Wanita itu takdir nya memaafkan, namun sulit untuk melupakan

1019 Kata
Pagi itu berjalan seperti biasanya. Secangkir kopi yang mengepulkan asap, hingga nasi goreng telur kesukaannya sudah tersaji di meja makan saat Andra bangun. Lalu terdengar celotehan lucu dari bibir mungil Jasmine tengah bermain di kolam mandi bola yang berada di ruang tengah. Tapi sejauh Andra melihat, sejak pertama kali membuka mata sampai saat ini dirinya telah bersiap untuk kembali bekerja, sekalipun ia belum menemukan sosok istrinya. "Jasmine sayang, kok sendirian? Bunda mana?" Tentu saja bukan jawaban sebenarnya yang didapat, melainkan ocehan Jasmine yang butuh beberapa detik untuk dicerna lalu dipahami. "Ayah..." "Iya, Jasmine, sayang." Tanpa aba-aba, Jasmine memeluk sang ayah dengan erat. Mungkin bocah dua tahun itu sudah mulai merasakan apa itu rasa rindu. Andra mengeratkan pelukan. "Kenapa? Jasmine kangen ayah, ya? Ayah juga kangen, udah lama nggak main sama Jasmine. Tapi ayah nggak punya pilihan lain, sayang. Ayah harus bekerja demi masa depan Jasmine. Nggak apa-apa, kan? Ayah janji, nanti ayah tebus semua momen kebersamaan ayah sama Jasmine saat ayah sudah sukses nanti, ya. Oke?" "Oke!" Barangkali Jasmine belum memahami dengan betul apa yang disampaikan sang ayah. Akan tetapi Andra cukup yakin, ikatan cinta antara ayah dan anak mampu menerjemahkan bahasa dengan pemahaman yang baik. "Yaudah, ayah temenin Jasmine main di sini sampai bunda datang, ya?" Di balik pintu kamar, Mikha menghela napas. Pagi ini dia melakukan semua tugas seperti biasanya. Bahkan bekal untuk Andra sudah tersaji di sana. Semua nampak seperti biasa, kecuali hatinya. Masih ada secuil luka di hati yang sampai saat ini membuatnya sulit lupa. Keinginannya hanya sederhana, dinner atau makan siang bersama di luar. Melakukan kegiatan menyenangkan bersama sebagai pasangan. Itu saja. Mikha hanya ingin Andra menepati janjinya, yang mengatakan akan tetap sama perasaan mereka seperti saat saat pertama menjalin hubungan bahkan ketika usia pernikahan telah sampai pada angka 50. Kenyataannya? Baru juga berjalan 5 tahun ia dan Mikha hidup bersama dalam satu atap yang sama, tapi perasaan saling menghargai itu mulai memudar. Apa begitu sulit bagi seorang lelaki untuk menepati janji? Kemudian, pada akhirnya wanita lah yang harus kembali mengalah. Menekan egonya agar tidak meledak meski sudah sangat ingin. "Sudah siang, mendingan berangkat sekarang sebelum jalanan macet." Mikha mengatakan itu sambil sibuk mengatur helai rambutnya agar rapi dalam ikatan. Sengaja, demi menghindari beradu pandang dengan Andra. Andra mengangguk, lalu mencium kening sang putri dan berdiri menghadap Mikha yang masih enggan untuk menatap matanya. "Aku berangkat, ya. Makasih udah ngurus rumah dan anak-anak dengan baik." Setelah mengatakan itu, dengan tulus Andra mengecup kening Mikha. Satu hal manis, yang amat Mikha sukai yang kini jarang sekali Andra lakukan. Apa memang tabiat lelaki seperti itu? Yang senang sekali mempermainkan perasaan wanitanya? Setelah semalaman Mikha dibuat jengkel olehnya, pagi ini Andra justru menunjukkan sisi maskulin nya dan membuat jantung Mikha berdebar. *** "Sialan!" Saking emosionalnya, Riana bahkan sampai menggebrak meja. "Apalagi sih, Ri? Gue perhatiin, makin tambah umur omongan Lo makin jelek, ya?" Di hadapannya, Mikha begitu tenang menuang dua gelas jus jeruk untuk mereka. "Ya apalagi? Kalau bukan main curang! Gila ya, mereka, nggak ada habisnya gitu nyari celah buat jatohin gue. b******k emang!" "Hust! Bisa nggak itu mulut diajari sopan santun? Ada Jasmine loh, di sini." "UPS! Sori keceplosan. Ya abisan nih gue lagi gedeg banget sama si Lenka Lenka itu!" "Nih, minum dulu biar hati Lo ademan. Biar nggak ngumpat ngumpat mulu." Mikha menyodorkan satu gelas di depannya untuk sang sahabat, kemudian menengguk satu gelas lain yang masih berada di genggaman. "Memang kenapa lagi sih sama si Lenka?" lanjutnya. "Nih." Riana menunjukkan sebuah post di sosial media dengan mimik muka memerah. Kentara sekali kalau ia memang benar-benar sedang marah. "Tuh, masa foto gue pas gue lagi gendong Jasmine kemarin, tau tau kesebar gini? Mana caption nya ngeselin lagi! Lo inget, model cowok yang sempat dikabarin deket sama gue pas kita lagi ada project berdua? Lah masa dibilang Jasmine itu anak gue sama dia? Yakali. Baru beberapa kali jalan bareng, ujug-ujug udah punya anak aja!" "Ini beneran asli Lenka post di akun sosmed nya? Dia nggak takut diserang sama fans Lo apa?" "Ya, enggak di akun resmi si Lenka juga, Kha. Ini yang post akun anonim. Lambe-lambean gitu. Tapi gue yakin bener nih, kalo ini kerjaan si nenek lampir!" "Kok Lo bisa yakin kalo itu ulahnya Lenka?" Sambil menyiapkan makan siang, Mikha meladeni sahabatnya yang masih keluar tanduk itu dengan sabar. Hampir setiap hari setiap Riana tidak memiliki jadwal, ia pasti akan mampir ke rumah Mikha. Menghabiskan waktu luangnya di sana berjam-jam bersama sang sahabat. Maklum, Riana bukanlah artis papan atas yang hari harinya padat oleh jadwal syuting. Melainkan, ia hanya figuran yang masih harus melakukan serangkaian casting agar bisa dapat peran. "Yakinlah! dari awal gue masuk dunia modeling, cuma si cewek tengil itu yang terang terangan ngajak perang sama gue. Kayaknya sih, dia tuh takut kesaing sama gue. Secara, dari segi bakat gue jauhlah di atas Lenka. Dia mah apa? Cuma modal tampang blasteran." "Dih! Sok iyes banget, sih. Ampun deh gue kok bisa-bisanya punya sahabat yang tingkat kepedeannya di atas rata-rata." "Ya harus dong! Minimal pede dulu, soal skill mah bisa diatur." Lalu keduanya tertawa. Sangat menyenangkan bila hari hari kita lalui bersama orang yang bisa memahami satu sama lain. Seperti Mikha dan Riana yang sudah berhubungan sejak awal sekolah menengah atas. Berlanjut hingga perguruan tinggi, memilih untuk tinggal di kost-an berdua. Dan melewati berbagai kesulitan kesulitan bersama. "Nti..." Jasmine yang sedari tadi asyik bermain sendiri, mulai merasa bosan. Kemudian menarik narik ujung baju milik Riana. "Iya, Jasmine sayang?" "Baban..." katanya sambil menunjuk ke arah buku dan crayon yang berserakan. "Oh, Jasmine mau aunti gambar?" sahut Riana yang dengan cepat bisa memahami keinginan batita itu. "Mau gambar apa sayang?" "Jajah!" "Gajah? Oke!" Di belakang meja dapur, Mikha tersenyum sambil sesekali memerhatikan kedekatan antara Jasmine dan Riana. Ia begitu bersyukur, di tengah kehidupan berumahtangga yang tidak selalu mulus, ada Orang orang berhati tulus yang mampu membuat lukanya sembuh lebih cepat. Tumbuh lebih kuat, dan kembali bersemangat menjalani hari. Terkadang, seseorang bisa sangat berharga bukan hanya karena berapa banyak harta yang mereka habiskan untuk kita. Lebih dari itu, meluangkan waktu untuk sekedar berbagi cerita, itu juga sebuah hal yang tak bisa dinilai dengan sebatas materi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN