Dunia panggung sandiwara

1080 Kata
Sebenarnya, bagaimana definisi pura-pura itu? Apakah membohongi diri sendiri itu juga berarti kita sedang bersandiwara? Riana mengingat kembali pertanyaan Mikha tempo hari, yang mempertanyakan keseriusannya terjun ke dunia peran. Lalu cuplikan kehidupannya berputar layaknya adegan dalam sebuah film. Kenapa harus ragu? Toh, selama ini ia telah menjalani kehidupan penuh kepura-puraan. Di luar rumah, Riana akan terus menebar tawa. Bersikap ramah dan banyak bicara. Jadi Riana si periang, seperti yang dikenal banyak orang. Tapi tidak ada yang tahu, bahwa gadis periang itu hanya menjadikan tawanya sebagai kedok untuk menutupi luka. Luka masa lalu yang sulit dilupakan, juga keadaan yang memaksa ia untuk dewasa sebelum waktunya. Di dalam rumah petak yang hanya memiliki tiga ruang bersekat triplek, Riana menjalani hari-harinya bersama dua anggota keluarga. Setiap pagi ia akan bangun lebih awal. Menyiapkan sarapan untuk mereka bertiga. Ibunya yang mengalami kelumpuhan total akibat cedera di kepala bagian belakang, hanya mampu memandangi putri sulungnya berjalan kesana kemari dengan sudut mata. Sementara Risma, anak terakhir yang memilih untuk tinggal bersama mereka, saat ini tengah menempuh pendidikan SMA. Riana selalu bertekad, sesulit apapun hidupnya Risma tak boleh bernasib sama dengannya. Risma adalah satu satunya harapan mereka, dan ia harus menyelesaikan studinya sampai jenjang tertinggi. Bagaimanapun caranya. "Dek, nanti kakak ada jadwal syuting iklan. Kamu bisa kan jagain ibu?" Setelah selesai memindahkan ibu ke kursi roda dan membawanya ke luar untuk menikmati hangatnya mentari pagi, kali ini Riana tengah sibuk merapikan seprai. "Jam berapa kak?" tanya Risma yang masih sibuk mengikat rambut. Menatanya sedemikian rupa agar terlihat rapi. "Jam dua siang." "Oh, oke. Nanti sebelum jam satu Risma usahain udah sampe rumah." "Makasih, dek. Kamu emang adik yang paling bisa diandalkan." Riana memeluk Risma dari belakang. "Kak." "Ya?" "Kak Ri bau, tau! Mandi gih sana!" "Ye! Ini tuh bau keringat calon artis terkenal. Kesempatan langka loh, ini kamu boleh cium sesuka hati kamu mumpung masih gratis." "Dih, najis!" "Seriusan... Sini!" "Ogah!" Risma berteriak sambil berlari ke luar. Berhenti sejenak di depan sang ibu untuk mencium tangan, kemudian segera berlari mengejar angkutan agar tak tertinggal. Bersandar pada pintu yang sedikit terbuka, Riana menatap punggung sang adik yang semakin menjauh. "Meskipun kehidupan kita sulit, tapi kakak janji, akan terus support kamu untuk mencapai cita-cita mu. Cukup kakak yang harus merelakan impian kakak, kamu jangan ya, dek." *** Mimpi itu perlu, sebagai pemacu semangat agar tetap optimis dan selalu bersungguh sungguh dalam menjalani hari. Mimpi itu harus selalu ada, untuk menjaga agar kobaran api di dalam diri tetap menyala. Mimpi itu milik siapa saja yang berani bermimpi. Kemudian bangun, dan mewujudkannya. "Satu, dua, tiga, action!" Suara bariton milik pria berjanggut dengan pengeras suara itu menggema di dalam ruangan. Lalu tiga pelakon yang berdiri di tengah dengan penerangan penuh, berlenggak lenggok sesuai scrpit yang dibaca. Salah satunya adalah Riana. Ia yang meski merasa sedikit risih mengenakan rok sejengkal di atas lutut, tetap profesional menjalankan perannya tanpa protes. Hati kecilnya menyoraki diri sendiri yang begitu lihai menyembunyikan isi hati. "Cut!" Lagi. Sutradara paruh baya itu memainkan perannya. "Good job semuanya! Thank you buat hari ini. Dan sampai jumpa di projek selanjutnya." Kalimat itu disambut riuh tepuk tangan oleh semua kru. Tanda syukur dan bahagia karena proses syuting iklan selama dua hari ini berjalan lancar tanpa ada kendala serius. "Oh, iya. Kamu, Riana?" Sutradara itu membalikkan badan sebelum benar-benar meninggalkan lokasi. "Iya, pak?" "Tolong tinggalkan nomor hape kamu ke asisten saya. Saya rasa, ada satu peran lagi yang cocok buat kamu." "Saya, pak? Makasih banyak, pak sutradara." sahut Riana kegirangan. "Nanti saja terima kasihnya. Sampai jumpa nanti di ruangan saya. Oke?" "Baik, pak. Saya usahakan akan datang tepat waktu. Sekali lagi terima kasih, pak!" Mendapatkan job adalah kabar gembira yang paling disukai Riana, melebihi apapun. Akhirnya ada celah untuk dia bisa benar-benar berkiprah di dunia seni peran ini. Meskipun menjadi selebritas bukan lah impiannya, tapi setidaknya ia merasa senang ketika berakting di depan kamera. Terlebih lagi saat aktingnya mendapatkan apresiasi. Sungguh kebahagiaan yang membuncah untuk Riana. Namun sayangnya, kabar mengenai sisi gelap di dunia per-artis-an bukanlah hoax semata. Tidak semuanya memang. Tapi ada saja oknum yang menyalahgunakan wewenang untuk berbuat sesuka hati. Seperti yang tengah dialami Riana kali ini. Baru saja dia merasa bangga saat ada yang mengakui kemampuan aktingnya. Malam ini ia lagi lagi harus ditampar oleh kenyataan. Bahwa, memulai dari bawah, tak akan pernah berjalan dengan mudah. "Gimana? Kamu mau nggak?" Pria paruh baya itu mendekati Riana yang berdiri mematung di tengah ruangan. Jemari keriputnya menyentuh bahu Riana yang terbuka. Riana bergidik ngeri. Hati kecilnya meminta ia untuk segera lari dari ruangan terkutuk itu. Tapi lihat, tubuh dan pikirannya kini telah berkhianat. Ia sama sekali tak bisa beranjak. "Kalau kamu menerima tawaran saya hari ini, saya pastikan karir kamu akan segera melesat. Dan kamu akan jadi bintang. Gimana?" Sekali lagi tangan legamnya yang kontras sekali, bermain main pada kulit Riana. Kali ini sentuhannya menjalar ke leher lalu ke telinga. Takut. Adalah satu satunya perasaan yang dirasakan Riana saat ini. Tapi entah kenapa ia tak bisa lari. Kedua kakinya seolah diikat dengan jangkar besi hingga tertanam ke dasar bumi. Ia telah kehilangan kendali atas tubuhnya sendiri. Riana berpikir, kalau memang ini satu satunya jalan agar ia bisa sukses meniti karir, maka ia akan lakukan. Dan dengan pemikiran anehnya, semudah itu ia akhirnya menganggukkan kepala. Memberi ijin sutradara itu menggerayangi tubuhnya lebih dari sebelumnya. "Keputusan yang tepat, Riana. Karena kesempatan seperti ini tidak akan datang dua kali." Tak mau membuang waktu, sang sutradara itu segera melancarkan aksinya. Dilucutinya satu persatu pakaian yang ia kenakan. Hingga hanya menyisakan celana dalam hitam. Sementara Riana hanya mampu memejamkan mata. Seberapapun kuatnya ia berusaha untuk tak menangis, air mata itu tetap lolos juga. "Jangan menangis Riana, sayang. Ini akan sangat menyenangkan." Deru napas pria itu terasa jelas di kulit mulus milik Riana. Menambah kengerian yang dirasakan. Kini tubuhnya telah sepenuhnya terbuka. Masih mematung tak berani bergerak, sutradara itu menatap tubuh Riana dengan tatapan menjijikkan. Membuat gadis itu merasa mual. "Tenang, ruangan ini kedap suara dan tak ada cctv. Kita bisa memulai permainan panas kita tanpa takut ada yang menggangu." Ditariknya tubuh mungil Riana ke atas sofa. Dijatuhkan dengan keras hingga sofa itu bergeser dari tempatnya. "Saya paling suka bagian ini. Tubuhmu ramping, tapi besar di bagian d**a. Ah, sepertinya saya akan kecanduan d**a milikmu, cantik." Ia awali persetubuhan itu dengan melumat bibir ranum milik Riana. Dilumat dengan kasar hingga lawannya tersengal kesulitan bernapas. Berlanjut dengan sentuhan demi sentuhan yang membuat pria tua itu keenakan hingga memejamkan mata. Di bawahnya, Riana hanya bisa pasrah. Sungguh, ia telah kalah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN