Rini bersorak kegirangan di dalam hatinya saat melihat suaminya telah mengusir anak tirinya yang menurutnya menjadi duri penghalang untuknya. "Akhirnya anak tidak tahu diri itu keluar dari sini. Sekarang bebanku sudah berkurang karena tidak harus capek-capek mengeluarkan energiku untuk memarahi anak s****n yang menyebalkan itu," gumam Rini di dalam hatinya.
Untuk menghilangkan rasa kecurigaan dari suaminya yang terlihat tengah menatap kepergian dari putrinya, Rini berjalan mendekati Cakra. Ia bahkan sudah menampilkan ekspresi wajah yang murung dengan mata yang berkaca-kaca agar lebih terlihat meyakinkan.
"Mas, kenapa tega mengusir Zaara? Bahkan dia adalah seorang anak gadis yang rawan terjebak dalam kenakalan remaja. Lebih baik aku mengejarnya, aku tidak tega Mas." Berpura-pura berjalan keluar pintu utama dan berteriak dengan suaranya yang cukup keras. "Putriku, kembali Sayang!"
Cakra mengejar wanita yang sudah 5 tahun ia nikahi dan telah memberinya seorang putra berusia 3 tahun yang diberi nama Arka Putra sesuai dengan keinginan dari sang istri.
"Sudah, biarkan saja! Zaara pasti akan kembali nanti malam. Karena dia keluar tidak membawa apa-apa dan hanya memakai seragam sekolah. Bukankah tadi supir sudah memberikan dompet dan ponsel Zaara padamu, Sayang?"
"Iya Mas, justru karena itulah aku merasa sangat khawatir pada putriku. Bagaimana kalau dia kelaparan dan tidak bisa makan?" sahut Rini yang masih menampilkan wajah sedihnya.
Cakra menggelengkan kepalanya, "Tenang saja, Zaara pasti pergi ke rumah Nina. Jika dia tidak pulang malam ini, pasti dia menginap di sana. Paling lambat besok Zaara pasti akan kembali ke Mansion. Sekarang lebih baik temani suamimu berisitirahat di kamar, aku sangat merindukanmu," bisik Cakra dan sudah meraih pinggang ramping sang istri dan membawanya ke kamar.
Rini sudah mencubit perut sixpack pria yang sudah membawanya ke arah anak tangga menuju kamar. Senyum semanis mungkin sudah ia tampilkan di depan suami yang sebenarnya tidak pernah dicintainya, tapi ia tidak bisa menolak permintaan dari suaminya tersebut agar tidak merasa curiga padanya.
"Astaga, sampai kapan aku harus berpura-pura bersikap manis pada pria tua bangka ini. Aku sudah menahannya selama 5 tahun demi Arkan. Apakah dia akan menepati janjinya padaku? Arkan, kapan kamu datang? Aku sangat merindukanmu. Semoga kamu menepati janjimu padaku yang mengatakan akan membawaku pergi," batin Rini.
*******
Sementara itu, Zaara yang sudah berjalan gontai keluar dari Mansion, terlihat tengah berdiri di area depan gerbang bangunan tinggi yang menjadi istananya selama 17 tahun. Dengan kasar ia menghapus bulir bening yang menghiasi wajah pucatnya. Segala kesedihan yang ia rasakan selama 5 tahun belakangan ini mencapai puncaknya pada hari dimana satu-satunya harapannya malah mengusirnya karena lebih mempercayai perkataan dari wanita yang menurutnya merupakan jelmaan iblis itu.
"Aku sama sekali tidak pernah menyangka jika aku akan diusir oleh Papa hanya gara-gara wanita itu. Kamu harus kuat Zaara, kamu pasti bisa. Akan tetapi, aku harus kemana? Aku tidak mungkin pergi ke rumah Nina, karena pasti Papa akan mencariku di sana. Astaga, percaya diri sekali kamu Zaara. Bahkan saat kamu mati pun, mungkin Papamu tidak akan menangisimu, karena dia lebih menyayangi istri dan anak kesayangannya," gumam Zaara.
Lamunan dari Zaara buyar seketika saat mendengar suara dari pria paruh baya yang sudah berada di sebelahnya.
"Nona Zaara mau keluar lagi?" tanya security pada majikannya.
"Eh ... iya Pak, aku pergi dulu." Tanpa berniat untuk menjelaskan tentang hal yang sebenarnya terjadi, Zaara berjalan menyusuri jalanan kompleks perumahan elite yang hanya ditempati oleh para konglomerat. Karena papanya termasuk pengusaha sukses yang masuk dalam kategori orang-orang paling kaya di area tersebut.
Dengan hati yang terluka, ia menatap kosong ke jalanan yang terlihat sangat sepi karena hanya ada bangunan-bangunan yang dikelilingi gerbang tinggi menjulang di kanan kirinya. Seolah suasana sepi penuh keheningan itu sangat mewakili perasaannya saat ini yang dilanda duka nestapa.
"Bahkan saat aku bersedih, suasana mencekam ini benar-benar mewakili perasaanku saat ini. Mama, aku sangat merindukanmu. Kuatkan aku Ma, agar aku bisa menjalani hidup sendiri di dunia yang kejam ini." Zaara sudah menangis tersedu-sedu di tepi jalan penuh keheningan itu. Zaara yang sudah merasa sangat lemas kakinya untuk berdiri karena efek tubuhnya yang bergetar saat menangis, membuatnya langsung berjongkok dan melanjutkan tangisannya.
