Chapter 10

806 Kata
CHAPTER 10   Hari terus berlalu, tak terasa sudah 2 minggu mereka menjalani hubungan ini. Namun sampai saat ini, Hana belum menanyakan perihal yang mengganjal hatinya. Saat ini, Hana dan Abra sedang berada di angkot. Bukan menuju rumah masing-masing, melainkan menuju rumah Abra. Ya, hari ini Hana meminta tolong kepada Abra untuk mengajarinya soal sejarah karena besok, ia akan menghadapi ulangan harian sejarah. Dan dengan gampangnya, Abra menyanggupi. Anak IPA tapi bisa IPS. Ya Allah Abra, paket lengkap banget sih. Betapa beruntungnya Hana mendapatkan Abra. "Kiri bang." ucap Abra kepada abang angkot. Setelah membayar ongkos, mereka pun mulai berjalan bersisian menuju rumah Abra. Lumayan jauh jalannya dari jalan raya menuju rumah Abra. Tapi dengan senang hati Hana melakoninya. Bersama Abra, Hana bahagia. Tak perlu banyak bicara, seperti ini saja sudah lebih dari cukup untuk Hana. "Assalammu'alaikum." ucap Abra sambil membuka pagar. Rumah Abra, sederhana. Sangat sederhana malah. Tapi terlihat nyaman. "Waalaikumsallam." terdengar balasan dari dalam. Mereka pun masuk. Terlihat Abra membuka sepatunya di teras. Sangat berbeda dengan Hana yang biasanya membawa sepatunya ke kamar dan membukanya disana. Mau tak mau, Hana pun mengikuti. Melepas simpul talinya dan menanggalkan sepatunya. "Udah pulang Bang." ucap ibunya Abra menghampiri. "Ehh, bawa temen. Ayo masuk-masuk. Maaf nih rumahnya kecil." ucap ibunya Abra sangat ramah. "Iya bunda makasih." jawan Hana dengan senyum andalannya. Kebiasaan Hana, ibu siapa pun pasti di panggil Bunda. Mungkin saat itu Hana tidak sadar jika ibunya Abra tengah memperhatikannya dan menilainya. "Siapa namanya?" tanya ibunya Abra saat Abra sedang mengganti seragamnya dengan pakaian rumah. "Hana bu." "Oalah, ini toh yang namanya Hana. Si Abra sering cerita tentang kamu ke ibu." ucap ibunya Abra tersenyum. Jadi selama ini Abra menceritakan hubungannya dengan ibunya? Oh Tuhan..., jika sudah seperti ini mana mungkin kalau Abra menjalin kasih dengannya hanya karna kasihan? Ini sudah sangat sangat sangat lebih dari cukup bagi Hana. Pacaran di saat orang tua sudah tau sangatlah melegakan. Dalam sekejab, Hana dan ibunya Abra pun sudah banyak bertukar kata. Tak lama kemudian, Abra datang dengan celana selutut dan kaos putih polos. Dengan aksen rambut yang sedikit berantakan menambah kesan ganteng nya. Bahkan, Hana dibuat melongo hanya karna memandangnya. "Ini Hana bu. Pacar abang." ujar Abra sambil duduk dan meletakkan laptop,beberapa buku, dan setoples keripik singkong balado. Sambalado?? Bukan, bukan. Tapi keripik singkong balado. Oke gue jayus bgt. Mendengar kalimat yang terlontar dari bibir Abra, sedikit demi sedikit perasaan hangat mulai memenuhi relung hatinya. Hingga senyum manis menghiasi bibir mungilnya. "Iya, ibu tau kok. Tadi kan udah ngobrol-ngobrol. Ya kan Han?" ucap Ibunya Abra seraya memastikan kepada Hana. "Iya." singkat Hana dengan senyuman. "Ngomong-ngomong ada apa nih sampe Hana mau main kesini?" tanya Ibunya Abra melanjutkan percakapan. "Ini Bun, Hana mau minta ajarin sama Abra. Soalnya besok mau ulangan. Udah gitu aku kurang paham sama materinya. Kebetulan Abranya jago di bidang itu." jelas Hana panjang lebar. "Oalaaahh. Bagus tuh. Ibu setuju. Kalo pacaran tuh dibawa ke rumah. Isi kegiatan dengan hal-hal berguna. Jangan ngelayab ga jelas kaya remaja sekarang." ujar ibunya Abra gembira. Ia sangat setuju dengan pilihan Abra. Cantik, manis, sopan, asik, nyambung diajak ngobrol. Uhhh, paket lengkap. "Hmm.." balas Abra dengan gumaman karna saat ini ia sudah sibuk dengan laptopnya. "Halaaahh. Ibu ga nyangka yang jadi pacarnya Abra itu Hana. Ibu pikir kamu bakal pacaran sama Andien. Soalnya kan dia udah deket banget sama kamu." ucap ibunya Abra dengan wajah sumringah tanpa tau bahwa kalimatnya barusan sangat menggores hati seorang gadis di ruangan itu. "Yaudah, ibu mau ke dalem dulu. Mau istirahat. Kalo mau makan ambil aja ya. Udah mateng semuanya." ujar ibunya Abra meninggalkan Abra dan Hana di ruang tengah dengan posisi Hana yang masih diam membatu. Abra yang menyadari raut wajah Hana yang berubah pun langsung berusaha menjelaskan. "Omongan ibu ga usah di masukin hati. Andien emang udah biasa main kesini dari dulu." Andien emang udah biasa main kesini dari dulu. Udah biasa main kesini dari dulu. Dari dulu. Tanpa disadari oleh Abra, ucapannya barusan justru menambah rasa sakit Hana. Dan tanpa disadari pula, Hana pun menanyakan hal yang mengusik perasaannya. "kenal sama Andien udah berapa tahun?" Abra menoleh, "Sama tahun ini 6 tahun." Bhakk, 6 tahun. Sedangkan ia? Baru kenal Abra 2 tahun. Bahkan bukan mengenal, tapi hanya mengagumi. "Udah ayo belajar. Keluari bukunya." ujar Abra memecahkan keheningan yang tadi sempat tercipta. Dan dengan cepat, Hana pun mengeluarkan buku-bukunya dan mulai memperhatikan penjelasan dari Abra yang meluruhkan sejenak tentang sakit hatinya. Dia itu obat penawar paling manjur. Iya dia. Dia doi gue. Tapi gue bukan doi dia. Haha. Batin Hana. Tak terasa, jarum jam terus berputar menandakan waktu semakin sore. Namun, kegiatan mereka belum selesai. Masih terus berlanjut hingga.. Teng tong... Ponsel Hana berbunyi. Ia pun langsung mengecek notif tersebut. From : Dafa. Lagi apa Han? Udah makan? Jangan lupa istirahat ya. Love you dear.. Tanpa sadar jika Abra ikut membaca pesannya dari samping. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN