Silence
Tap tap tap tap tap
Langkah kaki terdengar terburu-buru dari sepasang kaki jenjang seorang gadis mungil dan manis dengan kulit kuning langsat, hidung mungil tapi mancung dan rambut hitam tergerai. Gadis itu nampak tersenyum dengan wajah memerah saat berjalan cepat di lorong kampusnya. Dia sangat bersemangat untuk mengikuti perkuliahan ini karena akan bertemu dengan seseorang yang Ia sukai. Yasmin, wanita itu nampak menarik nafas untuk menenangkan diri terlebih dahulu sebelum memasuki ruang perkuliahannya. Yasmin tidak perlu takut Ia akan dimarahi karena terlambat karena Yasmin sudah melihat bahwa yang akan mengajarnya masih berada di ruang dosen.
Yasmin memasuki ruang perkuliahannya dengan santai dan juga senyum yang selalu menyertainya. Pada awal berkenalan dengan Yasmin maka semua akan mengira Yasmin adalah orang yang pendiam dan sulit didekati namun jika sudah lebih dekat dengannya maka semua akan mengetahui bahwa Yasmin merupakan orang yang apa adanya dan ceria. Ia bisa bersikap santai dan ceria dimana pun kecuali di hadapan pria yang sudah Ia sukai selama 5 tahun ini.
Yasmin kemudian langsung menuju kursi yang sudah dipilihkan oleh temannya yaitu kursi bagian tengah. Tidak lama Yasmin duduk di kursinya, pintu ruangan kembali terbuka karena kehadiran seorang pria yang dalam waktu singkat membuat Yasmin gugup. Yasmin segera pura-pura sibuk menulis atau membaca buku agar kedua sahabatnya Rara dan Luna tidak menyadari perubahan sikapnya. Yasmin merupakan tipe gadis yang selalu menyimpan dengan baik perasaannya baik sedih, kecewa apalagi perasaan cintanya.
"Pagi....maaf saya sedikit terlambat..."ucap pria yang baru saja masuk itu yang merupakan asisten dosen. Yah pria yang berhasil membuat Yasmin selalu gugup adalah asisten dosennya sendiri yaitu Yusra. Yusra jugalah pria yang sudah So Eun sukai selama 5 tahun ini.
Flashback
Bagi Yasmin, Yusra merupakan cinta pertamanya dan juga cinta pada pandangan pertama. Yasmin mengingat dengan jelas bagaimana pertama kali Ia bertemu dengan pria bernama Yusra itu. Saat itu Yasmin baru kelas 1 SMA dan baru saja pulang sekolah sore hari karena ada pelajaran tambahan. Saat akan memasuki pintu rumahnya, indera penglihatan Yasmin menangkap bayangan seorang pria yang sedang berjalan-jalan di taman rumahnya. Pria tinggi dengan kaos berlapis jaket hitam, wajah berkulit kecoklatan yang tampan dengan hidung mancung dan mata tajam itu berhasil menarik peehatian Yasmin.
Yasmin melihat lama pria itu yang nampak santai . Saat Yasmin sedang asyik melihat wajah tampan itu, secara tiba-tiba Yusra menolehkan wajahnya sehingga matanya bertatapan langsung dengan mata Yasmin. Yasmin sempat diam beberapa detik sebelum akhirnya sadar dan segera memasuki rumahnya dengan detak jantung yang tidak karuan.
Saat di kamarnya Yasmin masih teringat jelas wajah tampan Yusra walau tanpa senyuman. Yasmin diam-diam mencoba melirik ke arah taman depan rumahnya melalui jendela kamarnya. Ia masih bisa melihat kalau Yusra kini sedang duduk di ayunan. Yasmin tidak tahu siapa Yusra dan Ia tidak peduli. Yasmin hanya ingin melihat Yusra lebih lama lagi. Yasmin pergi menjauh dari jendela setelah Yusra tidak lagi terlihat, dan Yasmin segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah membersihkan diri , Yasmin segera ke lantai bawah untuk menyapa keluarganya juga mencari tahu keberadaan Yusra tentunya.
Yasmin beruntung karena dengan mudah Ia menemukan Yusra yang kini sedang duduk di ruang keluarga bersama keluarganya. Yasmin dengan malu-malu menghampiri orang tua, kakak perempuannya dan juga ketiga adik laki-lakinya saat Ia diminta untuk berkenalan dengan pria paruh baya beserta anaknya yang ternyata Prayudha (Ayah Yusra) dan Yusra. Ayah Yusra merupakan orang kepercayaan Hardiyanto, Ayah Yasmin, yang akan memegang perusahaan yang terletak di Bandung. Mulai saat ini hingga seterusnya ayah Yusra diminta untuk melaporkan keadaan perusahaan di Bandung secara langsung pada Hardiyanto. Sejak saat itu, Yasmin selalu mengingat kapan jadwal ayah Yusra menemui ayah Yasmin dan berharap Yusra akan mengantarkan ayahnya seperti hari ini. Yusra hanya berusia tiga tahun diatas So Eun, namun karena Ia merupakan anak pertama membuat Ia menjadi cepat bersifat dewasa diusianya yang baru beranjak 18 tahun.
