5. Tukang Tipu.

1162 Kata
Koperasi Mahasiswa itu terlihat lumayan ramai. Jam di dinding menunjukkan pukul 11.30. Sebentar lagi masuk waktu dzuhur. Namanya Bulan. Gadis manis berusia dua puluh lima tahun. Berpenampilan santun dengan gamis dan hijab syar’i yang setia dia kenakan. Bulan duduk di atas kursi tinggi menghadap layar monitor kasirnya. Bulan menengok jam di dinding. Bulan kemudian membalikkan badan. Kini dia berhadapan dengan gadis perempuan lainnya yang bernama Lathifa atau yang biasa dipanggil Ifa. Ifa adalah mahasiswa di Kampus tersebut. Ifa sendiri merupaka salah satu pengurus Kopma dan menjabat sebagai staf personalia. “Ifa.” Panggil Bulan. Yang dipanggil menoleh. Mengalihkan perhatiannya dari layar handphone yang sedari tadi dia mainkan. “Aku ke Bank dulu ya? Mau tuker uang sebentar. Kalau harus ke atas ke keuangan aku males naiknya. Mana baru haid hari pertama.” “Oke Mbak Moon.” Ifa mengiyakan. Ifa memang orangnya unik. Selalu memberi nama panggilan ke orang-orang sesuka hatinya. Alasannya biar beda dari yang lain. Seperti ini contohnya. Memanggil Bulan dengan panggilan Moon. Bahasa inggris dari Bulan itu sendiri. “Siip.” Bulan mengacungkan kedua jempolnya sambil tersenyum. Bulan kemudian turun dari singgsananya. Mengambil beberapa uang lembar seratus ribuan. Bulan sehari-harinya bekerja sebagai kasir di salah satu Koperasi Mahasiswa Universitas Negeri di Kota Yogyakarta. Letak Koperasinya berjejer dengan beberapa Bank. Bank yang digunakan untuk para mahasiswa membayar segala keperluan administrasi kampus. “Ini Mbak Bulan.” Ucap teller perempuan yang menggunakan name tag bertuliskan nama Betari Ayu Kusumawardani. Menyodorkan beberapa lembar uang pecahan sepuluh, lima, dan dua ribuan. “Alhamdulillah. Terima kasih Mbak Ayu.” Ucap Bulan. “Sama-sama. Masuk shift pagi Mbak?” “Iya.” Jawab Bulan mengangguk. “Kok bukan Bu Retno yang tuker uang?” “Hehe, uang pecahan ku di kasir habis. Aku baru males banget kalau harus naik tuker uang. Baru haid, jadi dikit-dikit capek.” “Oalah, baik, baik. Get well soon ya.” “Aamiin, makasih lho doanya. Duluan ya, dadaah.” Pamit Bulan sambil melambai-lambaikan tangannya. Bulan kemudian membuka pintu Bank. Namun belum sempat menutup pintunya, tiba-tiba, GUBRAK Lembaran demi lembaran kertas bergambar design rumah berhamburan. “Astaghfirullah!” Pekik Bulan sedikit kaget karena melihat laki-laki terjatuh dan kini terduduk di lantai. “Aduh! Maaf mas. Saya kurang hati-hati.” Ujar Bulan. Bulan lalu berjongkok dan membantu meraih lembar demi lembar kertas yang berhamburan kemana-mana. Syukurnya tidak ada angin yang berhembus. Kalau ada, wah, akan susah mengambilnya. “Enggak apa-apa.” Ucap santai laki-laki itu masih menunduk, memunguti juga kertas-kertasnya. Laki-laki itu kemudian berdiri. Dan betapa kagetnya Bulan Ketika mendongak, mendapati laki-laki itu bertubuh tinggi dan tegap. Ternyata oh ternyata, lelaki yang di hadapannya kini adalah laki-laki yang kemarin Bulan sangka sebagai penipu di toko merah. Ya, laki-laki ini adalah Fatra. “Kamu..?” gumam Fatra pelan menunjuk wajah Bulan. “E.. em..” gumam kehabisan kata-kata. Masih teringat jelas wajah judesnya kemarin saat mereka memperdebatkan kantong plastik yang benar-benar tertukar. Bulan menundukkan wajahnya, lalu menyodorkan lembaran-lembaran milik Fatra tanpa melihat wajahnya. “Ini. Kalau jalan hati-hati, Mas. Lihat jalan. Biar enggak nabrak orang.” Uajr Bulan. “Hah? Apa kamu bilang?” Fatra lalu menyambar lembaran gambar kerjanya dari tangan Bulan begitu saja. “Belum ada lima menit kamu bilang, kalau kamu yang salah karena kurang hati-hati, sekarang kamu malah nyuruh saya hati-hati dan lihat jalan?” Fatra bersedekap, “Waaaah.. kemarin ngatain saya tukang tipu, sekarang ngatain saya nabrakin orang. Ckckck.” Fatra menggelengkan kepalanya. Tak habis pikir dengan perempuan yang ada di hadapannya ini. Tanpa pikir panjang, Fatra langsung melangkah meninggalkan Bulan. Bulan lalu melihat punggung Fatra yang kian menjauh itu. “Kenapa juga harus ketemu dia lagi? Dasar. Mas-mas judes!” Saat hendak ingin melangkah, tiba-tiba pandangan Bulan menangkap sebuah benda mirip kartu yang tergeletak tidak jauh dari kakinya. Bulan menyipitkan matanya, memastikan benda apa itu. Perlahan Bulan membungkukkan badan dan mengambil benda tersebut. Benar saja itu sebuah kartu. “Fatra Lukman.” Gumam Bulan membaca nama yang tertera di kartu identitas tersebut. Kedua bola mata Bulan terbelalak, saat melihat foto yang tertera di kartu identitas tersebut. Bulan segera membalikkan badannya. “Mbak moon mau sekalian istirahat enggak?” Tanya Ifa sesampainya Bulan dihadapannya. “Kayaknya enggak deh, Fa. Lagian aku baru enggak sholat juga. Mau di sini aja. Kemana-mana juga enggak nyaman.” Jawab Bulan sambil duduk kembali ke kursinya. “Oke deh, aku keatas dulu ya Mbak.” Ifa berpamitan. “Oke, makasih ya Fa.” “Sama-sama Mbakkuh.” Ifa kemudian melangkah pergi meninggalkan divisi swalayan. Bulan membuka laci kasir dan menaruh kartu identias yang dia temukan ke dalamnya. *** “Sory telat, ada miss tadi.” Ucap Fatra kepada Hakim sambil menyerahkan beberapa lembar kerja yang baru saja dia fotokopi. “Chill. Eh, tapi gua baru tahu kalau mau masuk ke lantai dua harus pake kartu identitas. Gua lupa gak bawa dompet. Padahal semua kartu-kartu disitu.” “Berarti gua aja ya yang masuk.” Ucap Fatra. Hakim mengangguk. Fatra kemudian merogoh saku celananya. Mencari kartu identitas dirinya yang tadi dia fotokopi sekalian. Saku kanan nihil, kemudian mencoba mencari ke saku satunya. Nihil juga. Kemana kartu identitas itu? Fatra bertanya keheranan sendiri didalam hati. “Kenapa, Tra?” hakim bertanya. “Sebentar.” Fatra masih terlihat sedang mencari-cari kartu identitas dirinya itu. “Kok, enggak ada ya Kim?” tanya Fatra. “Apanya yang enggak ada?” Hakim balik bertanya. “KTP gua.” “Lu bawa enggak dari tadi?” “Bawa, serius. Barusan gua fotokopi juga buat perpanjangan SIM.” “Ketinggalan di fotokopian jangan-jangan.” Hakim mencoba menebak-nebak. “Bisa jadi. Gua kesana lagi ya, bahaya kalau sampai hilang.” “Oke, gua tunggu disini.” Fatra tidak menjawab, hanya mengacungkan jempol kanannya. Fatra kemudian bergegas melangkah menuju tempat fotokopian tadi. Langkahnya lebar dan cepat karena badannya yang sangat tinggi. Sementara itu swalayan sudah nampak tenang. Tidak seramai tadi. Kalau sedang haid begini, mood Bulan mudah sekali berubah-ubah. Hawa malas gerak sangat mendominasi. Kini Bulan duduk menghadap pintu masuk Swalayan. Duduk dengan rasa malas dan lemas memenuhi tubuhnya. Tetapi tiba-tiba, Bulan menegakkan badannya. Kedua matanya melebar saat ada laki-laki yang bertabrakan dengannya tadi berjalan melewati swalayan. Dengan cepat Bulan menarik laci dan mengambil kartu identitas yang dia simpan. “Mas! Mas! Tunggu Mas!” Panggil Bulan setengah berteriak ketika dirinya sudah di luar swalayan. Oh tidak, yang dipanggil sama sekali tidak menggubris. Mungkin lebih tepatnya suara Bulan tidak tertangkap indera pendengarannya. Mau tidak mau Bulan mengambil langkah cepat mencoba kembali memanggil laki-laki itu. Setengah berlari Bulan sambil tetap berusaha memanggil laki-laki tersebut. “Mas! Mas Fatra!” Kali ini Bulan memanggil dengan sekuat tenaga. Sungguh, paru-paru Bulan saat ini terasa penuh dan sesak. Niat hati ingin bersantai-santai, tiba-tiba gagal karena dia harus mengejar seseorang. Langkah Fatra berhenti. Merasakan seperti ada yang memanggil dirinya. Fatra lalu membalikkan badan. Kedua mata manusia itu bertemu. Fatra melihat sosok perempuan di hadapannya. Perempuan yang tadi bertabrakan dengannya. Dan yang paling Fatra ingat jelas dari perempuan itu adalah, ketika perempuan itu mengatainya tukang tipu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN