Tatapan Lazio sangat dalam, aku memalingkan wajah, si bad boy ini bukan tipeku. Tidak bisa mengaji, shalat dan membimbing ke surga. Sekuat tenaga aku lari darinya hingga kaki bengkak, tapi Tuhan malah membawaku kembali. Jodoh adalah cerminan, apakah cerminanku memang orang seperti ini? Aku menggeleng cepat. Tidak boleh berpikir seperti itu, pernikahan penipuan bukanlah jalanku menemukan jodoh, kalau iya, lucu sekali. "Kenapa tertawa?" tanya Lazio. Dia sudah selesai mengobati kakiku. Mata kami bertatapan. "Nggak papa, tapi sampai kapan kamu biarin aku di sini?" "Semau kamu, aku tidak mengekangmu tinggal atau menyuruhmu pergi." Benar, dia melakukan itu. Tidak menyuruh tinggal atau mengusir pergi. Tapi kenapa aku tidak bisa menemukan jalan pulang? "Serahin hapeku, aku mau nelepon

