Padahal, tadinya Mikha berniat untuk mendiamkan Andra barang sehari atau dua hari. Sebagai bentuk kekecewaan karena Andra, lagi lagi melupakan janji yang dibuat.
Tapi pada kenyataannya, belum genap dua puluh empat jam Mikha mogok bicara dengan Andra, ia kini sudah disuguhi momen romantis.
Setelah pagi tadi kecupan di kening membuat jantung Mikha berdebar, malam ini Andra pulang lebih awal dari biasanya.
Saat ini, pria berusia pertengahan dua puluhan tahun itu tengah menggendong putri kecilnya dengan sayang.
Dielus dengan lembut rambut Jasmine yang panjang sambil bersenandung lagu ninabobo.
Dari balik pintu yang sedikit terbuka, hati Mikha menghangat.
Tentu saja setiap ayah ingin selalu dekat dengan anaknya. Memberikan kasih sayang dengan tulus seperti orang tua pada umumnya.
Namun keadaan saat ini belum mengijinkan mereka untuk sedikit saja lebih bersantai.
Semenjak Andra kehilangan tabungan yang selama ini ia kumpulkan, ter iming-iming janji manis teman lamanya yang menawarkan kerjasama membuka usaha restoran.
Sayangnya, semua itu hanya bualan saja. Dengan harapan besar Andra menginvestasikan seluruh uang yang dimilikinya, tapi orang yang dikenal sejak masa sekolah menengah pertama itu menghilang entah kemana.
Sejak saat itu kondisi keuangan Andra dan Mikha tidak baik-baik saja.
Dan tentu saja tanpa pegangan, satu persatu masalah datang dan dengan mudah menggoyahkan pertahanan mereka.
Mikha masih ingat betul, di saat kondisi perutnya semakin membesar, hari menjelang persalinan semakin dekat, Andra datang dengan wajah lesu.
Diusap perut buncit Mikha tanpa berkata sepatah katapun, tanpa mampu menatap wajah Mikha.
Pikirannya kacau memikirkan bagaimana ia akan memberitahukan berita buruk itu pada sang istri.
Bagaimana dia akan menghadapi kekecewaan Mikha. Dan darimana ia bisa mendapatkan uang untuk biaya persalinan yang semakin mendekati hari H.
"Ada apa?" tanya Mikha saat itu. Dan yang ditanya hanya diam saja.
Ia tahu pasti terjadi sesuatu pada Andra. Namun Mikha memilih untuk diam, menunggu Andra untuk siap bercerita. Ia tak mau, kalau rentetan pertanyaan yang ia lontarkan justru akan membuat Andra semakin tertekan.
Dua hari Andra hanya berdiam diri di rumah. Berbicara sekenanya saja pada Mikha yang masih saja sabar menunggu penjelasan dari sang suami.
"Uang belanja semakin menipis, mas. Kamu kapan mau kerja lagi?"
Mikha menarik kursi di depan Andra. Ia merasa sudah terlalu lama suaminya itu berdiam diri.
Digenggamnya tangan Andra.
"Aku tahu, ada banyak beban yang kamu pikul di bahumu. Aku tahu, mungkin sangat sulit menjadi kamu sebagai kepala rumah tangga. Tapi di sini kamu adalah pilarnya, mas. Kamu yang menopang rumah ini. Kalau kamu melemah seperti ini, pada siapa aku dan calon anak kita akan bersandar?"
Saat itu, untuk pertama kalinya setelah kehilangan uang Andra memberanikan diri menatap mata Mikha.
"Kamu harus bangkit, mas. Karena kamu adalah harapan kami."
Dan kata-kata Mikha mampu membakar kembali jiwa Andra yang sempat kerontang. Semangat yang dibutuhkan Andra agar dapat kembali optimis dalam menjalani hari.
Meski lahir di tengah-tengah perekonomian yang kacau, kehadiran seorang anak akan tetap bermakna. Laksana tetes embun yang menyejukkan hati kedua orangtuanya.
Selalu ada senyum di wajah Mikha setiap kali bersama buah hatinya. Tak peduli seberapa penatnya ia mengasuh sang putri seorang diri, karena Andra yang sering kali pulang larut demi mendapat tambahan uang.
Sampai saat ini, keuangan mereka belum juga stabil.
Kebutuhan anak-anak yang tak bisa ditunda, juga Andra yang masih belum mulus dalam karirnya.
Itulah kenapa Andra masih sering pulang terlambat, demi mendapat uang tambahan dari kerja lemburan.
"Jasmine udah tidur?" tanya Mikha begitu Andra keluar dari kamar putri kecilnya.
"Udah. Baru aja."
"Mau minum teh?"
Andra mengangguk setuju. "Boleh."
Pukul sembilan lewat lima belas menit. Belum terlalu larut untuk menikmati secangkir teh ditemani makanan ringan sambil menonton film bersama pasangan.
"Jenar kapan pulangnya, Dik?"
"Kata mbak Yuli mungkin besok sore sampe sini."
"Makasih, ya udah ijinin Jenar pergi sama mbak Yuli nginep di rumah mamah."
Andra menggenggam punggung tangan Mikha. Membuat satu tangannya lagi yang tengah memegang kripik, secara refleks berhenti bergerak.
"Sebenarnya aku nggak tenang Jenar pergi nggak sama aku. Tiga hari lagi perginya. Tapi, mau gimana lagi, mamah yang minta. Dan jujur, aku ngerasa lebih ringan beberapa hari cuma ngurusin keperluan kamu sama Jasmine di rumah. Cucian jadi nggak begitu cepat numpuk." Mikha menyelipkan sedikit tawa di sela ucapannya.
"Repot ya, ngurus dua balita sekaligus?"
"Tiga, loh!"
"Tiga?"
"Iya. Emang kamu nggak ngerasa, mas? Kamu tuh kalo lagi kumat, manjanya, ngeselin nya, bisa ngelebihi Jenar sama Jasmien, tau!"
Andra tergelak mendengar pengakuan sang istri.
"Masa, sih?"
"Yah, nggak nyadar ya selama ini".
"Iya yah.. makasih ya, istriku. Sudah begitu sabar menghadapi aku dan anak-anak." Andra membubuhkan sebuah kecupan hangat di kening Mikha pada akhir kalimatnya.
Membuat Mikha sekali lagi tertegun bagai patung.
"Walaupun terlambat, tapi aku harap nggak akan mengurangi rasa di dalamnya."
Andra merogoh saku celana. Mengeluarkan benda persegi berwarna hitam kombinasi emas.
"Selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke lima tahun, Mikhayla Ananta, istriku tercinta. Terima kasih telah menjadi rumah yang selalu menyambut ku dengan pelukan hangat. Terima kasih untuk selalu membuat hatiku merasa teduh hanya dengan melihat senyuman mu. Aku bersyukur karena aku adalah milikmu."
Air mata tak dapat dibendung oleh Mikha begitu Andra membuka kota kecil berisikan sebuah cincin emas dengan inisial mereka berdua terukir di sana.
"Meskipun nggak akan pernah sama rasa dan maknanya, tapi aku harap cincin ini bisa mengobati rasa kecewamu untuk menggantikan cincin pernikahan kita dulu yang terpaksa dijual untuk biaya persalinan Jenar. Maaf, sudah membuatmu menunggu terlalu lama buatku menepati janji."
Mikha segera menarik tangannya begitu Andra selesai memasang cincin di jari tengahnya, lalu berganti memeluk tubuh Andra dengan erat.
Perasaan bahagia nya bercampur dengan perasaan malu, juga kecewa pada diri sendiri.
Malu, karena telah berburuk sangka pada suami sendiri.
Padahal Andra bekerja siang malam untuk membahagiakan dirinya dan anak-anak. Tapi hatinya yang sempit masih saja menuntut untuk diperlakukan lebih.
"Maafin Mikha, mas."
Pada akhirnya hanya kalimat itu yang terlontar dari mulut Mikha di antara tangis sesenggukan.
"Nggak apa-apa. Kamu nggak salah. Kamu memang seharusnya pantas mendapatkan yang lebih dari ini. Tapi mas minta maaf karena baru bisa membahagiakan kamu dengan cara sederhana seperti ini. Tahun depan dan tahun tahun ke depannya lagi, mas janji akan buat kamu lebih bahagia lagi. Ya?"
"Ini lebih dari cukup untuk buat aku bahagia. Terima kasih udah jadi suami dan ayah yang penuh kasih sayang buat kami, mas."
Konflik dan perselisihan antar pasangan mungkin akan selalu terjadi. Karena pada dasarnya, menyatukan dua hati dan pikiran yang berbeda menjadi satu tujuan memang bukanlah hal mudah.
Namun, bagaimana pengalaman mengajarkan banyak hal. Tentang menekan ego dan melapangkan hati demi orang yang kita sayangi.
Pada akhirnya, rasa sayang dan saling menghargai lah yang mampu mendamaikan perdebatan, meredam amarah dengan cinta, menghapus benci melalui komunikasi.