23. Bulu Ayam

1658 Kata

Aku masih bertatapan dengan Lazio, orang yang sibuk seperti dia mau datang ke sini hanya untuk menjemput. Itu terasa sangat aneh. Kita makan bersama saja belum pernah karena dia terlalu sibuk dan sering membiarkanku berkeliaran sendirian. "Dia siapa Zey?" tanya Kyla. Aku bingung memperkenalkan Lazio yang mirip preman, bukan malu hanya kontras saja. Ditambah orang-orang tahu bahwa calon suamiku adalah Mas Umar yang berpenampilan sopan. "Ah dia itu--" Aku membasahi bibir. "Ah, kakak sepupumu yang katanya tinggal di Jakarta itu ya?" tanya Kyla. "Eh, itu--" "Kamu nggak usah malu Zey, meskipun penampilan Kakak sepupumu kayak preman, tapi keren dan ganteng kok. Kayak aktor Korea." Kyla mengulurkan tangan, sorot matanya terpesona dengan Lazio. Meskipun sahabatku ini berhijab, tapi di

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN