6. Rumah dan Mama.

1083 Kata
“Ini. Sepertinya punya Mas.” Ucap Bulan mengulurkan KTP kepada Fatra. Fatra terdiam sejenak. Menatap kartu identitas miliknya. Lalu pandangan Fatra beralih menatap Bulan. Hening sejenak suasana diantara mereka. “Ehem!” Bulan sengaja berdaham. Karena di rasa tidak ada pergerakan dari laki-laki di hadapannya itu. Fatra terhenyak, sedikit tergagap. “O, oh. I-iya.” Fatra menerima KTP nya. “Mungkin terjatuh pas kita tabrakan tadi, di depan Bank.” “I-iya. Mungkin.” Fatra masih tergagap. Entah kenapa jantungnya berdegup lebih cepat. Nafasnya pun naik turun susah diatur. “Mari Mas.” Bulan pamit dan undur diri dari hadapan Fatra. “M-mbak!” Fatra spontan memanggil Bulan. “Iya?” Yang dipanggil membalikkan badan dan menjawab panggilan itu. “Emm, terimakasih” “Sama-sama.” Balas Bulan dengan menganggukkan kepala. Bulan kini benar-benar melangkah meninggalkan Fatra. Fatra masih diam di tempat. Pandangannya masih betah menatap gadis itu. Hingga Bulan kini sudah tidak terlihat lagi. Fatra berbalik. Namun entah kenapa bibirnya melengkung ke atas. Membentuk senyum tipis. Fatra masih terdiam di dalam mobilnya. Dipandangi rumah yang telah dia tinggalkan beberapa hari yang lalu. Rumah tempat dia tumbuh. Dari seorang anak, menjadi seorang kakak, dan kini telah menjadi lelaki dewasa. Rumah lantai dua yang berdiri kokoh itu dicat warna putih. Gerbang yang menjulang tinggi berwarna hitam. Fatra menyandarkan diri ke jog mobil. Matanya terpejam. Dihela nafas lalu dihembuskan. Entah kenapa, pulang ke rumah menjadi sesuatu yang kini berat untuk dia lakukan. Terlalu berat untuk hati dan kaki melangkah beriringan. “Oke. Jenguk Mama terus pulang.” Ucap Fatra membuka mata. Dibukanya pintu mobil, kemudian dia langkahkan kakinya memasuki pelataran rumah. “Eh, Mas Fatra!” Ucap Mbak Mirah sesaat setelah membuka pintu rumah. Mbak Mirah adalah asisten rumah tangga yang dipekerjakan oleh Nyonya Andri, Mamanya Fatra. “Iya Mbak. Mama ada?” “Ada. Sini Mas, masuk.” Mbak Mirah mempersilakan. “Mama dimana Mbak? Biar aku samperin.” “Ada di kamar. Barusan saja habis makan. Alhamdulillah mau makan Mas. Dari kemarin Ibu bener-bener susah kalau diajakin makan. Sampai bingung saya harus gimana bujuknya.” Sedikit Mbak Mirah bercerita. “Aku langsung ke kamar Mama kalau gitu.” “Nggih Mas Fatra. Monggo.” Langkah demi langkah Fatra jajaki. Kamar Nyonya Andri berada di lantai dua. Fatra menaiki anak tangga satu per satu sambil memandangi foto-foto keluarga yang menempel cantik di tembok. Foto Fatra bersama Mama, Papa, dan ke dua adiknya. Dan kini di foto terakhir. Yaitu foto Fatra bersama Papanya. Di foto itu Fatra berusia lima tahun. Fatra digendong di atas ke dua bahu Papanya. Berlatar belakang Pantai di saat pagi hari. Begitu lepas tawa Fatra di foto itu. Pun tawa Papanya. Dengan pose ke dua tangan yang diangkat sangat jelas kentara Fatra sangat bahagia. Kini Fatra sudah berdiri tepat di depan kamar Sang Mama. Perlahan tangannya menyentuh gagang pintu. CEKLEK “Ma.” Panggil Fatra. Nyonya Andri terhenyak. Lamunannya buyar seketika. Suara yang beliau rindukan kini terdengar dekat. Nyonya Andri sedang duduk bersandar di kursi goyangnya. Duduk menghadap jendela kamar yang langsung menyuguhkan pemandangan hijau dari sawah para petani. “Fatra boleh masuk?” Tanya Fatra berhati-hati. Nyonya Andri perlahan menoleh ke sumber suara. Tubuh Perempuan itu terbalut daster Panjang rumahan bermotif batik. Syal lembut berwarna abu-abu bertengger manis di lehernya. Tanpa kata Nyonya Andri mengangguk pelan. Senyum tipis terukir di sudut bibir Fatra dengan tatapan lembutnya. Dicium tangan Sang Mama. Nyonya Andri masih terdiam, namun kali ini garis wajahnya melunak. Tidak sekeras terakhir kali mereka bertemu kemarin. “Mama sudah makan?” “Sudah.” Jawab Nyonya Andri lirih. “Fatra enggak bohongkan? Fatra pulang.” Tangan kanan Nyonya Andri terangkat ke udara. Beliau daratkan di pipi anak laki-lakinya itu. Mengusap pelan dengan kasih sayang. “Maafkan Mama.” Kedua mata Nyonya Andri kini berkaca-kaca. Fatra menggeleng. Dipegangnya tangan Sang Mama yang masih setia di pipinya. “Enggak Ma. Mama enggak perlu minta maaf. Mama enggak ada salah sama Fatra.” Balas Fatra menjawab permintaan maaf Mamanya. Tanpa aba-aba Fatra langsung menarik Nyonya Andri ke dalam pelukannya. Diusap-usap lembut punggung perempuan paruh baya itu. Nyonya Andri pun membalas pelukan Fatra, dan kini sangat jelas terdengar suara isak tangisnya. Tangis karena rindu, dan kini rindu itu sudah terobati. “Mama hanya mikirin perasaan Mama. Mama hanya mengkhawatirkan diri Mama sendiri. Mama yang membuat rasa cemas dan pikiran-pikiran buruk itu menguasai Mama.” Ucap Nyonya Andri kepada Fatra setelah perasaannya sudah mulai tenang. Kini Fatra dan Nyonya Andri sedang duduk berdua di Taman Belakang rumah. Taman yang di penuhi dengan pot-pot berisikan bunga mawar dan anggrek. Setelah meninggalnya sang suami, Nyonya Andri menyibukkan diri dengan menanam berbagai tanaman. Namun yang paling di sukai adalah menanam bunga. Bunga apa saja, selama masih ada tempat, akan Nyonya Andri buatkan tempat untuk menjadi penghuni taman belakangnya. “Kemarin adik-adik mu cerita, kalau mereka datang ke unit mu. Mereka juga cerita ada sedikit kesalah-pahaman.” Nyonya Andri sedikit terkekeh di kalimat terakhir. Begitu juga dengan Fatra. Teringat bagaimana kedua adiknya kemarin pingsan bersamaan hanya karena dugaan yang melenceng jauh. “Ya gitu, Ma. Fatra sampai malu sama Hakim. Mama sekarang percaya kan, kalau Fatra enggak aneh-aneh?” “Harusnya Mama yakin dan percaya dari dulu. Enggak kemakan omongan tetangga. Hehe” “Makanya, jangan sering-sering kumpul-kumpul yang enggak jelas. Jangan kumpul-kumpul kalau enggak ada manfaat dan faedahnya. Mending jalan-jalan sama Mbak Mirah tuh.” “Jangan! Mirah itu kalau diajak jalan-jalan, jajannya banyak. Bisa tekor nanti Mama.” Fatra dan Mamanya tertawa bersama. Tawa yang pecahnya memenuhi taman belakang rumah itu. Dari balik tembok, Rani dan Ara ikut merasakan kebahagiaan tawa Mama dan Kakaknya. Bahagia karena melihat orang-orang kesayangan mereka, yang kemarin menjauh kini berbaikan lagi. Rani dan Ara kemudian melangkah pergi dengan senyum yang belum pudar dari bibir mereka. Fatra menarik laci nakas di samping tempat tidurnya. Laci paling bawah. Satu per satu Fatra keluarkan buku-buku yang lumayan tebal. Setelah buku terakhir, kini yang tersisa hanya sebuah amplop cokelat dengan kancing dan tali berwarna tipis berwarna merah. Fatra duduk di tepi ranjang. Dibukanya putaran demi putaran tali amplop tersebut. Setelah itu, ditariknya dari dalam selembar foto. Foto bergambar dirinya bersama seorang perempuan. Foto di mana dirinya terlihat jelas bahagia. Fatra dan perempuan itu mengenakan pakaian yang sama. Sweeter lengan panjang berwarna ungu muda. Fatra merangkul perempuan itu dengan tawa lebar di bibirnya. Dan perempuan itu juga terlihat bahagia dengan merangkul pinggang Fatra. Foto dengan latar belakang bertuliskan Pantai Drini. Terlihat begitu indah. Tetapi indah pada masanya. Namun sekarang meninggalkan luka yang mendalam untuk Fatra.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN