Mentari tampak meninggi ketika Robin
menuju ke warung Mpok Ijah. Ia jadi bimbang antara menyelesaikan masalahnya kebakaran pengepul dulu atau melindungi Nabilah.
"Aku tidak boleh pergi, pasti pelaku sedang menunggu diriku lengah," batin Robin sambil terus memikirkan caranya.
Ternyata di warung Mpok Ijah ada Supri dan Udin sedang minum kopi, sambil membahas musibah kebakaran dan perusakan itu.
"Kasihan Bang Robin sudah pengepul kebakaran, kontrakannya pun dirusak orang. Untung dia dan Nabilah tidak apa-apa," ujar Udin yang merasa miris membayangkan musibah itu.
"Syukurlah kalau Bang Robin dan istrinya selamat, kalau harta benda bisa dicari lagi," ujar Mpok Ijah mengomentari cerita Udin.
Supri ikut pun menimpali, "Iya Mpok, bahkan Bang Robin harus bayar ganti rugi sama pemilik kontrakan. Sudah jatuh tertimpa tangga pula."
Mereka langsung terdiam ketika melihat kedatangan Robin sambil membawa sebuah tas ransel besar. Seolah menanggung beban hidup yang cukup berat.
"Kopinya satu, Mpok!" pinta Robin sambil duduk di sebelah Supri dan Udin.
"Bang Robin, tinggal di rumah saya saja dulu. Kebetulan istri dan anak saya sedang pulang kampung!" Supri menawarkan tempat tinggal.
"Hemm." Robin kemudian mengambil sebungkus roti coklat untuk sarapan.
"Terima kasih, tapi kalau bisa tolong carikan saya kontrakan kosong saja!" pinta Robin yang mulai mencari tempat tinggal baru.
"Setahu saya untuk kontrakan tiga petak penuh semua Bang, tapi kalau satu rumah ada. Persis di depan rumah Nabilah, kalau tidak salah sebulannya satu juta dua ratus," ujar Udin memberitahu.
Robin tampak berpikir sejenak sebelum memutuskan. Ia tidak boleh salah langkah lagi agar kejadian yang sama tidak terulang kembali.
***
Mentari mulai menyingsing ke ufuk barat, dedaunan pohon mangga tampak berguguran di halaman rumah Pak Jamal. Bu Asma terlihat sedang menyapu dan mengumpulkannya dengan menggunakan sapu lidi.
Tiba-tiba sebuah mobil pick up yang membawa perabotan rumah tangga berhenti di depan jalan. Bu Asma tampak tertegun sejenak, melihat siapa gerangan yang baru saja pindah ke rumah kosong itu.
Wanita paruh baya itu kemudian tersenyum simpul, ketika melihat Robin datang lagi ke rumahnya. Ia menatap dengan sinis seolah sedang menyambut musuh bebuyutan.
"Kasihan nggak ada kontrakan kosong ya. Pasti mau numpang tinggal di sini?" tebak Bu Asma seolah mentertawakan keadaan Robin yang sudah tidak punya apa-apa lagi.
"Nggak Bu, saya cuma mau jemput Nabilah," jawab Robin mencoba bersikap biasa saja.
Mendengar itu Bu Asma langsung meninggikan suaranya, "Saya kan sudah bilang jangan bawa Nabilah. Mau kamu ajak tinggal di mana anakku, kolong jembatan?"
Pak Jamal dan Nabilah langsung ke luar dari rumah.
"Ibu, jangan teriak-teriak seperti itu. Malu didengar tetangga!" seru Pak Jamal sambil menggeleng.
"Biarkan saja, supaya Robin itu sadar dan tahu diri!" sahut Bu Asma kembali.
Pak Jamal kemudian menatap Robin dan bertanya, "Ada apa?"
"Saya sudah dapat kontrakan Pak dan mau jemput Nabilah," jawab Robin mengutarakan maksud kedatangannya.
"Bukan Bapak tidak setuju, tapi lebih baik untuk sementara waktu Nabilah tinggal dulu di sini. Nanti kalau situasi sudah aman, baru boleh tinggal bersama kamu lagi ya!" ujar Pak Jamal dengan bijak.
"Ya sudah, nanti kalau ada apa-apa panggil saja. Saya ngontrak di rumah itu!" sahut Robin sambil menunjuk rumah kosong di depan mereka.
Pak Jamal tampak terkejut seraya berkata, "Oh kalau di situ ya sudah boleh bawa Nabilah sekarang!"
"Bilah bantuin bersih-bersih ya Bang?" tanya Nabilah dengan antusias sekali.
"Tidak usah, sudah dibersihkan sama Bang Supri dan Udin!" ujar Robin memberitahu.
Bu Asma langsung mencekal tangan Nabilah dan melarang, "Jangan, rumah itu sudah lama kosong! Kalau kamu mau ajak anak saya tinggal di sana, rukiah dulu rumah itu!" serunya kepada Robin.
"Tidak usah dirukiyah pengajian saja sudah cukup. Nanti habis isya Bapak akan yasinan di sana!" sahut Pak Jamal yang mengerti cara menempati rumah kosong.
"Kalau begitu saya mau merapikan perabotannya dulu ya Pak," ujar Robin yang dijawab anggukan oleh Pak Jamal. Ia segera masuk ke rumah kontrakannya yang baru. Di mana Tigor sudah membantunya mengangkut semua barang ke dalam.
"Lidah ibu mertuamu tajam sekali, kalau aku lebih baik jadi perjaka tua daripada makan hati tiap hari, Bin," ujar Tigor yang sedang beristirahat setelah mengangkut perabotan.
Robin menyahuti dengan santai, "Ya namanya juga mak-mak, biarkan saja. Nanti juga kalau cape akan diam sendiri."
"Hebat kau, habis dapat musibah bisa shoping dan sewa rumah bagus. Aku saja mau beli celana kolor tidak bisa, semua duitku habis terbakar, nasib-nasib!" ujar Tigor yang disuruh Robin ikut belanja perabotan.
"Kasihan, bagaimana sudah ada info baru?" tanya Robin dengan serius.
"Benar katamu sepertinya ada yang sengaja membakar pengepul kita. Di titik sumber api aku mencium bau bensin. Tapi aku tidak bisa mendapatkan petunjuk siapa dan bagaimana pelaku melakukannya karena kabel CCTV rusak terbakar," ujar Tigor memberitahu.
"Terus awasi tempat itu, aku yakin sekali pasti warga kampung rantau ada yang membantu pelaku!" pesan Robin yang dijawab anggukan oleh Tigor.
Tigor kemudian menelisik ruangan rumah itu sambil berkata, "Rumah ini cukup besar, aku ikut tinggal di sini ya!"
"Nggak bisa, Nabilah akan tinggal bersamaku. Ini ambilah buat beli kebutuhan pribadimu dan sewa kontrakan!" Robin memberikan Tigor sebuah amplop cukup tebal.
"Sepertinya duit kau tak ada habis-habisnya. Dari mana semua uang ini?" tanya Tigor karena tahu betul berapa kerugian yang harus ditanggung oleh Robin. Belum lagi mengganti uang yang sudah masuk dari tempat daur ulang.
Robin menjawab dengan singkat, "Ada deh!"
"Abang," terdengar suara lembut memanggil.
Robin dan Tigor kemudian menoleh ke arah sumber suara.
Tigor langsung berdiri dan terkesima melihat seorang gadis dengan memakai gamis sederhana. Wajahnya terlihat cantik alami yang jarang dimiliki setiap wanita pada umumnya.
"Alamak adem dan beningnya, gadis itu istrimu?" tanya Tigor yang dijawab anggukan oleh Robin.
"Bilah, kenalkan teman Abang!" ujar Robin mengenalkan Tigor.
"Nabilah," ujar gadis itu sambil mengatupkan tangannya dan menunduk. Ia sangat menjaga sikap ketika bertemu dengan lelaki yang bukan muhrimnya.
Robin kemudian berkata, "Perabotan sudah ada di dapur dan kamar Bilah yang kedua. Kamu atur sendiri ya!"
"Iya Bang," sahut Nabilah sambil berlalu.
"Kalau begini aku pun bingung harus pilih yang mana Risa atau Nabilah!" ujar Tigor membandingkan kedua wanita itu karena masing-masing mempunyai kelebihan tersendiri.
Robin langsung mengingatkan Tigor, "Jangan sebut-sebut Risa di sini, nanti Nabilah bisa salah paham!"
"Ya sudah, aku balik ke kampung Rantau dulu ya! Nanti kita bicarakan lagi masalah kebakaran itu!" ujar Tigor yang segera pergi.
Robin kemudian pergi ke dapur dan melihat Nabilah sedang menata perabotan.
"Bang, sebaiknya kita sudahi saja pernikahan ini. Bilah nggak mau jadi beban Abang!" Nabilah merasa sebagai penyebab atas musibah yang menimpa Robin.
Robin terkejut mendengar keinginan istrinya untuk berpisah. Ia kemudian bertanya dengan heran, "Kenapa Bilah bicara seperti itu?"
"Banyak orang yang tidak suka melihat kita bersama. Sebelum musibah itu terjadi, ada wanita yang datang ke kontrakan dan meminta Bilah untuk menjauhi Abang!" ujarnya sambil mengeluarkan ponsel dan menunjukan foto yang diterimanya. "Bilah dapat pesan ini dari nomor tidak dikenal!"
Robin tampak terkejut ketika melihat foto itu. Ia kemudian mengambil handphone dari kantong celananya dan menunjukan foto seseorang.
"Apakah wanita ini yang menemuimu?" tanya Robin yang berharap menemukan titik terang.
Setelah memperhatikan foto itu dengan saksama Nabilah kemudian menjawab, "Bukan Bang, tapi wanita itu yang merangkul Abang di foto satunya lagi kan?" tebaknya kemudian.
Robin terdiam, tetapi bagi Nabilah itu sudah cukup.
"Namanya Risa, dia bukan pacar atau pun mantan istri Abang. Tapi sudah kuanggap seperti adik sendiri," ujar Robin menjelaskan.
Nabilah kembali menduga, "Tapi wanita itu mencintai Bang Robin kan?" Lagi-lagi Robin hanya terdiam. "Mungkin berpisah adalah solusi yang terbaik. Abang jangan khawatir, ada Bapak, Ibu dan Allah yang akan menjadi Nabilah!"
"Jangan bicara seperti itu lagi karena Abang tidak akan menceraikan kamu. Jika Nabilah tidak mencintai Abang, tolong jangan buat pengorbananku jadi sia-sia!" sahut Robin yang tidak mau berpisah dengan Nabilah apa pun alasannya.
"Tapi Bilah takut Bang," ujar Nabilah dengan mata yang berkaca-kaca. Ia segera berlalu, tetapi Robin memegang tangannya dan menggenggam dengan erat.
"Abang akan melindungi Bilah dengan segenap jiwa raga!" kata-kata Robin mampu meredam ketakutan yang sedang istrinya rasakan. Sehingga membuat Nabilah merasa aman dan nyaman berada di dekat pria itu.
Tiba-tiba terdengar suara Bu Asma memanggil. Nabilah langsung menarik tangan dan menyeka air matanya.
"Nabilah, di mana kamu?" tanya Bu Asma yang tiba-tiba datang.
"Lagi beresin kamar, Bu," jawab Robin yang terlebih dahulu menemui ibu mertuanya.
Bu Asma menyahuti dengan ketus, "Nah gitu dong, Nabilah harus tidur di kamar, kalau kamu terserah mau di mana. Di ruang tamu atau di teras. Satu hal lagi jangan suruh anak saya untuk membersihkan rumah ini!"
Robin tidak mau meladeni Bu Asma dan memilih masuk ke kamarnya.
"Dasar preman, nggak ada sopan-santunnya. Orang belum selesai bicara sudah pergi!" omel Bu Asma yang kesal dicueki Robin.
"Ibu, kenapa ngomel-ngomel terus sih?" tanya Nabilah yang ke luar dari dapur.
Bu Asma menyahuti dengan nada sinis, "Tuh preman kampung, bikin ibu marah saja! Baru bisa sewa kontrakan satu rumah sudah sombong!"
Nabilah tampak menghela napas panjang dan segera meninggalkan ibunya pulang ke rumah.
"Tunggu Bilah, kok kamu juga ninggalin Ibu sih!" panggil Bu Asma sambil mengejar.
Sementara itu di salah satu sebuah rumah, beberapa orang pria sedang berkumpul.
"Kami sudah melakukan sesuai perintah," ujar seorang laki-laki dengan tato naga di lengannya.
"Bagus ini bayaran kalian," sahut pria berpakaian rapi sambil memberikan sebuah amplop tebal. "Apa Robin melapor ke polisi?" tanyanya kemudian.
Lelaki bertato itu segera mengambil amplop dan menyahuti, "Sepertinya tidak karena pekerjaan kami sangat rapi dan tanpa jejak. Jadi tidak ada bukti dan saksi."
"Bagus, kalian boleh pergi dan tunggu perintahku selanjutnya!" seru pria itu.
Tiba-tiba terdengar suara ponsel berdering. Pria itu menerima pesan masuk dari orang yang selama ini menjadi informannya.
'Robin sekarang ngontrak di depan rumah Nabilah!'
BERSAMBUNG