Aku tidak tahu yang dimaksud membuat Siluet menjadi lebih baik, di film yang aku tonton, mafia selalu membunuh dan melukai orang lain. Bagian mananya yang bisa lebih baik? Apa mafia tetap bisa disebut mafia tanpa membunuh?
Memang dia berharap apa padaku? Mengajari para tukang pukul ngaji? Aku belum pernah mendengar mafia versi syariah. Aku hanya wanita biasa, penuh rasa malu dan kekurangan maka dari itu menggunakan cadar.
Beberapa saat setelah Lazio pergi, aku berjalan ke jendela, membuka tirainya sedikit dan melihat Lazio berada di bawah. Dia memakai kacamata sebelum masuk ke dalam mobil. Angin berembus kencang menerpa wajahnya yang tampan.
"Dia sungguh meninggalkanku sendiri," gumamku setelah mobil yang dia naiki berjalan meninggalkan halaman.
Meskipun dia penipu, tapi di sarang kriminal ini hanya dia yang aku kenal. Tubuhku tiba-tiba merinding. Menoleh ke pintu, takut ada yang masuk dan melakukan tindakan tidak pantas padaku.
"Aku harus punya senjata."
Sebelum aku mencari senjata, perutku berbunyi lebih dulu. Lapar. Mataku melirik ke meja.
"Senjata yang paling utama adalah punya tenaga."
Kata Lazio semua makanan ini halal, dia yang menjamin. Aku tidak ada pilihan selain percaya, kalau aku ingin keluar dari sini. Hal yang harus aku lakukan pertama adalah bertahan hidup.
Aku segera menghabiskan sarapan dengan lahap, menoleh kanan dan kiri takut ada yang melihat dari CCTV. Membuka cadar dan sedikit bersantai.
CCTV aman, jendela aman, pintu aman. Aku menjamin tidak ada yang bisa masuk. Setelah sarapan aku mencari benda yang bisa dijadikan senjata.
"Tanpa pistol, aku hanya gadis biasa." Aku mendesah berat, berusaha memisahkan gagang penyangga kelambu. Tidak bisa, terlalu berat.
Aku memeriksa benda lain, sepertinya tempat ini sengaja dibereskan sebelum aku datang. Tidak ada benda berbahaya yang bisa dijadikan senjata.
Aku menjatuhkan diri di sofa setelah satu jam mondar mandir tidak menemukan benda apapun, tidak ada ponsel ataupun laptop.
"Aku sungguh dikurung," ucapku. Melihat langit-langit. Ada lampu kristal di atas.
Ada televisi di dinding, sangat besar hingga seperti bioskop. Aku mengambil remot dan menyalakannya. Muncul wajah Lazio yang membuatku terkejut.
"Hay sayang, kamu pasti bosan. Aku harap kamu sabar dan tidak melakukan apapun sampai suamimu ini pulang, kau tahu, di luar sangat berbahaya."
Melihat itu Zeya menyipitkan matanya, sangat kesal hingga rasanya ingin melempar televisi menggunakan gelas.
"Aku ingin keluar," kataku.
Layar televisi yang menampilkan Lazio kembali berbicara. "Kau bisa menonton drama, membaca buku, juga meminta makanan apapun pada tukang pukul yang berjaga di luar kamar."
"Aku ingin pistol," ucapku lagi.
"Kau tahu sayang, gerakanmu saat memegang pistol kemarin sangat keren, tapi saranku jangan mencoba mengambil pistol lagi, karena para tukang pukul tidak akan mengampunimu jika melakukan hal yang berbahaya."
Mendengar itu aku memutar bola mata, raut wajahku sangat kesal. Seolah sedang berbicara dengan Lazio secara langsung.
"Kau pikir aku takut?" tanyaku.
Setelah melihat para tukang pukul berbadan besar semalam, kemampuan menembak dan kesigapan mereka. Mencoba kabur dan ketahuan, aku pasti mati.
"Benar, aku takut."
Aku kembali duduk, sekali lagi melihat langit-langit yang terdapat lampu kristal. Aku ingin tahu letak rumah ini untuk mencari celah melarikan diri. Sayangnya aku terlalu takut keluar kamar sekarang.
Jika ada Lazio, aku masih berani tanya ini itu, mengancam dan menggertaknya. Namun para tukang pukul di luar sana tidak akan melakukan tindakan yang sama. Bisa jadi aku langsung dibunuh jika macam-macam.
Aku ingat ucapan guruku untuk mencari celah di saat penting, menyusun rencana matang dan tidak bertindak gegabah.
"Aku harus cari cara kabur dari sini," ucapku. Berdiri tegak.
Aku menuju rak buku, melihat apakah ada informasi berguna. Semua buku di sini berbahasa inggris.
Kepalaku malah pusing membaca tulisan kecil-kecil berbahasa inggris, Spanyol dan Rusia, selebihnya aku tidak tahu bahasa apa. Tak ada satupun yang memakai bahasa indonesia.
"Katanya aku disuruh baca buku, dia mau merendahkanku dengan ngasih buku kayak gini."
Aku menaruh buku-buku itu kembali ke rak, tidak ada informasi apapun dari sana. Satu-satunya cara adalah menunggu malam dan melarikan diri lewat jendela.
"Setidaknya aku harus mencoba, berdiam di sini tidak ada jaminan selamat."
Lazio tidak akan mengizinkan aku keluar dengan mudah, dia akan membuatku terjebak di sini untuk menjadi istrinya.
Hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah mempersiapkan rencana kabur nanti malam, berjalan menuju jendela, memperkirakan tinggi lantai ini dan apa yang bisa digunakan untuk turun.
Siang hari aku minta makan steak sapi. Tak lama kemudian pelayan datang, tak hanya membawa steak tapi juga beberapa makanan enak lainnya.
"Ngapain kalian di sini, aku ingin makan." Aku menggertak tukang pukul yang mengawasiku makan.
Dia melihat pisau, seperti mengisyaratkan bahwa aku tidak boleh ditinggal sendiri ketika ada benda tajam.
"Saya harus mengawasi anda, silakan makan."
"Aku nggak bisa makan kalau diawasi kayak gini," kataku. "Kau pikir aku akan bunuh diri pakai pisau? Aku punya agama, nggak mungkin aku melakukan itu. Jadi sekarang keluar atau pilih aku mati kelaparan."
Tukang pukul itu terlihat ragu, saling lirik dan akhirnya menunduk padaku sebelum meninggalkan kamar.
Setelah mereka pergi, aku mengambil daging dan memakannya tanpa sendok dengan cepat. Aku mengambil pisau dan bergegas menyobek selimut, sprei dan apapun yang bisa dijadikan tali.
"Harus cepat," ucapku masih menggigit daging.
Satu jam kemudian pintu diketuk, aku segera menyembunyikan calon tali dan duduk kembali, menghabiskan makanan dan pura-pura tidak melakukan apapun selain makan.
Dua tukang pukul kembali, melihatku makan dan tak curiga.
"Aku udah selesai," ucapku meletakkan pisau dan garpu.
"Kami akan membawa ini keluar, Nyonya."
Dua tukang pukul membawa troli makanan yang sudah kosong keluar, aku menyembunyikan beberapa potong roti dan buah di tas. Tidak ada yang tahu di pelarian ku nanti ada apa, jadi harus antisipasi.
Malam harinya aku mendapat makanan lagi, kali ini kepiting besar, aku makan dengan lahap, harus mengisi energi sebelum melarikan diri.
Pukul sembilan malam aku bersiap, memakai celana kulot, hijab terusan dan masker hitam ganti cadar. Memakai tas punggung kecil berisi makanan, beberapa potong baju dan garpu sebagai senjata.
Aku melihat diri ke cermin, memang tidak nyaman memakai masker dan bukan cadar. Aku memakai cadar sebagai bentuk rasa malu sebagai wanita dan menjaga diri dari pandangan pria.
Setelah perlengkapan siap, aku membuka jendela dan menurunkan tali dari kain yang sudah aku ikat, aku pernah ikut pelatihan damkar dan tahu cara mengikat tali supaya ada pijakannya. Tak menyangka sekarang berguna.
Lantai ini tidak terlalu tinggi, mengarah ke halaman samping. Suasana di luar tampak sepi. Aku melirik jam, sudah pukul sebelas malam.
"Bismillah." Aku mulai turun perlahan. Beruntung lantai di bawah kamar ini tembok, jadi tidak ada yang lihat tali bergelantungan.
Sesampainya di bawah aku mengeluarkan dua garpu sebagai senjata, mengendap-endap dari semak satu ke semak-semak yang lain. Mencari jalan keluar, melihat CCTV sebelum melangkah.
Sudah cukup berjalan aku belum menemukan pintu keluar, napasku terengah-engah dan bersembunyi di semak-semak. Sebenarnya seberapa luas tempat ini?
Tiba-tiba ada seseorang yang berbisik padaku, "kamu sedang apa?"
Aku oleng ke samping saking terkejutnya, seorang pria berjongkok di sampingku, tidak seperti tukang pukul, memakai kacamata dan wajahnya familiar.
"Ka... kamu..."
Pria itu tersenyum dan mengulurkan tangan. "Aku Esen. "
Benar, dia adalah Esen pengusaha genius abad ini. Namanya ada di semua media masa. Berusia 30 tahun, pemilik perusahaan PowerSil group, bank PS dan brand terkenal PS. Sedang apa dia di sini? Apakah dia juga diculik?
Aku melihat di belakangnya, tak ada siapapun.
"Apa kamu juga sedang melarikan diri dari sini?"
Esen tersenyum simpul dan menelengkan kepala, ia menarik kembali tangannya. Kemudian perlahan mengangguk.
Aku segera menariknya bersembunyi, melihat kanan kiri. Tak ada siapapun.
"Aku akan membantumu keluar, jadi ikuti aku." Aku berbicara sangat meyakinkan, sementara Esen malah menahan tawa.