Aku tidak dikekang, bahkan dibiarkan pergi sesuka hati, tapi rasanya seperti disandera karena tetap tidak bisa meninggalkan tempat ini. Wajah Lazio yang tersenyum dengan tatapan mengejek membuat kesal. Aku menghentakkan kaki dan masuk ke dalam rumah, tidak peduli koper yang masih berada di garasi mobil Elgar. "Nyonya, saya sudah menyiapkan makan malam." Kepala pelayan menghadangku, menunjuk meja makan yang berada di dekat kolam renang. Pria paruh baya itu tidak berniat pergi sebelum aku mengikutinya. "Aku nggak lapar," ucapku. Dibarengi dengan perut yang berbunyi akibat seharian tidak makan. Malu, malu dan malu. Aku menggigit bibir. Bisa-bisanya berbohong tapi tubuh tidak mau bekerjasama. Dua tukang pukul yang berdiri di samping tangga menahan tawa melihat kelakuanku. "Silakan