Flashback end
Saat Yusra berjalan memeriksa tugas dari mahasiswa-mahasiswa di kelasnya Yusra nampak teliti memeriksa satu persatu dan membantu jika ada diantara mereka yang kesulitan. Saat Yusra menjelaskan kepada mahasiswanya maka Yusra akan menatap mata siswanya seperti saat kita berbicara dengan lawan bicara kita. Namun berbeda jika berhadapan dengan Yasmin, Yusra hanya akan menjelaskan sambil melihat buku atau lebih banyak melihat teman disebelahnya, Luna. Terkadang Yasmin merasa iri dengan kedekatan Yusra dan Luna karena Luna yang supel. Namun terkadang Yasmin juga berfikir apa Yusra juga sama sepertinya, gugup saat saling berhadapan. Tidak ada yang tahu kecuali Yusra sendiri. Walau yang Yasmin pikirkan benar, namun ada hal lain yang menjadi penghalang untuk hubungannya dengan Yusra.
Tanpa terasa perkuliahan berakhir dan Yasmin pasti akan menyesali itu karena waktunya sudah habis untuk melihat wajah Yusra dari dekat dan terang-terangan. Walau sebenarnya Yasmin juga jarang melihat Yusra saat perkuliahan itu karena takut jika ada yang menyadari arti tatapan Yasmin pada Yusra.
Setelah perkuliahan dengan Yusra selesai, Yasmin memiliki waktu satu setangah jam sebelum perkuliahan berikutnya dan Ia mengisinya dengan membaca buku di perpustakaan. Tanpa diduga di dalam perpustakaan Yasmin bertemu Yusra. Yusra dan Yasmin berpapasan saat Yasmin akan mencari kursi setelah menemukan buku yang akan Ia baca dan Yusra baru akan memasuki lorong untuk mencari buku.
Dag....dig....dug...
Suara detak jantung Yasmin terdengar keras dan cepat saat Ia akan berpapasan dengan Yusra. Yasmin sangat gugup dan tidak tahu harus bagaimana ketika berpapasan dengan Yusra. Namun seperti biasanya saat berpapasan Yusra akan melewatinya seolah tidak saling mengenal sedangkan Yasmin akan pura-pura sibuk dengan sesuatu baik buku ataupun ponsel.
Sikap Yusra yang berbeda itulah yang membuat Yasmin heran. Mengapa Yusra akan sangat ramah dan supel kepada orang lain sedangkan kepada Yasmin Ia akan nampak seperti orang asing.
Yasmin sudah berada duduk di kursinya sembari membuka buku untuk Ia baca. Namun Ia nampak tidak fokus. Walau matanya melihat lurus ke arah buku namun pikirannya sudah melayang ke arah seseorang yang duduk tepat di depannya.
Yasmin sama sekali tidak berani melihat bahkan melirik Yusra sedikit saja. Yasmin tidak yakin namun Ia merasa Yusra sesekali melirik ke arahnya. Entah itu benar atau hanya sekedar perasaan kegeeran Yasmin saja, tidak ada yang tahu karena Yasmin tidak pernah berani mencoba melihatnya untuk membuktikannya.
Drrrt.....drrrrttt....
Yasmin merasakan ponselnya bergetar dan melihat seseorang menghubunginya. Yasmin pun mencoba keluar dari perpustakaan sebelum menjawab panggilan itu. Bukan karena di perpustakaan dilarang berisik namun karena Yasmin merasa tidak enak terhadap Yusra. Percaya atau tidak Yasmin tidak ingin Yusra....cemburu. Mungkin itu terdengar aneh karena Yusra bahkan tidak pernah menunjukkan ketertarikan atau menyatakan perasaan bahwa Ia menyukai Yasmin. Entahlah, Yasmin hanya merasa Yusra memperhatikannya walau terkadang Ia juga merasa Yusra tidak peduli dengan kehadirannya.
"Halo...." ucap So Eun gugup seperti merasa akan ketahuan jika Ia berselingkuh. Berselingkuh? Ya karena yang menghubunginya adalah kekasihnya saat ini.
"......."
"Aku diperpustakaan.....menunggu jam perkuliahan berikutnya..."
"......."
"Iya.....Aku tutup dulu Mas Adi....selamat bekerja..." Yasmin menghela nafas pelan merasa sesak didadanya karena dilema. Yasmin sama sekali tidak mencintai kekasihnya itu. Namun mengingat ayahnya yang dua tahun yang lalu mengenalkan dengannya dan berkata kalau ayah Yasmin menyukai Adi maka Yasmin terpaksa menerimanya sebagai kekasih setahun yang lalu. Sebenarnya tidak sepenuhnya menerima karena saat itu Yasmin tidak menjawab dengan pasti.
"Mas Adi....Aku tidak tahu harus menjawab apa.....Aku masih ragu....tapi Aku tahu kau orang baik....Aku akan mencoba untuk menyukaimu..."
Saat itu Yasmin sudah memiliki rasa terhadap Yusta namun tidak yakin jika Yusra juga menyukainya dan juga mengingat ayah Yasmin yang menyukai Adi maka Yasmin akan berusaha mencoba menyukai Adi. Namun hingga saat ini rasa suka itu belum juga muncul. Bahkan sesungguhnya Yasmin juga kurang merasa nyaman dengan Adi.
"Huft.....dia pergi..." lirih Yasmin ketika kembali ke kursinya namun tidak menemukan Yusra. Yasmin yang mood-nya sudah buruk pun tidak berniat melanjutkan acara membacanya. Ia kemudian melangkahkan kakinya ke taman kampusnya. Di sana Ia bertemu dengan teman kelasnya yang cukup dekat dengannya yaitu Rara. Yasmin dan Rara berbicara akrab dan santai sesekali disertai tawa. Tanpa sadar mata Yasmin kembali menangkap sosok Yusra yang kini berada tidak jauh darinya tengah berjalan sambil mengobrol dengan temannya yang sedang tertawa namun hanya tersenyum simpul.
Yasmin mencoba mengajak Rara kembali mengobrol seolah tidak melihat Yusra saat Yusra dan temannya melewatinya. Setelah Yusra menjauh, Yasmjn mencoba meliriknya berharap Yusra menoleh namun harapannya sia-sia karena Yusra tidak juga menolehkan wajahnya hingga tubuh Yusra menghilang dibalik pintu ruangannya.
Yasmin kembali menghela nafas kecewa dan sepertinya mulai putus asa dengan perasaannya.
"Sepertinya Aku salah dan hanya kegeeran saja...."ucap Yasmin sedih dalam hati.
~oO0Oo~
Yasmin pov
"Kak Yusra....Aku sudah di halte...."
Itulah isi pesan singkat yang ku kirim sekitar 30 menit yang lalu kepada Kak Yusra saat Aku tiba di halte daerah Bandung. Tiga hari lagi kakak perempun Kak Yusra akan menikah dan Aku sebagai perwakilan keluargaku akan menginap di sini untuk membantu persiapan. Untung saja akhir pekan ini Aku libur sehingga tidak perlu memikirkan kuliahku.
Huft.... entah sudah keberapa kalinya Aku menghela nafas untuk menetralkan degup jantungku ketika Aku mengingat akan bertemu dengan Kak Yusra bahkan mungkin akan banyak berinteraksi dengan Kak Yusra. Sepertinya takdir masih belum berpihak padaku. Disaat Aku merasa hanya kegeeran dan ingin melupakan serta menjauh, namun disaat itu pula justru Tuhan seperti memberiku kesempatan untuk lebih dekat dengannya.
"Huft..,.ya Tuhan....kenapa jantung ini tidak bisa diajak kompromi saat mengingatnya..... tenanglah Yasmin....jangan terlalu gugup dan bersikap bodoh...." ucapku menenangkan diri.
Sudah hampir satu jam berlalu dan Kak Yusra belum juga muncul. Banyak pikiran yang berkeliaran di otakku. Apa Kak Yusra membaca pesan singkatku? Bagaimana jika tidak? Tapi Aku terlalu gugup hanya untuk menghubungi dan memastikan dia membaca pesan singkatku. Atau dia terlalu sibuk sehingga tidak ada waktu untuk menjemputku. Atau dia malas dan merasa direpotkan untuk menjemputku. Atau terjadi sesuatu padanya di jalan. Aku berusaha menepiskan pikiran buruk tentangnya. Terserah jika dia sibuk, tidak membaca pesan atau bahkan malas menjemputku asal Ia baik-baik saja. Atau Aku naik taksi saja, pikirku saat melihat beberapa kali taksi melintas. Tapi Bagaimana jika Yusra sudah di jalan untuk menjemputku? Pikirku lagi. Lebih baik Aku menunggu saja dan untungnya sekarang masih siang hari sehingga masih terang dan tidak perlu membuatku takut. Aku pun mulai membaca buku untuk menghilangkan jenuhku.
"Yasmin....kau menunggu lama?"ujar Kak Yusra tiba-tiba mengejutkanku.
"Kak...Kak Yusra...astaga..."ucapku terkejut sembari mengelus dadaku untuk menenangkan karena terkejut dan juga gugup. Ku lihat dia sedikit terkekeh dan tanpa sadar Aku terus melihatnya, untungnya tidak lama dan Aku segera sadar sebelum Ia menyadarinya.
"Maaf....."ucapnya masih sedikit terkekeh. Aku berusaha menahan senyumku saat melihat dia sangat tampan sekali dengan senyum manisnya.
"Oh....tidak apa..." ucapku seraya mengikutinya yang sudah membawa koperku ke dalam mobilnya.
Ternyata Kak Yusra lama karena sedang ada perbaikan jalan dari arah rumahnya kemari. Dan Aku tidak terlalu mempermasalahkannya karena Aku sudah terlanjur senang berada di dekatnya saat ini dan lagi pula itu berarti nanti perjalanan kami pun akan cukup lama ke sana.
"Kenapa kau tidak mengabariku saat sudah berangkat kemari sehingga Aku bisa memperkirakan kapan akan menjemputmu?..." tanya Kak Yusra setelah sepuluh menit terjadi keheningan.
"Tadinya Aku berencana naik taksi agar tidak merepotkan, tapi Om Yudha memaksa Aku agar menghubungimu..." jawabku berusaha santai agar dia tidak tahu bagaimana gugupnya Aku. Ini kali pertama kami berada berdua dan berbicara santai walau masih tanpa saling menatap.
"Owh..."sahut Kak Yusra singkat.
"Ehm.....kudengar Kakak akan melanjutkan S2 dalam waktu dekat ini....benarkah?..." tanyaku memberanikan diri bertanya lebih dulu saat tidak ada lagi percakapan diantara kami.
"Iya.... Aku mendapat beasiswa ke Amerika....." jawabnya lagi.
"Ehm....berapa lama?...." tanyaku pelan. Jujur Aku sedih mendengar dia akan pergi lama. Walau biasanya kami jarang bertemu bahkan seperti tidak saking kenal namun Aku masih bisa melihatnya setidaknya sebulan sekali.
"Ehm....mungkin 2 tahun atau lebih.....Aku juga berencana melanjutkan S3 ku di sana...." jawabnya tak kalah pelan.
"Oo....." Hanya itu yang bisa kukatakan mendengar jawabannya yang membuatku sedih. Selama 4 atau 5 tahun Ia akan pergi, apa ini merupakan jalan yang diberi Tuhan agar Aku bisa melupakannya. Tapi sejujurnya Aku juga tidak yakin bisa melupakannya karena bukankah cinta pertama merupakan cinta yang paling berkesan. Setelah itu tidak ada lagi perbincangan diantara kami. Aku lebih memilih mengalihkan pikiranku untuk menikmati pemandangan di Bandung ini. Aku ingin menangis merasakan sesak didadaku karena detak jantungku yang bertambah cepat saat tahu Ia akan pergi. Semoga ini merupakan yang terbaik untuknya dan mungkin juga untukku.
Tanpa terasa satu jam berlalu dan kini kami sudah sampai di rumahnya yang sudah dipenuhi banyak keluarga. Keluarga Kak Yusra, Ayah, Ibu, Kakak perempuannya dan adik2nya menyambutku dengan hangat. Awalnya Aku cukup canggung karena tidak terlalu akrab dengan keluarga Kak Yusra. Aku pun tidak tahu harus membantu apa di sini. Saat Aku bertanya apa yang bisa kubantu, mereka justru menyuruhku untuk bersantai saja karena Aku tamu. Bukankah Aku dikirim untuk membantu keluarga Kak Yusra namun kenapa Aku justru tidak diizinkan bekerja dan itu tentu membuatku bosan.
Aku mencoba berkeliling rumah Kak Yusra dan kulihat banyak orang yang mempersiapkan sesuatu untuk pernikahan nanti. Pernikahan akan dilakukan dua tahap. Tahap pertama akad nikah yang akan diadakan di rumah ini dan tahap kedua resepsinya pada malam hari akan diadakan di sebuah gedung.
Saat Aku berjalan-jalan di sekitar dapur, Aku melihat Ibu Kak Yusra beserta beberapa orang lainnya sedang sibuk memasak di dapur untuk makanan ringan dan makan malam. Aku menawarkan bantuan dan untungnya Ibu Kak Yusra menerima dengan senang hati bantuanku. Aku sedikit tersenyum saat membayangkan andaikan Ibu Kak Yusra akan menjadi mertuaku nanti pasti akan menyenangkan karena kurasa Ibu Kak Yusra menyukaiku yang cukup mandiri dan pintar memasak. Tapi Aku segera menepisnya karena berfikir itu tidak mungkin mengingat Kak Yusra yang sebentar lagi pergi sedangkan selama ini tidak ada perkataan atau apapun yang menunjukkan Ia juga menyukaiku dan memintaku untuk menunggunya.
Makanan ringan siap dan Aku mengantarkannya ke beberapa ruangan yang sudah dipenuhi oleh orang-orang yang sibuk bekerja termasuk Kak Yusra dan kakak perempuannya (Mbak Riani) yang sedang mendekorasi kamar pengantin Mbak Riani. Sepertinya mereka sedikit berdebat karena terjadi perbedaan pendapat antara mereka sehingga saat Aku datang Mbak Riani langsung memintaku memilih pendapat siapa yang paling benar. Aku pun akhirnya menemani mereka untuk menjadi penengah saat mereka kembali berbeda pendapat. Aku cukup senang berada di sini karena keluarga Kak Yusra yang hangat dan Aku bisa dekat dengan mereka walau Aku masih tetap jarang berinteraksi dengan Kak Yusra.
Hari ini akhirnya hari yang keluarga Kak Yusra tunggu pun tiba yaitu hari pernikahan Mbak Riani. Aku sudah siap dengan kebayaku yang sudah disiapkan seragam oleh keluarga Kak Yusra karena pagi ini pernikahan akan diadakan dengan adat tradisional. Aku sudah siap berangkat namun Aku tidak menemukan sepatuku. Saat Aku masih bingung mencarinya, Kak Yusra ternyata menemukannya dan membawakannya kepadaku. Dadaku kembali berdegup kencang terkejut, gugup dan juga senang saat Kak Yusra langsung meletakkan di dekat kaki ku. Jujur Aku merasa tersanjung dan berbunga dengan perlakuannya namun Aku berusaha untuk tetap santai dan tidak menunjukkan senyum bahagiaku.
Acarapun berlangsung lancar dan semua orang bahagia termasuk Aku karena selama acara Aku selalu berada di sebelahnya yang juga sebagai pendamping wanita. Aku merasa menjadi pasangannya seharian ini dan semoga besok juga.....hihihi.
Yasmin pov end
Yasmin nampak selalu tersenyum membantu keluarga Yusra melayani tamu yang datang. Namun senyum Yasmin perlahan hilang saat seseorang datang menemuinya yaitu kekasihnya, Adi. Adi ternyata datang mewakili keluarganya sebagai tamu undangan dan juga untuk menjemput Yasmin.
Keesokan harinya pesta resepsi pernikahan pun berlangsung meriah di sebuah gedung mewah milik keluarga suami Riani. Yasmin nampak cantik dengan dress simple namun elegant berwarna merah. Tapi sepertinya senyum Yasmin tidak semanis dan secantik senyumannya kemarin. Hari ini Yasmin hanya tersenyum seadanya untuk menghormati tamu karena Yasmin nampak canggung berada bersama Adi. Entah wajar atau tidak namun Yasmin juga takut jika Yusra melihatnya dekat dengan Adi. Yasmin takut jika... Yusra cemburu. Mungkin aneh atau kegeeran namun itulah yang Yasmin rasakan. Acara berlangsung cukup cepat menurut Yasmin dan setelah makan malam Yasmin pun pamit pulang bersama Adi.
Yasmin merasa sedih kebersamaannya dengan Yusra dan juga keluarga Yusra berakhir. Dan lagi Ia tidak bisa pulang diantarkan oleh Yusra, bahkan Yusra pun tidak ada saat Yasmin pamit. Selama perjalanan menuju rumahnya Yasmin memilih untuk pura-pura tidur dan tidak berbicara apapun dengan Adi. Yasmin sadar jika sikapnya ini akan membuat Adi kecewa. Namun Yasmin tidak ingin Adi melihat matanya yamg berkaca-kaca dan airmatanya siap mengalir kapan saja jika Yasmin mengingat Yusra. Yasmin merasa ingin menangis mengingat jika mungkin saja hari ini adalah hari terakhir Ia bisa bersama atau bertemu Yusra.
~oO0Oo~
Hampir sebulan berlalu begitu saja dan Yasmin melalui hari-harinya seperti biasa dengan keceriaan, walau dalam hatinya Ia merindukan Yusra. Namun begitulah Yasmin, bukan orang yang mudah terpuruk dan terlalu terbawa dalam memikirkan masalah. Yasmin juga bisa melalui harinya dengan lebih tenang tanpa tertekan atau merasa bersalah akan hubungannya dengan Adi.
Flashback
"Yasmin.....kita sudah lama dekat....dan kau tahu bagaimana perasaan Mas padamu..... Mas ingin hubungan kita berlanjut dengan kepastian dan lebih serius....Mas ingin kita segera bertunangan...." ucap Adi serius saat mereka berdua makan di cafe.
"Mas Adi....." Yasmin tidak tahu harus berkata apa kepada Adi.
"Apa kau meragukan perasaan Mas dan keseriusan Mas...?" tanya Adi serius dengan menatap dalam Yasmin.
"Huft....Mas....maaf jika Aku mengecewakan Mas... tapi selama dua tahun ini Aku berusaha untuk menyukai Mas....tapi....Aku tidak bisa.....perasaan Aku masih sama seperti dua tahun yang lalu.....Aku hanya menghormati Mas...."
"Kau menyukai pria lain?..."
"Ehm....itu..."
"Siapa dia?.....Apa lebihnya dia dari Mas?"
"......."
"Mas tahu kamu tidak memandang harta atau jabatan....jadi, apa dia lebih perhatian, lebih menyayangi atau lebih mencintaimu?...Atau sikap dia lebih baik dari Mas?.....Apa sikap Mas ada yang tidak kau sukai?..."
"Mas.....Aku tidak bisa mengatakan apa yang lebih dari pria yang kucintai itu karena itu tidak objektif....jika kita sudah mencintai seseorang, terkadang cinta itu bisa membuat kita buta....buta akan adanya orang yang lebih baik dari yang kita cintai, buta akan keburukan orang yang kita cintai....karena itu Aku tidak bisa mengatakan apa kelebihannya dan apa kekurangan Mas.... Mungkin karena rasa cintaku itu sehingga Aku tidak bisa melihat kelebihan Mas......namun Mas yakinlah suatu saat nanti akan ada yang bisa melihat kelebihan Mas dan buta akan keburukan Mas...yaitu orang yang mencintai Mas dengan tulus...." jelas Yasmin panjang lebar selembut mungkin. Adi pun terdiam sesaat kemudian tersenyum tipis.
"Begitukah?....Kau pintar sekali berkata-kata sehingga Mas tidak bisa marah padamu....Apa Mas mengenal siapa yang membuatmu buta dan tidak bisa melihat Mas?..." jawab Adi mencoba menerima penjelasan Yasmin dengan baik.
"Sebaiknya tidak perlu mengetahuinya.... karena itu akan membuatku malu..." gumam Yasmin yang terdengar sedih. Adi pun hanya bisa terdiam maklum dan ikut merasa sedih karena sepertinya cinta Yasmin juga tak berbalas.
"Baiklah.....tapi Mas akan berdoa semoga Ia tidak buta sehingga bisa melihat ada gadis yang mencintainya dengan tulus..." Ujar Adi berusaha menghibur Yasmin yang terlihat sedih. Setelah itu mereka mencoba mengakrabkan diri setidaknya sebagai teman atau kakak-adik.
Flashback end
Kejadian itu terjadi dua minggu yang lalu dan kini hubungan Yasmin dan Adi terasa lebih baik dan nyaman tanpa ada perasaan tertekan.
Yasmin sedang bercanda bersama adik-adiknya di taman belakang ketika seseorang yang Yasmin rindukan datang dan ikut bergabung dengan mereka. Yusra akan ke Amerika besok pagi, dan Ia datang ke rumah Yasmin untuk berpamitan dengan keluarga Yasmin selaku keluarga atasan dari ayahnya. Yusra tersenyum ramah kepada adik-adik Yasmin dan hanya tersenyum tipis pada Yasmin namun berhasil membuat Yasmin sangat senang.
Yusra nampak akrab dengan ketiga adik laki-laki Yasmin yang berusia 17 tahun, 15 tahun dan 10 tahun, sehingga tanpa sadar Yasmin disisihkan. Yasmin yang merasa diabaikan memilih masuk ke rumahnya walau Ia masih ingin melihat wajah Yusra yang mungkin besok adalah hari terakhirnya melihat wajah Yusra.
Yasmin berjalan menjauhi Yusra setelah menarik nafas dalam-dalam berusaha mengurangi sesak karena sedih akan jauh dari Yusra. Yasmin berusaha menguatkan diri dan menerima takdirnya bahwa mungkin Yusra bukanlah jodohnya. Yasmin juga tidak menyesal melepaskan Adi karena perasaan cintanya yang kuat pada Yusra walau mungkin pada akhirnya Ia tidak bisa bersama Yusra.
"Aku yakin ini merupakan cara Tuhan untuk memberi kebahagiaan kepadaku....walau tanpa bersama pria yang kucintai saat ini....Ku tahu Tuhan akan membuatku bahagia dengan cara memberi yang kubutuhkan bukan yang kuinginkan.... semoga kau juga akan bahagia Yusra..."
~oO0Oo~
5 tahun Kemudian
Yasmin pov
Saat ini Aku tengah menunggu dengan gugup kedatangan seseorang yang selama ini ku rindukan. Selama 5 tahun ini Aku tidak pernah bertemu dengannya sehingga saat ini Aku benar-benar gugup bagaimana harus bersikap dengannya nanti.
"Yasmin...."panggil seseorang kepadaku. Aku sudah tahu suara siapa ini karena Aku sangat mengenalnya. Selama 5 tahun ini kami sering berhubungan melalui telpon dan kini Aku melihatnya tengah tersenyum terhadapku, senyum tipis seperti 5 tahun yang lalu.
"Kak Yusra...." jawabku juga tersenyum tipis, gugup. Ingin segera Aku mendekatinya dan memeluknya. Namun walau hubungan kami sudah berubah menjadi sepasang kekasih tetap saja rasa malu dan gugup masih meliputiku. Yah... Akhirnya kami resmi menjadi sepasang kekasih 5 tahun lalu tepat malam saat Kak Yusra akan pergi ke Amerika.
Yasmin pov end
Flashback
Ketika Yasmin berjalan menjauhi Yusra yang sedang bergurau dengan adik-adiknya, tanpa Yasmin sadari Yusra menatapnya nanar kemudian menghela nafas pasrah.
Yusra malam itu menginap di rumah Yasmin bersama orang tuanya juga agar tidak terlalu jauh perjalanan ke Bandara besok pagi. Malam sudah cukup larut dan Yusra belum juga bisa tidur sehingga Ia memilih berjalan santai di taman belakang rumah Yasmin.
"Yasmin, kau belum tidur?...."ucap Yusra saat melihat Yasmin tengah duduk di kursi taman.
"Ooh.....Kak Yusra....Aku tidak bisa tidur...." jawab Yasmin gugup. Yusra pun duduk di sebelah Yasmin dan mereka kembali diam dengan pemikiran mereka masing-masing. Yasmin yang merasa sangat gugup memilih untuk segera pergi namun Yusra menahannya.
"Bisakah kamu di sini....Aku....ingin bicara..." ucap Yusra gugup memegang tangan Yasmin. Seolah terhipnotis Yasmin mengikuti apa mau Yusra dan duduk kembali di sebelah Yusra. Yusra yang baru sadar bahwa Ia memegang tangan Yasmin pun langsung melepaskannya. Kembali terjadi keheningan karena Yusra nampak gugup tidak tahu a memulai pembicaraan.
"Ku dengar.....kau....mengakhiri hubunganmu....dengan Adi..... Kenapa?..." tanya Yusra ragu. Yaamin terkejut Yusra bertanya mengenai masalah pribadi seperti ini karena biasanya Yusra tidak suka membicarakan hal yang tidak berhubungan dengannya.
"Itu... karena... Aku.... tidak.... mencintainya....." jawab Yasmin gugup.
"Emm.... kau mencintai.... pria lain?..." tanya Yusra yang lagi-lagi membuat Yasmin terkejut serta bingung menjawabnya sehingga Ia hanya diam.
"Apa Aku tidak memiliki kesempatan?..." tanya Yusra lagi yang sontak membuat Yasmin menolehkan wajahnya menghadap Yusra.
"Ap....apa maksudmu?..." tanya Yasmin. Yusra menghela nafas dan sedikit tersenyum mencoba memberanikan diri mengatakan perasaannya.
"Aku..... menyukaimu.... bahkan mencintaimu.... sejak..... dulu..." Yasmin masih diam menunggu kelanjutan kalimat Yusra.
"Sejak pertama kali kita bertemu....Matamu indah.... senyummu manis.... Aku tidak bisa melupakannya sejak hari pertama Aku ke rumahmu.... karena itu... Aku selalu meminta untuk mengantarkan ayahku kemari walau sebenarnya bisa saja Ia bersama supir.... Diam-diam Aku selalu berusaha melihatmu jika kau berada di sekitar ku.... Awalnya Aku merasa kau juga menyukaiku.... karena Aku merasa kau juga memperhatikanku dan gugup saat bertemu denganku seperti Aku yang gugup saat bertemu denganmu....Tapi sepertinya perkiraanku salah karena ternyata kamu menerima Adi sebagai kekasihmu.... Aku berusaha melupakanmu.... tapi tidak bisa.... Sekarang setelah tahu jika kamu sudah tidak memiliki hubungan dengan Adi, Aku berharap Aku memiliki kesempatan....tapi sepertinya tidak....Yah setidaknya Aku sudah mencoba berani mengungkapkan perasaanku sebelum Aku pergi..... sekarang terasa lebih lega setelah mengatakan semuanya...." ucap Yusra melihat langit dan tersenyum lega walau ada perasaan sedih cintanya tak berbalas.
Yasmin masih diam tidak berkata apapun menatap Yusra dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru. Yusra masih belum berani melihat ke arah Yasmin karena Yasmin belum menjawab apapun. Dia terlalu takut dan malu dengan jawaban Yasmin.
"Kamu..... memiliki... kesempatan...." Yusra sontak menolehkan wajahnya terkejut dengan jawaban Yasmin.
"Karena..... Aku.... juga... mencintaimu..... sejak pertama bertemu....." lanjut Yasmin menunduk malu. Yusra masih tidak percaya sampai Yasmin juga menatapnya dan tersenyum. Mereka pun kembali tersenyum saat menyadari ternyata perasaan mereka sama. Hanya saja mereka juga sama-sama diam dengan perasaan cinta mereka.
Flashback end
"Aku merindukan saat-saat seperti ini..." ucap Yusra menatap Yasmin yang tengah menyetir.
"Apa?..." tanya Yasmin gugup dengan wajah memerah karena sedari tadi Ia sadar Yusra melihatnya.
"Saat-saat Aku secara diam-diam melihatmu...." ucap Yusra tersenyum mengingat saat-saat dia selalu melirik Yasmin diam-diam dimanapun bahkan saat mengajar Yasmin. Dulu Yusra terlalu gugup untuk melihat Yasmin langsung walau seharusnya Ia melihat Yasmin ketika menjawab pertanyaan Yasmin dan bukannya melihat teman Yasmin duduk di dekat Yasmin. Yasmin pun hanya bisa tersenyum malu mendengar perkataan Yusra.
"Namun sepertinya sekarang Aku tidak mau diam-diam lagi....karena Aku ingin lebih sering melihatmu...." Yasmin masih hanya diam dan tersenyum gugup dan malu mencoba tetap fokus menyetir.
"Kamu..... mau menikah denganku?...." Yasmin sontak menginjak pedal rem karena sangat terkejut sementara Yusra terkekeh geli dengan wajah terkejut Yasmin.
"Seharusnya Aku tidak mengatakannya disaat kamu tengah menyetir.... ini membahayakan....kkkk" ucap Yusra masih terkekeh lalu keluar untuk berputar dan mengajak Yasmin bertukar posisi. Saat berangkat dari bandara, Yasmin yang memaksa untuk menyetir karena khawatir Yasmin masih pusing karena jet lag.
"Tapi... Kaak...apa tidak apa-apa?.... "tanya Yasmin ragu.
"Tidak apa......dari pada kita kecelakaan karena kau yang tidak fokus menyetir...." gurau Yusra. Yasmin pun memarkirkan sejenak mobil kemudian keluar dari kursi penumpang dan menarik lembut So Eun keluar dari kursi pengemudi.
"Itu karena kamu banyak mengucapkan kata-kata yang membuatku gugup dan terkejut...." gerutu Yasmin. Wajar saja Yasmin banyak terkejut karena kini Yusra lebih berani mengungkapkan perasaannya dan tidak mudah gugup lagi berhadapan dengan Yasmin.
"Aku hanya ingin mengungkapkan isi hatiku..... aku tidak ingin diam lagi sehingga kamu nanti tidak memahaminya..." ucap Yusra lembut membuat Yasmin lagi-lagi tersenyum malu dan merona.
"Baiklah.... kalau begitu kita segera berangkat saja....mereka (keluarga Yasmin dan Yusra) sudah menunggu di rumah..." ucap Yasmin mengalihkan perhatian dan bersiap membuka pintu mobil sebelah pengemudi.
"Tunggu...." ucap Yusra sembari menahan Yasmin yang hendak membuka pintu.
"Kenapa Kak?..." tanya Yasmin bingung.
"Boleh Kakaak....memelukmu?..." tanya Yusra ragu. Selama berpacaran 5 tahun ini mereka belum pernah melakukan skinship karena hubungan mereka yang dimulai saat Yusra akan pergi ke Amerika. Mereka hanya bisa bersalaman karena terlalu malu dilihat oleh keluarga mereka yang ikut mengantar Yusra ke bandara.
"Kakak takut jika nanti sudah bersama keluarga kita....kita akan sulit melakukan skinship...." lanjut Yusra mengatakan pikirannya. Setelah beberapa menit akhirnya Yasmin pun mengangguk gugup dan malu. Yusra yang melihat Yasmin mengangguk setuju segara menarik Yasmin lembut ke dalam dekapannya.
"Aku merindukanmu..... sangat.... berkirim pesan tiap hari denganmu membuatku semakin merindukanmu.... Aku mencintaimu...." ucap Yusra penuh binar bahagia tetap memeluk Yasmin erat seolah enggan melepaskan.
"Walau Aku sering diam tanpa mengucapkan perasaanku....Kak Yusra yakinlah dalam diamku itu tersimpan perasaan cinta yang besar untuk Kak Yusra...." jawab Yasmin pelan kemudian menyembunyikan kepalanya di d**a Yusra karena malu dengan perkataannya yang justru membuat Yusra tersenyum lebar.
"Aku tahu.....Aku juga mencintaimu...."ucap Yusra lagi kemudian mereka hanya diam dalam pelukan hangat orang tercintanya.
The End