Robin memacu motor dengan kecepatan tinggi menuju ke kampung rantau bagian barat. Penculik itu pasti tidak tahu, kalau nomor ponsel Nabilah sudah tersambung ke handphone Robin. Sebuah kesalahan yang tidak terduga karena terlalu menganggap remeh lawan.
Robin kemudian mengikuti gps ponsel nabilah dan sampai di salah satu rumah kosong yang selama ini dijadikan tempat berkumpul anak buah Baron. Mereka tampak terkejut dan tidak menyangka akan kehadiran Robin.
"Mau apa kamu ke sini?" tanya salah satu anak buah Baron sambil menatap Robin dengan bengis.
"Katakan di mana Nabilah berada atau aku akan obrak-abrik tempat ini!" seru Robin dengan serius.
"Tidak ada Nabilah di sini," sahut salah satu preman lainnya.
Robin menatap para preman itu dengan tajam seolah tidak main-main dengan perkataannya. Semua anak buah Baron, langsung mengelilingi Robin. Mereka tahu akan kemampuan pria itu. Akan tetapi, kalau dikeroyok mungkin bisa dikalahkan.
Perkelahian tidak seimbang itupun akhirnya terjadi, meskipun kalah jumlah Robin dengan mudah melumpuhkan para preman itu. Mereka langsung kocar-kacir melarikan diri.
Dengan penuh kewaspadaan Robin menelisik ruangan yang sepi sambil menuju ke salah satu kamar. Di mana titik terakhir ponsel Nabilah berada.
Sayang setelah memeriksa semua kamar dan ruangan, tetapi Nabilah tidak juga ditemukan.
"Kurang ajar," geram Robin ketika melihat ponsel Nabilah yang telah dirusak.
***
Bu Asma dan Pak Jamal terlihat cemas sekali. Mereka sangat takut terjadi sesuatu terhadap Nabilah. Kedua orang tua itu terus memandangi jalanan berharap putrinya kembali dengan selamat.
"Lain kali Ibu jangan ajak Nabilah pergi ke mana pun!" ujar Pak Jamal dengan khawatir.
Bu Asma menyahuti dengan wajah yang panik, "Ibu juga tidak mau hal ini terjadi."
Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depan rumah Pak Jamal. Nabilah dan seorang pria turun dari kendaraan itu.
"Alhamdulillah Nabilah sudah pulang," ujar Bu Asma sambil berlari dan memeluk putrinya dengan erat.
"Beno, kenapa Nabilah bisa sama kamu?" tanya Pak Jamal dengan heran.
Dengan tenang Beno kemudian menjawab, "Tadi saya tidak sengaja bertemu Nabilah di pinggir jalan Pak, tidak jauh dari pasar dan terlihat kebingungan. Jadi langsung saja saya antar pulang."
"Tadi Nabilah memang ikut Ibu ke pasar, tapi tiba-tiba nggak ada. Kirain Ibu pulang duluan," ujar Bu Asma menjelaskan.
"Nabilah memang tadi mau pergi ke mana?" tanya Pak Jamal ingin tahu.
Nabilah kemudian memberitahu kejadian yang baru menimpanya,"Bilah nggak tahu Pak, kayaknya dihipnotis deh."
"Kok bisa, siapa yang menghipnotis kamu, Bilah?" tanya Beno yang terkejut mendengarnya.
"Bilah nggak ingat, tahu-tahu sudah berada di jalan. Tapi tadi sempat mau menghubungi Bang Robin, ponselku sudah hilang," jawab Nabilah yang tidak mengerti.
Pak Jamal dan Bu Asma merasa lega karena orang itu hanya mengambil ponsel Nabilah.
Bano kembali bertanya, "Jadi kamu menikah dengan Robin preman itu?"
"Terpaksa Beno, gara-gara Sofyan tidak datang pas akad. Tapi cuma sementara kok, kalau ada pria yang mampu menjaga Nabilah mereka akan bercerai," jawab Bu Asma memberitahu.
Beno tampak menghela napas panjang. Jujur ia masih berharap bisa menjadi suami Nabilah.
"Ayo masuk dulu kita bicara di dalam. Ibu antar Nabilah ke kamarnya untuk beristirahat!" ajak Pak Jamal sambil berlalu dan melanjutkan pembicaraan di ruang tamu. "Terima kasih kamu sudah menolong Nabilah. Kira-kira siapa orangnya yang telah menghipnotisnya?"
"Saya akan mengusutnya Pak, tapi dengar-dengar Robin punya masalah sama beberapa orang dari kampung Rantau bagian barat. Salah satunya dengan Baron, ketua preman yang menguasai daerah itu. Sebaiknya Bapak, Ibu dan Bilah hati-hati sama Robin. Memang awalnya dia itu terlihat baik. Tapi takutnya lama-lama akan buat masalah!" ujar Beno memperingati.
Bu Asma langsung menimpali, "Tuh dengar sendiri kan Pak? Siapa Robin sebenarnya!"
Pak Jamal kembali bertanya, "Tapi apa untungnya dia berbuat jahat sama kami?"
"Kalau menurut saya mungkin sudah tabiat Pak," jawab Beno kembali tapi justru membuat Pak Jamal jadi bingung.
"Pak, apa benar tadi yang ibu katakan soal pernikahan Nabilah?" tanya pria itu ingin tahu.
Pak Jamal tampak mengangguk dan menjawab, "Iya, Robin bilang seperti itu karena mereka tidak saling mencintai."
"Kalau diberikan kesempatan, saya bersedia melamar Nabilah lagi," ujar Beno dengan penuh harap.
"Bapak sih tidak masalah, tapi keputusan tetap di tangan Nabilah," ujar Pak Jamal yang memberikan kebebasan Nabilah untuk menentukan pilihannya sendiri.
"Ibu setuju saja, asalkan kamu tidak menduakan Nabilah," ujar Bu Asma yang ikut bergabung.
Beno langsung menyahuti, "Insya Allah Bu, saya tidak akan menyakiti Nabilah.
Tiba-tiba ia mendapat pesan, setelah membacanya wajah pria itu tampak tegang dan langsung berpamitan. "Maaf saya harus pergi kerja. Pak, Bu. Tolong kabari, kalau Nabilah mau menerima saya."
"Iya Nak Beno, sekali lagi kami mengucapkan banyak terima kasih. Oh ya, besok kita makan siang di rumah ya! Pokoknya kamu harus datang, kami tunggu!" ucap Bu Asma kemudian.
"Saya pasti akan datang Bu, demi Nabilah," bisik Beno sambil tersenyum.
Setelah Beno pergi, Bu Asma kemudian membahas keinginan pria itu bersama Pak Jamal.
"Dulu Nabilah menolak lamaran Beno karena terkenal playboy, tetapi seseorang bisa saja berubah. Robin saja bisa mendapatkan kesempatan kenapa tidak dengan Beno yang jauh lebih segalanya," ujar Bu Asma dengan antusias.
"Bilah tidak mau menikah dengan Beno, Pak," ujar Nabilah yang tiba-tiba datang.
"Beno lebih baik dari Robin Bilah," sahut Bu Asma membela pria itu.
Nabilah kemudian menyahuti, "Ibu kenal dengan Fitri kan, sahabatku? Dia--"
"Masalah Fitri dan Beno sudah selesai. Mereka melakukannya atas dasar suka sama suka. Lagipula sekarang Fitri sudah pergi jauh. Jadi kamu tidak perlu merasa tidak enak hati," potong Bu Asma yang tetap ingin mempunyai menantu seperti Beno.
"Pokoknya Bilah tidak mau menikah dengan Beno," tegas Nabilah yang juga tetap pada keputusannya.
"Dasar keras kepala, kalau dipaksa menikah sama Robin saja mau," sungut Bu Asma dengan kesal.
Pak Jamal kemudian menengahi istri dan anaknya yang bersitegang. "Sudah Bu, jangan paksa Nabilah menikah dengan Beno. Biarkan dia memilih sendiri!"
Tiba-tiba terdengar ucapan salam, ternyata Robin yang datang. "Nabilah kamu baik-baik saja?" tanya pria itu dengan penuh kekhawatiran.
"Bilah masih syok dan harus banyak istirahat, ayo Ibu antar ke kamar!" ajak Bu Asma sambil memegang tangan putrinya.
Namun, Nabilah menarik tangannya seraya berkata, "Bilah mau istirahat di rumah kontrakan saja. Di sana lebih aman." Ia segera meninggalkan rumah orang tuanya.
"Puas kamu melihat Nabilah menyalahkan Ibu atas kejadian tadi?" tanya Bu Asma sambil menatap Robin dengan sinis.
"Terus siapa yang harus disalahkan?" sahut Robin membalas tatapan Bu Asma dengan tajam. "Sudah terbukti Ibu juga tidak bisa menjaganya. Jadi maaf, aku tidak izinkan siapa pun mengajak Nabilah pergi tanpa sepengetahuanku!"
Bu Asma kembali menyahuti dengan sengit, "Jangan sok jadi pahlawan! Kalau tidak ada Beno yang menolong, Nabilah belum pulang sampai sekarang!"
Robin merasa debat dengan Bu Asma akan membuang-buang waktu saja. Lebih baik ia menyusul Nabilah agar tidak trauma atas kejadian itu.
"Jangan pergi, ayo mau ngomong apa lagi kamu. Dasar preman kampung, jagoan kandang!" umpat Bu Asma setengah berteriak.
"Cukup Bu!" seru Pak Jamal yang membuat istrinya langsung terdiam.
Sementara itu di dalam kamarnya, Nabilah tampak terisak. Jujur ia sangat takut sekali hari ini. Entah besok apa yang akan terjadi lagi. Robin kemudian masuk dan duduk di samping istrinya.
"Bilah takut Bang," ujar Nabilah sambil menyeka air matanya.
Robin mengelus bahu istrinya dan berkata, "Tenanglah semua sudah aman, pelaku tidak akan berani mengganggu kita lagi, kalau dia mau selamat!" Ia tahu siapa orang yang telah menghipnotis Nabilah, tetapi jika masih bisa diperingati tidak perlu diperpanjang.
Nabilah membenamkan kepalanya di bahu Robin dan semakin terisak. Ia mencurahkan semua ketakutan yang dirasakannya.
Sementara itu di suatu tempat, dua orang pria sedang bercakap-cakap. Di mana salah satunya terlihat marah-marah.
"Bagaimana mungkin Robin bisa tahu rencana kita? Jangan-jangan ada anak buahmu yang berkhianat?" tanya pria itu geram.
"Itu tidak mungkin, saya juga tidak menyangka Robin bisa mengetahui percakapan kita di ponsel," ujar Baron dengan heran.
"Selidiki latar belakang Robin dan cari tahu siapa yang telah membantunya!" seru pria itu memberikan perintah dan membatin, "Untuk sementara aku harus pergi dari kampung ini, sekarang kau boleh merasa menang. Tapi tunggu pembalasanku!" Ia akan menyelamatkan diri dan mengatur rencana baru karena Robin telah memegang kartu ASnya.
BERSAMBUNG