Aku membuka mata, melirik ke samping. Tak ada Lazio. Aku merangkak, melihat ke lantai. Ternyata dia ada di sana. Tiga jam lalu, Lazio menindihku. Memaksa melayaninya. Hanya tangis yang bisa aku berikan, sikapku serba salah, menolak dosa tidak menolak tersiksa. Apalagi jika permainannya kasar seperti waktu itu. Ini rumah orang tua ku, tidak mungkin aku teriak seperti di hotel. Mereka pasti khawatir. Apalagi urusan gituan adalah privasi. "Sebenernya apa yang kamu inginkan dariku?" gumamku menyangga kepala. Menatapnya yang tidur di bawah beralaskan selimut. Aku pikir tadi dia sungguh ingin melakukannya lagi, saat aku terisak tangannya menutup mataku dan mencium bibir. Mengigit bibir bawah hingga aku membuka mulut, lidahnya bermain-main di sana sampai kami kehabisan napas. Setelah it

