "Yodah, ayo.." Pandangan Hana menyapu sudut-sudut kantin. Memperhatikan tempat yang biasanya di duduki oleh Abra dan kawan-kawan. Mereka belum datang. Biasa, anak IPA. Suka ditahan kalo istirahat. Amoy sedang memesan makanannya. Sementara Hana sudah menduduki tempat dan membuka kotak bekalnya. Saat sedang makan, ia mendengar suara yang sangat jelas sedang membicarakan dirinya. "Eh, itu si Abra seriusan jadian sama Hana?" "Iya. Kemaren Abra nembak Hana di tengah lapangan sweet baget deh" Hana tersenyum dalam diam. "Kok bisa sih? Bukannya selama 2 tahun ini si Abra ga nge-respon ya?" "Ya kali aja Abra diem-diem juga cinta sama Hana." "Yakin cinta? Kali aja cuma kasihan." Jleb. Senyum Hana pudar begitu saja. Kalimat barusan telak menohok hatinya. "Iya juga sih, lagian setau gue si Abra juga ngincer Andien." "Palingan cuma pelarian dari Andien." Fakta apa lagi ini Tuhan. Baru 2 hari udah ada aja cobaannya. "Lagian si Hana, bukannya sama Dafa aja. So jual mahal banget!" "Yaelah. Namanya juga cinta." "Halah! Makan tuh cinta." Nyesek. Kesan pertama yang Hana rasakan. Gimana sih rasanya saat kalian jadian eh ada kabar kalo dia nembak lo cuma karna kasihan plus pelarian? Sakit broooo. Kalo emang gak suka, gak gini lah caranya. Abra, kenapa harus lo?! Suara familiar terdengar di telinganya. "Makan apaan lo b*a?" "Ga tau. Duit gue ketinggalan semua di rumah." ucap Abra. Hana masih setia diam di tempatnya sambil memakan bekalnya. "Yaelah, masih kaku aje ama kita. Selaw lah coy!" "Iya udeh, gue mah gampang." kata Abra. Hanya terdengar langkah kaki yang semakin mendekat kali ini. Tiba-tiba teriakan seseorang terdengar. "Yoi pacar Abra udah stay di kantin.." Hana kenal suara ini. Suaranya si Endang. Hana menoleh dan tersenyum. Lalu kembali melahap bekalnya. Ada yang aneh disini. Ia merasakan kursi di depannya ditarik. Tiba-tiba, Abra sudah terduduk disana. Oh, ulahnya si Rey dan Jale(Rizal). "Disini aje lo b*a. Kita ke tempat biasa aja." ucap Fahmi mengedip jahil. Sebelum mereka bemar-benar pergi, Rey berucap lagi. Bukan kepada Hana dan Abra. Tapi... "Amoy, lu ikut kita aja. Penganten baru mau makan." Hampir saja Amoy menyemburkan minuman yang ada di mulutnya. WTF,penganten baru? Ewwhh. Saat mereka sudah benar-benar pergi, Hana kembali menyantap makanannya. Roti isi telur sebanyak 6 potong. Sedangkan Abra hanya memperthatikan Hana. Abra baru sadar, kalau Hana memang tidak cantik. Tapi ia begitu manis dengan rambut ikal yang membingkai pipi chubbynya. Merasa di perhatikam, Hana menoleh. "Apa?" Abra hanya menggeleng. Hana menyodorkan kotak bekalnya, "mau?" Abra kembali menggeleng. Dengan penuh inisiatif, Hana mengambil satu potong rotinya dan memasukkannya kedalam mulut Abra. "Kalo laper tuh bilang aja! Ga usah gengsi." ucap Hana sambil tersenyum manis. Bisa diabetes si Abra kalo kayak gini caranya. Mungkin Abra kali ini lupa, bahwa perlakuan-perlakuan kecil terkadang bisa buat bahagia yang sampai sakit rasanya. Sebuah harapan tak pernah ucap permisi ketika datang. Ia hadir, lalu tanpa sadar, pelan-pelan, ia bersemayam. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN