9. Menjadi Baik

1016 Kata
Aku menekuk lutut, menangis hingga membasahi gaun pengantin yang tadi kubanggakan. Kamar ini sangat luas hingga tak terlihat ujungnya. Awalnya kupikir ini bukan kamar, hingga terlihat satu ranjang di tengah. Ponselku diambil, tidak diizinkan menghubungi orang tuaku atau pun memanggil polisi. Sekarang posisiku seperti seorang tawanan. Aku sama sekali tidak menyangka menikah dengan pemimpin Siluet, kupikir Lazio pengusaha kaya biasa. Aku berharap banyak padanya yang terlihat menyukaiku sejak pertemuan pertama. Tak disangka dia membawaku dalam kegelapan tak berujung. "Aku ingin pulang...." Aku menangis dalam diam. Di luar pintu ada banyak tukang pukul, aku takut. Tadi pistol sudah di tangan, satu tarikan bisa menghabisi Lazio. Tapi aku tidak tega, aku belum pernah membunuh orang meskipun sering memegang pistol. Aku sangat lemah dan tidak berdaya, aku benci hal itu. Meskipun berhasil membunuh Lazio, tidak ada jaminan aku bisa keluar dari tempat ini dalam keadaan hidup. Puluhan tukang pukul bisa saja melakukan hal keji padaku. Azan subuh terdengar, merdu masuk ke telinga. Aku mengusap mataku yang sembab, menoleh ke kanan dan kiri. Di ujung ruangan ini ada CCTV. Aku tidak berani melepas cadar dan baju. "Kalian pasti ingin melihatku, kalian pikir aku akan menyerah? Aku punya Allah yang selalu bersamaku." Aku menatap CCTV itu dengan penuh kebencian. Selemah apapun diriku, aku tidak ingin menunjukkannya pada mereka. Lazio dan kawan-kawannya pasti sedang menertawakan keadaanku sekarang. Aku menarik kursi dan menutup CCTV menggunakan tudung meja. Mereka ingin melihat wajahku, tak akan kubiarkan. Mungkin karena kebanyakan menangis dan tidak tidur, kepalaku jadi sakit. Sejak dimasukkan ke kamar ini, Lazio tidak menemuiku. Satu hal yang membuatku tenang, yakni pernyataan Lazio bahwa aku Nyonya rumah. Berarti para tukang pukul tidak bisa menyentuhku sembarangan. Aku melepaskan cadar setelah semua CCTV ditutup, membuka koper dan mengambil sikat gigi. Aku juga mengambil baju ganti. Sekarang yang paling penting adalah aku harus bertahan hidup apapun yang terjadi. "Aku harus segera menghubungi polisi atau nggak Coach Justin." Coach Justin merupakan pelatihku, dia yang memberitahu tentang Siluet. Kami dekat seperti ayah dan anak. Dia satu-satunya pelatih yang tidak mempermasalahkan cadar. Coach Justin juga yang mengupayakan agar aku bisa ikut PON mewakili Jawa Timur, dia orang yang sangat baik. Jika tahu aku dikurung di sini, beliau pasti melakukan segala cara untuk menolongku. Aku mengusap air mata dan masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan mengambil wudhu. Sekarang aku menyesal karena tidak memiliki kemampuan bela diri. Tanpa pistol, aku tidak berdaya. "Ya Allah, aku menganggap ini ujian darimu, tolong bantu hamba melewati ini semua." Aku menutup shalat subuhku dengan doa, wiritan dan shalawat. Aku tidak ingin menyesal, tapi aku hanya manusia biasa. Ada pikiran terlintas andaikan aku tidak buru-buru menikah. Mungkin semua ini tidak terjadi. Selesai shalat aku memakai cadar kembali dan membereskan mukena, menuju koper di samping sofa. Langkahku terkejut melihat Lazio duduk di sana. Tak tahu kapan dia masuk. Di meja sudah ada sarapan. Roti, s**u dan buah. Juga wine dan gelasnya. Lazio terlihat sangat santai, dia sudah ganti baju. "Aku berusaha keras untuk lembut padamu, duduklah." Kalimat Lazio seperti ancaman, kalau aku tidak menurut dia akan memakai kekerasan. Saat ini tubuhku sedang ketakutan. Tidak bisa melangkah sedikitpun. Mataku panas. Rasa kecewa dan takut bercampur menjadi satu, semua penilaianku tentangnya berubah 180 derajat. "Keluarkan aku dari sini, aku janji tidak akan menceritakan hal ini pada siapapun." Lazio menelengkan kepala, ia mengambil botol wine dan menuangkannya di gelas kaca. Sedikit menggoyangkannya sebelum diminum. "Aku akan memberimu waktu menyesuaikan diri, aku tidak akan menyentuhmu tanpa persetujuan, jadi berusahalah mencintaiku dan menjadi nyonya besar di sini." Dia gila. Tidak mungkin cinta muncul lewat jalan pemaksaan seperti ini. Aku hanya ingin kembali ke kehidupanku sebelumnya. Bukan istri bos mafia. Apalagi sebentar lagi aku akan bertanding di Asian games. Siska sebagai perwakilan Jakarta di ajang PON dan juara dua akan merebut posisiku. "Aku punya kehidupan, aku nggak bisa tinggal di sini." Lazio menenggak winenya lagi kemudian menatapku. "Bukankah kau bilang akan ikut kemana pun suamimu pergi?" Itu perkataanku sebelum mengetahui dia bos siluet. Uang haram, kekerasan, kriminal. Aku merinding membayangkannya. "Itu sebelum aku tahu kamu pemimpin kriminal. Kau pikir aku mau mendampingimu melakukan kekerasan di mana-mana, menjual narkoba, miras, organ dan senjata? Aku nggak mau sepeserpun makan uang harammu. Lebih baik aku mati kelaparan." Jujur sekarang aku lapar. Mendengar itu Lazio tertawa kencang, ia memegang perutnya dan meletakkan gelas wine di meja. "Hahahaha .... kau benar, Siluet memang seperti itu. Tapi itu dulu. Saat masih dipimpin Ayah dan kakak tiriku. Tapi sekarang jauh berbeda, Zeya. "Dengar, kami tidak lagi menjual barang murahan. Siluet sekarang tumbuh menjadi kekuatan raksasa yang kamu sendiri nggak bisa bayangkan. Bank yang kau gunakan, gedung-gedung yang kita lalui, penerbangan yang kita naiki, ponsel yang kamu pakai dan lain sebagainya. "Itu semua milik Siluet, ratusan ribu orang di seluruh dunia bekerja untuk Siluet, mereka menafkahi keluarga, apa kamu pikir itu haram?" Aku diam, belum mengerti Siluet yang dimaksud karena auh berbeda dari penjelasan Coach Justin. "Oke, mungkin kamu belum paham. Aku akan membiarkanmu beradaptasi. Nikmatilah sarapanmu. Ini halal. Aku jamin." Lazio berdiri, dia melipat kemejanya. Tampak di tangan yang semalam ditutupi jas penuh dengan tato. Lazio mendekat padaku, merentangkan tangan hendak memeluk. Aku mundur secara otomatis. "Jangan menyentuhku." "Oke, aku akan pergi ke Inggris selama dua hari. Kalau kau rindu, kau bisa menghubungiku lewat dua penjaga yang ada di depan kamarmu." "Aku tidak akan merindukanmu." Lazio tersenyum, mencondongkan tubuhnya menyeimbangkan tinggi kami. Mata kami bertatapan. "Baiklah, kalau gitu aku saja yang rindu." Dia mengedipkan sebelah mata. Aku memalingkan wajah, tidak suka dengan permainannya. Ketika Lazio hendak pergi, tiba-tiba pertanyaan terlintas di pikiranku. "Kenapa aku?" Mendengar pertanyaan itu Lazio berhenti, berbalik menatapku. "Dari sekian banyak wanita kenapa harus aku? Bukahkah seharusnya kau mencari wanita dari kalanganmu sendiri?" Lazio diam sejenak sebelum menjawab. "Karena aku ingin membuat Siluet menjadi lebih baik, aku tidak bisa membubarkan Siluet atau banyak orang yang akan kehilangan pekerjaan dan arah. Apa itu jawaban yang cukup?" Kali ini aku yang diam, jawabannya sangat serius sampai kupikir ini pertama kalinya aku melihat tatapannya yang seperti itu. "Sarapanlah, aku pergi dulu." Lazio pergi meninggalkan kamar. Aku masih mencerna semua ucapannya. Memangnya ada mafia baik di dunia ini? Apa dia sedang bercanda? bersambung
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN