Setengah jam setelah diantar oleh kakak kelasnya untuk berbelanja, Zaara meminta Nizam untuk segera mengantarkannya ke hotel untuk bertemu dengan sang secret daddy-nya. Dan kini, Zaara sudah berada di depan presidential suite' room yang merupakan tempat menginap pria yang dipanggilnya daddy tersebut. Zaara bahkan tadi sudah menyuruh pergi Nizam yang berkali-kali menyatakan perasaan padanya.
Dengan perasaan yang agak gugup, Zaara mengetuk pintu berwarna coklat tua di depannya dan menunggu hingga pria yang ditunggunya membuka pintu dari dalam. Tanpa menunggu lama, pintu tersebut mulai terbuka dan pemandangan pertama yang dilihatnya adalah sosok pria yang terlihat sangat tampan dengan memakai tuxedo berwarna biru. Wajah tampan nan gagah itu, membuat Zaara tidak berkedip menatap ke arah Arkan.
Sedangkan Arkan yang melihat Zaara sudah berada di depan kamarnya, menautkan kedua alisnya karena merasa sangat heran gadis yang tadi dijumpainya sudah kembali. "Kenapa kamu ada di sini gadis nakal?"
"Daddy terlihat sangat tampan dan juga keren. Memangnya Daddy mau pergi ke mana?" Zaara masih tidak berkedip menatap ke arah Arkan yang terlihat begitu mempesona di matanya.
"Aku tanya apa padamu, gadis nakal?" hardik Arkan yang sudah mengarahkan tatapan tajam pada gadis mungil di depannya.
"Oh ... itu Dad, aku tadi sudah membeli ponsel dan datang ke sini untuk menanyakan nomor Daddy. Agar nanti sewaktu-waktu aku bisa menghubungi Daddy jika ada apa-apa. Jawab pertanyaanku dulu, Dad!" ujar Zaara karena merasa sangat penasaran.
"Besok pun kamu bisa pergi ke sini. Kenapa harus bolak-balik segala. Aku mau pergi ke acara peresmian di Ballroom Hotel. Sudah sana pulang, jangan menggangguku!" hardik Arkan yang berjalan keluar dari ruangan kamarnya.
"Wah ... sepertinya sangat menyenangkan jika ikut ke acara itu. Apakah aku boleh ikut Daddy? Aku tidak pernah pergi ke pesta karena aku adalah orang miskin. Jadi, bolehkah aku ikut Dad? Please!" Zaara menampilkan puppy eyes andalannya dan sudah menyatukan kedua tangannya.
"Astaga, dasar anak nakal. Ini acara untuk orang dewasa, bukan anak kecil sepertimu. Lagipula, kamu tidak mempunyai gaun yang pantas." Arkan menatap ke arah beberapa paper bag di tangan Zaara. "Itu apa?"
"Kebetulan sekali Dad, mungkin ini adalah nasib baikku. Aku tadi melihat gaun pesta yang sangat cantik, bahkan warnanya biru, sangat serasi dengan tuxedo yang Daddy kenakan. Tunggu 2 menit, aku mau ganti pakaian!" Tanpa menunggu jawaban dari sang daddy, Zaara sudah berlari ke arah kamar dan menutup pintu.
"Astaga, anak nakal ini benar-benar selalu berbuat seenaknya sendiri!" Arkan terlihat sesekali memijat pelipisnya karena merasa pusing mengahadapi tingkah kekanakan dan seenaknya dari gadis belia yang sudah meninggalkannya.
Ia yang saat ini bersandar di dinding, menatap mesin waktu yang melingkar di tangan kirinya karena 2 menit yang dijanjikan oleh Zaara telah berlalu. Tentu saja ia tidak ingin membuat para koleganya menunggu, membuat Arkan berniat meninggalkan Zaara. Akan tetapi, baru 2 langkah kakinya berjalan, suara teriakan dari gadis muda tersebut tertangkap indera pendengarannya.
"Daddy, tunggu!" Zaara langsung sedikit berlari mengejar pria yang sudah menjauh dari ruangan kamar.
Refleks Arkan menoleh ke belakang, dan dirinya seolah tersihir dengan penampilan dari gadis belia yang sudah memakai gaun panjang berwarna biru muda dengan bagian atas yang terbuka, sehingga menampilkan kulit putihnya yang terekspose jelas. Arkan seolah tidak berkedip melihat penampilan Zaara yang terlihat sangat cantik dengan rambut panjang yang dibiarkan tergerai.
"Gadis nakal ini ternyata cantik juga. Bahkan meski ia tidak memakai make up, dia masih terlihat mempesona," batin Arkan.
"Daddy?" Zaara menepuk lengan kekar pria tampan yang membuatnya terpesona untuk menyadarkannya, karena terlihat jelas sedang melamun.
"Oh ...." Arkan refleks mengamati penampilan dari Zaara mulai dari ujung kaki hingga kepala. "Dasar anak nakal, apa kamu mau memakai pakaian terbuka seperti itu dan memperlihatkan tubuhmu pada rekan bisnisku? Para rekan bisnisku nanti akan menatapmu dengan tatapan lapar, seolah ingin menikmati tubuhmu. Lebih baik kamu di dalam kamar saja dan tunggu sampai aku kembali! Sudah sana masuk!" sarkas Arkan dengan tegas.
"Tapi, Dad," jawab Zaara dengan sangat kecewa.
"Cepat masuk! Atau aku meminta kembali kartu kredit yang aku berikan tadi!" ancam Arkan seraya menatap tajam ke arah Zaara yang terlihat sangat kecewa.
"Tidak mau," jawab Zaara yang refleks langsung menggelengkan kepalanya. "Baiklah, aku akan diam di kamar sampai Daddy kembali." Tanpa menunggu jawaban dari pria yang masih mengarahkan tatapan membunuhnya, Zaara dengan langkah gontai berjalan masuk ke dalam kamar hotel.
Sedangkan Arkan langsung berbalik badan dan berjalan buru-buru karena sudah terlambat untuk menghadiri acara pesta peresmian hotelnya.
Sementara itu, Zaara langsung menghempaskan tubuhnya di atas ranjang king size di depannya tanpa mengganti gaun yang dipakainya. Karena tubuhnya yang lelah dan juga sedang banyak pikiran, membuat dirinya langsung terlelap.
3 jam setelah acara peresmian hotel, Arkan yang sudah terlalu banyak minum karena menghormati para rekan bisnisnya, membuatnya benar-benar mabuk. Bahkan untuk berjalan saja ia dibantu oleh asistennya, Krisna. Begitu berada di depan kamar, Arkan mengibaskan tangannya untuk menyuruh Krisna pergi.
Kemudian, ia melangkah masuk ke dalam ruangan kamarnya dan langsung menguncinya. Karena merasa sangat panas pada tubuhnya, ia melepaskan tuxedo yang dipakainya dan juga kemejanya ke sembarang arah. Kini, tubuh bagian atasnya terekspose jelas menampilkan otot perut yang sangat seksi.
Karena ingin segera beristirahat, Arkan berjalan ke arah ranjangnya. Namun, saat melihat ada sosok gadis yang terlihat tertidur dengan pulas di sana memakai gaun indah yang menampilkan bagian atas tubuhnya yang putih dan 2 gundukan sintal yang terlihat jelas itu, membuatnya langsung menelan salivanya dan mendadak tubuhnya menegang karena terbakar gairah.
Bahkan sesuatu miliknya sudah mengeras, menandakan hasratnya sudah bangkit karena terbakar gairah dan membuatnya sudah tidak bisa menahan diri lagi.
Tanpa membuang waktu, Arkan naik ke atas ranjang dan mulai mencumbu gadis yang tertidur pulas seperti bayi itu. Bahkan ia sudah melepaskan celana panjangnya dan pelindung terakhir tubuhnya sebelum bibirnya mulai menelusuri setiap sudut dari kulit putih yang sangat indah itu.
Dengan gerakan kasar ia bahkan telah melepaskan gaun berwarna biru muda yang melekat di tubuh Zaara.
Sementara itu, Zaara sangat terkejut dan begitu ketakutan dengan perbuatan tiba-tiba dari pria yang dipanggilnya daddy tersebut sudah berada di atas tubuhnya dengan wajah yang terlihat sangat menakutkan.
"Daddy, apa yang ...."
Zaara tidak bisa melanjutkan perkataannya karena bibirnya sudah dibungkam oleh pria yang sudah menciumnya dengan sangat brutal.
TBC ...