2: DILEMA DAN KEBINGUNGAN

536 Kata
Aku bangun dengan perasaan aneh. Sebuah kenyataan yang sangat sulit untuk diterima: aku kembali ke masa lalu. Pada hari yang seharusnya menjadi hari terindah dalam hidupku, aku kini dihadapkan dengan kebingungan yang luar biasa. Rasanya seperti berada di tengah-tengah dua dunia yang bertabrakan—di satu sisi, ada kenyataan yang penuh pengkhianatan dan luka, dan di sisi lain, ada aku yang berdiri di hari pernikahan kami, penuh harapan dan kebahagiaan yang sebenarnya sudah hancur. Aku melihat ke sekeliling kamar, gaun pengantin yang indah itu kembali menempel di tubuhku, seperti kenangan yang terlalu sulit untuk dilepaskan. Setiap detik yang berlalu terasa seperti aku sedang menonton diriku sendiri dari luar. Takut untuk merasakan, takut untuk mengingat, tapi juga tak bisa melepaskan. Semua itu seperti ilusi yang datang begitu mendalam, menyakitkan, dan menguasai pikiranku. Rian, suamiku, tiba-tiba masuk dengan senyum lebar yang biasa dia tunjukkan di hari-hari bahagia kami. "Selamat pagi, sayang," katanya, seolah tidak ada yang salah. Wajahnya masih penuh dengan kebahagiaan yang tulus, yang kini terasa seperti sebuah kebohongan besar. Aku ingin marah, ingin meluapkan semua yang aku rasakan. Namun, aku tahu ini bukan waktunya. Aku harus bermain-main dengan waktu, menunggu saat yang tepat untuk membuka semua kebenaran. Aku menghela napas dalam-dalam, berusaha menenangkan diri. "Selamat pagi," jawabku perlahan, berusaha menyembunyikan kebingunganku di balik senyum yang semakin kaku. Aku berbalik untuk melihat dirinya, mencoba tidak menunjukkan ketegangan yang kurasakan. Rian tidak menduganya. Dia mengira ini semua masih seperti dulu—pernikahan yang sempurna, kehidupan yang penuh kebahagiaan. Dia bahkan tidak tahu bahwa aku sudah tahu semua tentang pengkhianatannya. Tidak, aku tidak akan terburu-buru. Aku harus merencanakan semuanya dengan hati-hati. "Sayang, apa yang ada di pikiranmu?" tanyanya lagi, mendekat dan menatapku dengan penuh kasih sayang. Aku tahu itu hanya tampak seperti perhatian, tapi aku bisa merasakan ada yang berbeda dalam pandangannya. Mungkin dia takut aku akan menemukan sesuatu yang tak seharusnya aku ketahui. Aku tersenyum tipis. "Aku... hanya sedikit lelah," jawabku, "Mungkin kita tunda dulu pernikahan ini. Aku merasa belum siap. Aku butuh waktu untuk mencerna semuanya." Aku melihat Rian tampak sedikit terkejut, namun dia tidak mengatakan apa-apa. "Tentu, sayang. Kalau kamu merasa seperti itu, aku akan menunggumu," jawabnya sambil mengelus lembut rambutku. Aku bisa merasakan ketulusan dalam kata-katanya, namun aku tahu itu semua hanya topeng. Dia pikir dia bisa menipu aku selamanya, tapi kali ini aku tak akan memberinya kesempatan itu. Setelah beberapa saat, dia pergi meninggalkan kamar, dan aku terdiam. Pikiran-pikiran itu berputar cepat di kepalaku. Ini kesempatan pertamaku. Aku harus mencerna semuanya dengan baik, menyusun strategi. Aku harus memulai perjalananku dari sini, bukan dengan kemarahan atau tangisan, tetapi dengan perencanaan yang matang. Aku akan membuatnya merasa seolah dia yang akan kehilangan segalanya. Aku tidak tahu bagaimana cara tepat untuk memulainya, tetapi aku tahu satu hal: Aku harus membuatnya menyesal. Aku akan membalas dendam, bukan dengan kekerasan, tetapi dengan cara yang lebih halus, lebih cerdas. Dia akan merasakan betapa dalamnya rasa sakit yang ia sebabkan padaku—rasa sakit yang dulu hanya aku yang merasakannya, sekarang dia yang akan merasakannya. Aku duduk di tepi tempat tidur, merenung tentang langkah-langkah berikutnya. Waktu akan memberi aku banyak kesempatan. Dia mengira aku masih perempuan yang sama, yang akan mengalah dan melupakan semuanya. Tetapi kali ini, aku tidak akan mengalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN