29. Nasihat

1634 Kata

Bidadari di hadapannya bergeming, pandangan tetap kosong sekuat apapun Lazio berusaha menyadarkan. Membuat rasa takut menjalar di setiap urat nadi. "Aku mohon bicaralah, kau boleh marah atau memukulku." Lazio beralih ke hadapan Zeya, menarik tangannya supaya duduk, memegang kedua bahu dan menatapnya lekat. "Zeya.... aku minta maaf, sungguh aku hilaf. Aku hanya takut kamu direbut pria lain." Lazio memeluknya erat, wanita itu tetap diam tanpa kata. Tidak peduli apapun yang Lazio katakan atau lakukan. Dia tidak merasakan apa-apa. "Kau pasti kesal karena aku melakukannya dengan kasar, apa kau ingin aku mengulangi dengan lembut?" Lazio memiringkan kepalanya, mencium bibir Zeya. Mengigit bibir bawah hingga memasukkan lidahnya ke sana. Mengeksploitasi mulut Zeya. Setelah menyentuh Ze

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN