Bab 11. Perginya Nabilah

1517 Kata
"Peraturan masih sama, Nabilah tidak boleh menerima tamu dan harus mengunci pintu!" ujar Robin mengingatkan. Nabilah mengangguk dan menjawab dengan patuh, "Iya Bang, termasuk Ibu dan Bapak juga tidak boleh masuk ke rumah ini?" tanya gadis itu kemudian. "Iya, Bilah saja yang main ke rumah Bapak. Abang pergi dulu ya!" jawab Robin sambil berpesan. Nabilah kemudian mengantar Robin sampai depan teras. "Kenapa Bang Robin selalu melarang orang lain masuk ke rumah, terutama ke dalam kamarnya?" tanya gadis itu di dalam hati dengan heran. Setelah Robin sudah hilang oleh jarak, tiba-tiba Bu Asma datang. "Bilah, kamu hari ini nggak pergi ngajar?" tanya wanita itu sambil membuka pintu gerbang. "Nggak Bu, Bilah masih takut," sahut Nabilah setelah kejadian kemarin malam. "Ya sudah, Ibu temani kamu di rumah ya!" ujar Bu Asma kemudian. Mendengar ibunya mau masuk ke rumah, Nabilah segera mencari alasan, "Di rumah kita saja yuk Bu, di sini sudah lama kosong!" "Nggak usah nakut-nakutin! Bilang saja Robin melarang Ibu masuk ke rumah ini. Ibu juga nggak sudi masuk kalau bukan mau nemenin kamu. Bilang sama dia, kalau masih miskin jangan sombong!" sahut Bu Asma sambil meninggalkan rumah itu. Nabilah hanya mengelus d**a dan segera mengunci pintu rumah serta gerbang, lalu menyusul ibunya. Robin menatap miris tempat pengepul yang kini telah berubah jadi tanah gosong. Hanya besi-besi yang masih tersisa dan itu pun sudah tidak layak jual. "Menurut info, Baron baru saja membuka lapak pengepul. Tapi dia membeli separo dari harga yang biasa kita beli," ujar Tigor memberitahu. Robin memberikan tanggapan, "Kasihan para pemulung." "Ya habis mereka mau jual di mana lagi? Jual ke kota memang lebih mahal, tapi sama saja habis diongkos," timpal Tigor kembali. Kampung Santri, Rantau dan Jawara memang berada di pinggiran kota Jakarta yang berbatasan langsung dengan Jawa Barat. "Yang aku heran kira-kira dari mana Baron dapat modal ya. Dia kan tukang mabok dan main perempuan?" tanya Tigor kembali. "Entah, apa pun caranya dapatkan nomor ponsel salah satu anak buah Baron!" seru Robin yang mulai menjalankan rencananya. Tigor tampak mengernyitkan dahinya dan bertanya, "Buat apa?" "Nanti juga kau akan tahu," sahut Robin seperti memberikan teka-teki. Tigor memang sudah lama mengenal Robin. Akan tetapi, terkadang ia merasa ada sesuatu yang dirahasiakan oleh pria itu, terutama soal keuangannya. Robin seperti punya pohon uang yang tidak ada habis-habisnya. Bahkan sampai sekarang Tigor belum mendapatkan jawaban. Tiba-tiba sebuah mobil mewah berhenti di pinggir jalan. Seorang wanita cantik turun dari kendaraan itu dan menghampiri Robin. "Kamu kenapa nggak bilang sama aku kalau tempat ini kebakaran?" tanya Risa sambil menatap sekeliling tempat itu. "Buat apa?" tanya Robin sambil menatap wanita itu dengan saksama. "Kamu kok ngomongan begitu sih Robin? Aku bisa membantu kamu untuk membangun tempat ini kembali atau menemukan pelakunya," ujar Risa menawarkan bantuan. Robin menghela napas panjang dan menyahuti, "Terima kasih, tapi aku bisa mengatasi masalah ini sendiri." "Please Robin, jangan tolak bantuanku kali ini!" desak Risa agar Robin menerima tawarannya. "Aku mau tanya sesuatu sama kamu dan jawab dengan jujur. Ketika pesta ulang tahunmu apa kau bertemu dengan seseorang yang berhubungan dengan istriku?" Entah apa maksud Robin bertanya demikian. Risa langsung menjawab, "Nggak ada, semua yang hadir teman-temanku dan Remon. Kenapa kau bertanya seperti itu?" "Nggak apa-apa, cuma aku heran saja kok bisa istriku mendapat foto kado yang kuberikan kepadamu," jawab Robin yang membuat Risa terkejut. "Aku memang mempostingnya di media sosial, tapi nggak ngirim ke istrimu. Aku tahu juga nggak nomor ponselnya berapa." Risa memberikan alibi yang kuat. "Kita makan siang yuk!" ajak wanita itu yang mulai kegerahan. Robin menolak ajakan Risa, "Lain waktu ya, aku masih sibuk!" "Ya sudah, pokoknya kalau butuh bantuan aku bilang saja!" ujar Risa yang dijawab anggukan oleh Robin. Ia segera masuk ke mobil dan meluncur pergi. "Jangan-jangan Risa dalangnya karena cemburu sama Nabilah," tebak Tigor yang terdengar masuk akal. Robin langsung menjawab, "Bukan, tapi ketika aku tanya ketemu siapa saat ulang tahunnya, Risa berbohong selebihnya dia jujur." "Macam cenayang saja kau bisa menebak isi hati orang," ujar Tigor ketika Robin bisa tahu jujur atau tidaknya Risa. "Aku mengenal Risa lebih lama darimu. Jadi saat dia berbohong dan jujur maka matanya akan berbeda," jelas Robin memberitahu. Tigor yang masih penasaran kembali bertanya, "Jangan-jangan kau sudah tahu siapa dalangnya?" "Mungkin, tapi aku belum berani bilang, sebelum kau memberikan nomor ponsel anak buah Baron!" Robin memberikan jawaban menggantung. *** Siang ini Bu Asma mengajak Nabilah pergi ke pasar untuk membeli kue buat acara pengajian di mesjid. "Bilah bilang Bang Robin dulu ya, Bu!" ujar Nabilah yang tidak berani pergi tanpa izin dari suaminya. "Kamu itu cuma menemani Ibu saja pakai minta izin segala. Nggak sekalian minta surat pengantar dari RT. Baru sebentar jadi istri sementara Robin sudah malas. Apalagi kalian beneran menjadi suami istri, bisa--" Mendengar Robin kembali disalahkan Nabilah langsung memotong, "Ya sudah Bu, ayo kita ke pasar!" Mereka segera jalan beriringan pergi ke pasar. Bu Asma kemudian memilih kue apa saja yang akan dibelinya. Sementara itu Nabilah melihat-lihat perabotan rumah tangga yang belum ada di rumah. "Bu Asma, Nabilah, apa kabar?" tanya seorang wanita paruh baya sambil menggendong anak kecil berusia tiga tahu. Bu Asma kemudian menjawab "Alhamdulillah kami baik Bu Nisa, pasti ini cucunya ya?" tanya wanita itu kemudian. "Syukurlah saya senang mendengarnya. Iya ini anak Nadia yang nikah sama PNS itu. Saya duluan ya Bu, si kecil sudah rewel ni," sahut Bu Nisa yang segera berlalu. "Tuh dengar, Nadia bisa dapat suami PNS. Masa kamu yang lebih cantik dan pintar darinya nikah sama preman kampung. Malu Ibu tahu nggak, punya menantu seperti Robin. Kaya nggak ada lagi laki-laki lain saja di dunia ini," gerutu Bu Asma dengan kesal. "Bu, tidak ada satu manusia yang bisa memilih jodoh--" "Sudah-sudah dibilangin malah ceramah!" potong Bu Asma yang kembali fokus belanja. Nabilah hanya bisa menelan kata-kata Ibunya, meskipun sangat menyakitkan hati. "Ya Allah, berikanlah hamba kesabaran yang tiada batasnya dan berikanlah ibu hidayah agar tidak berkata kasar lagi!" doa gadis itu dengan sendu. "Mbak, kerudungnya!" ujar seorang wanita sambil menepuk bahu Nabilah. "Masih ada motif dan warna yang lain. Ayo ikut saya!" ajaknya yang dijawab anggukan oleh gadis itu. Nabilah kemudian mengikuti wanita itu, tanpa bilang ibunya lagi. Setelah beberapa saat kemudian Bu Asma baru sadar kalau putrinya sudah tidak ada. "Lama-lama Bilah sudah berani membangkang," desis Bu Asma yang menduga putrinya pergi karena merajuk. Ia segera menyudahi belanjanya dan pulang ke rumah. Ketika sampai di rumah Bu Asma langsung mencari Nabilah. "Nabilah sini kamu, Ibu mau bicara. Kebiasaan kalau terus didiamkan!" panggil Bu Asma sambil meletakan belanjaannya di atas meja. "Ad apa sih Bu, kok pulang marah-marah? Nabilah tidak ada di rumah, mungkin dia dikontrakannya!" sahut Pak Jamal memberitahu. "Bagaimana Ibu nggak marah. Dinasehati malah Ibu ditinggal di pasar sama Bilah," ujar Bu Asma memberitahu penyebab kekesalannya. Pak Jamal sudah bisa menduga apa yang membuat putrinya pergi. Ia kemudian memberikan masukan, "Bapak kan sudah bilang jangan terlalu menekan Nabilah. Biarkan dia memutuskan dan menjalani pernikahannya dengan Robin!" "Bapak sama saja dengan Bilah, sudah kepelet Robin. Punya menantu preman saja bangga!" sahut Bu Asma sambil berlalu. Hari ini Robin pulang sebelum ashar. Entah mengapa perasaannya tidak enak dan selalu memikirkan Nabilah. "Bilah, Abang pulang. Tolong bukain pintu!" pinta Robin yang lupa membawa kunci. Setelah beberapa kali memanggil tidak ada sahutan, ia memutuskan menyusul ke rumah Pak Jamal. Kebetulan bapak mertuanya itu sedang duduk di teras. "Assalamualaikum, ada Bilah, Pak. Robin mau minta kunci rumah?" ucap Robin dengan sopan. "Waalaikumsalam, tadi Bilah ikut ke pasar. Tapi kata Ibu pulang duluan," jawab Pak Jamal mulai panik. Robin kembali menyahuti, "Di rumah nggak ada Pak, saya telepon saja deh." Ia kemudian mengeluarkan ponsel dan menghubungi Nabilah. "Ibu, sini cepat!" panggil Pak Jamal dengan perasaan yang mulai tidak enak. "Ada apa sih Pak?" tanya Bu Asma menghampiri. Pak Jamal kemudian memberitahu, "Nabilah tidak ada di kontrakannya." "Apa, terus Nabilah pergi ke mana Pak?" tanya Bu Asma yang terkejut mendengarnya. Setelah beberapa kali Robin melakukan panggilan, akhirnya tersambung juga. "Halo Bilah, kamu di mana?" tanya Robin dengan cemas. "Halo Bilah," ulangnya karena tidak ada sahutan. "Nabilah bersamaku, kalau kau ingin dia selamat. Cepat katakan talak sekarang juga!" sahut seorang pria dengan lantang. "Pengecut kau, hadapi aku kalau mau merebut Nabilah. Jangan jadi pecundang!" sahut Robin dengan geram. Orang itu kemudian mengancam Robin, "Jangan banyak omong, cepat ceraikan Nabilah atau dia akan jadi janda!" "Nabilah diculik Pak, bagaimana ini?" ujar Bu Asma dengan panik. "Aku akan katakan sekarang juga. Tapi Nabilah antarkan pulang dulu ke rumah!" Robin balik menggertak. Orang itu tetap ngotot minta Robin menjatuhkan talak by phone sekarang juga,"Jangan mengulur-ngulur waktu, cepat bilang!" Bu Asma juga ikut mendesak, "Cepat katakan Robin! Aku tidak akan pernah memaafkan kamu jika terjadi sesuatu terhadap Nabilah." Robin jadi bingung harus bagaimana. Menceraikan Nabilah sama saja melepaskan gadis itu ke dalam kandang buaya. "Kuberi waktu lima menit untuk berpikir. Ingat apa pun yang terjadi sama Nabilah nanti adalah murni kesalahanmu!" ujar orang itu dan panggilan pun berakhir. "Tidak!" pekik Bu Asma sambil menangis dan berkata, "Kau harus bertanggungjawab, kalau putriku sampai kenapa-kenapa!" Robin kemudian meminta, "Pak pinjam motor!" Tanpa banyak tanya Pak Jamal segera memberikan kunci motornya. Robin langsung memacu motor itu dengan kecepatan tinggi dan pergi entah ke mana. BERSAMBUNG
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN