BAB 1: AKU MELIHATNYA DENGAN MATAKU SENDIRI
Malam itu, aku pulang lebih cepat. Aku ingin memberikan kejutan untuk suamiku. Aku sudah merencanakan untuk memasakan makanan kesukaannya, mengenakan gaun terbaikku, dan aku membawa hadiah kecil untuknya. Karena hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan kami yang ke tujuh tahun, aku sangat tidak sabar untuk merayakan nya bersama dengan suamiku.
Dengan hati berbunga, aku membuka pintu rumah kami. Tapi... aku tidak pernah menyangka akan menemukan pemandangan ini.
Di ruang tamu kami di sofa yang dulu kupilih sendiri suamiku bersama wanita lain. Pakaian mereka berantakan, tubuh mereka begitu dekat, suara tawa lirih dan bisikan mesra terdengar jelas.
Tanganku gemetar. Kotak hadiah di tanganku jatuh ke lantai dengan bunyi gedebuk yang terdengar jelas di tengah keheningan.
Suamiku menoleh, wajahnya sejenak terkejut, tapi kemudian... dia tersenyum.
"Kau sudah pulang?" katanya ringan, seolah aku hanya pulang lebih awal dari biasa, bukan memergokinya berselingkuh di rumah kami sendiri.
Hatiku remuk. Aku mencintainya. Aku hidup untuknya. Aku bahkan meninggalkan segalanya demi pria ini. Tapi apa yang kudapatkan?
Wanita itu tertawa pelan, menatapku dengan sinis. "Sepertinya dia akhirnya tahu, Sayang."
Aku mundur selangkah. Napasku sesak. Aku ingin berteriak, marah, menangis
lalu aku lari keluar karna aku masih tidak menyangka yang aku lihat itu nyata atau tidak? karna selama aku menjalani hubungan dengan suamiku dia benar benar suami terbaik yang aku temui, bahkan aku hidup untuknya...
setelah aku berlari keluar rumah sambil menangis tanpa tahu tiba tiba ada mobil besar yang menghantam ku, sekilas aku melihat wajah orang yang menyetir mobil itu dan ternyata itu adalah suruhan dari suamiku...
mengapa aku tahu? karna aku juga mengenal dia..
Mengapa dia tega melakukan ini?
Mengapa ia harus sejauh ini hingga membunuhku?
Kurang baik apa aku dalam mencintaimu?
Sakit hatiku benar benar sakit semoga kau tidak baik baik saja.
Dan tiba-tiba... aku terbangun
---
Aku membuka mata.
Aku masih hidup?
Tidak. Ini bukan tubuhku yang sekarat karna tertabrak mobil tadi malam.
Ini... adalah diriku tujuh tahun yang lalu. Dan ini pas di hari pernikahan kami.
Tuhan memberiku kesempatan kedua. Dan kali ini... aku tidak akan menjadi wanita bodoh yang mencintainya lagi.
Tunggu pembalasanku!