Mata mereka bertatapan, Lazio memalingkan wajah sembari mengusap kasar. Tidak bisa berdebat dengan Zeya, kondisi wanita itu belum stabil. "Aku sudah bilang pada Abahmu, kita akan ke rumahnya minggu depan." Lazio berbalik dan keluar dari kamar, masih belum bisa mengucap kata maaf. Tidak tahu kenapa, mulutnya tercekat. Pintu ditutup dengan keras. Lazio tahu bahwa dia biadab, dia yang salah tapi enggan minta maaf dan malah marah. Egonya sangat tinggi. Tidak bisa mengakui kesalahan di depan Zeya. Sejak hari itu, Zeya tak berkata apapun. Kegiatannya tetap sama setiap hari. Dia keluar untuk ke kampus dan latihan. Pulang makan dan tidur. Jarang bertemu Lazio, lebih tepatnya Lazio menghindarinya. Hubungan mereka sangat canggung hingga Lazio bingung cara mencairkannya. Dia belajar agama pa

