22. Kampus

1429 Kata

Sejak pulang dari rumah ibunya, aku rasa Lazio berubah pendiam. Dirinya yang biasanya berisik dan terus mengganguku kini seperti tak peduli. Padahal aku berusaha menarik perhatiannya sejak semalam. Mencari bahan obrolan supaya bisa menemaninya yang sedang galau. Tapi Lazio menarik diri dan malah tidur di ruangan lain. Pagi harinya, aku berusaha supaya dia mengganguku seperti biasa, pura-pura mencari buku sebelum berangkat ke kampus. Namun, dia tetap tidak peduli dan melengos begitu saja. Wajahnya murung, sering ke balkon dan memandang langit sembari minum wine. Ntah apa yang dia pikirkan, mungkin Mamanya. Aku tidak tahu bagaimana hubungan keluarga mereka, satu hal yang pasti, mereka kini berbeda keyakinan. Bisa jadi Mamanya menuduhku membuat Lazio memeluk Islam. Padahal itu kan piliha

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN