CHAPTER 27 Abra memandang ponselnya datar. Layar hitam itu tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Biasanya..., Abra memejamkan matanya. Hal yang dulu adalah biasanya sekarang sudah bukan biasanya lagi. Sudah seharusnya ia tak mengharapkan lagi. Bagaimana pun juga ia sudah mengambil keputusan. Dan apapun resikonya harus ia tanggung. Tapi, pernah kah kalian merasakan rasanya menjadi Abra? Baru saja ia sadar dengan perasaannya. Baru saja ia paham dengan isi hatinya. Baru saja ia tau apa maksud relungnya. Rasanya baru saja, tapi dengan cepat semua itu direnggut darinya hilang dan lenyap tanpa sisa. Sesakit ini kah cinta pertamanya? Sepahit ini kah rasanya? Ya. Memang sakit. Bahkan sangat sakit. Memang pahit. Sangat pahit. Terlintas bayang indah dalam sesaat. Namun selebihnya, melay