Di saat yang bersamaan, indera pendengarannya menangkap suara dari motor sport yang berhenti di belakangnya. Buru-buru ia menghapus bulir bening yang menghiasi wajahnya dan ia menolehkan kepalanya untuk melihat siapa yang berhenti di sebelahnya. Dan bisa dilihatnya, ada seseorang yang sangat dikenalnya tengah berjalan ke arahnya. Dia adalah kakak kelasnya yang merupakan ketua OSIS di sekolahnya dan sering mendekatinya.
"Kak Nizam?"
Nizam Al Malik yang mempunyai badan tinggi tegap dengan tubuh ideal, serta wajahnya yang tampan, membuatnya banyak disukai oleh para murid perempuan di sekolah. Karena ia termasuk pria paling populer di SMA. Ia yang memang sangat menyukai Zaara, setiap hari selalu berkeliling di area sekitar rumah gadis tersebut. Berharap bisa bertemu atau pun melihat sosok perempuan yang memang telah menarik hatinya itu. Dan akhirnya hari ini keinginannya bisa menjadi kenyataan, karena melihat Zaara sedang berjongkok dengan posisi menangis di jalanan yang sepi.
Berbeda dengan sosok yang setiap hari terlihat di sekolah, karena diketahuinya bahwa Zaara terlihat sangat ceria saat berada di sekolah. Jauh berbeda dengan saat ini yang terlihat. Gadis yang selalu terlihat ceria itu kini malah menangis tersedu-sedu, seolah baru saja menanggung kesedihan yang teramat mendalam. Karena tidak tega dan ikut merasa kesakitan saat melihat gadis yang sudah lama disukainya menangis, membuat Nizam langsung menghampiri Zaara setelah turun dari motor sport miliknya yang berwarna merah.
"Zaara, kamu kenapa menangis di sini?"
"Kak Nizam kenapa ada di sekitar Mansion?" tanya Zaara yang sama sekali tidak menjawab pertanyaan dari laki-laki yang diketahuinya menyukainya.
Karena semua teman-temannya yang mengatakan padanya agar mau menerima ketua OSIS yang termasuk siswa paling populer di sekolah. Namun, karena ia sama sekali tidak pernah tertarik dengan laki-laki yang seumuran, membuatnya tidak menerima pernyataan cinta dari Nizam.
"A-aku ... kebetulan aku lewat tadi," ucap Nizam yang menyembunyikan kenyataan sebenarnya. "Aku bertanya padamu tadi, kenapa tidak dijawab? Kenapa kamu menangis di sini sendirian? Kamu ada masalah dengan keluargamu? Apakah Mama tirimu membuat ulah lagi?"
Zaara seketika bangkit dari posisinya yang awalnya duduk berjongkok. Suasana hatinya yang sudah sedikit lebih baik, membuatnya kembali menjadi sosok yang ceria. Karena ia selalu menjadi sosok gadis periang jika berada di depan orang lain. Hanya saat sendirilah ia menjadi gadis yang lemah, cengeng dan mellow.
"Tidak apa-apa Kak Nizam, biasalah. Mama tiriku memang begitu. Oh ya, darimana Kakak tahu kalau aku mempunyai Mama tiri yang sangat jahat," tanya Zaara dengan penuh kecurigaan.
"Soal itu, Nina pernah cerita. Jadi, aku tahu kalau kamu tinggal bersama Mama tiri." Nizam mencoba tersenyum untuk menyembunyikan kegugubannya. Tentu saja ia selalu merasa gugup saat berada di dekat gadis yang sudah lama ia cintai.
"Nina yang cerita atau Kakak yang bertanya?" selidik Zaara dengan tatapan mata tajam.
"Eh ... itu ...." Nizam merasa kebingungan untuk menjawab pertanyaan skak mat dari Zaara yang mencurigainya.
Zaara mengibaskan tangannya, dan menatap ke arah kakak kelasnya. "Sudahlah, sepertinya aku sudah tahu jawabannya. Kebetulan sekali Kak, aku boleh minta bantuannya kan?"
"Tentu saja boleh. Memangnya kamu membutuhkan apa?" jawab Nizam dengan sedikit bernapas lega.
"Antarkan aku ke Mall, setelah itu ke Marine Hotel. Aku harus menemui Om aku di sana, tapi aku mau membeli ponsel baru dulu, karena semua barang-barangku disita oleh Mama tiriku. Aku pun harus membeli pakaian untuk ganti, aku risi dari tadi belum ganti seragam ini." Zaara melihat ke arah seragamnya.
"Baiklah, aku akan mengantarkanmu. Oh ya, sepertinya kamu tidak membawa apa-apa. Kamu pakai saja uang aku nanti," jawab Nizam yang mengamati penampilan Zaara mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Dan bisa dilihatnya bahwa gadis berparas cantik itu tidak membawa dompet.
"Tidak perlu Kak, aku bawa uang. Lagipula aku tidak suka mempunyai hutang budi pada orang lain. Ayo, kita berangkat sekarang! Aku harus buru-buru menemui Om aku," ujar Zaara.
Nizam menganggukkan kepalanya dan langsung berjalan ke arah motornya dengan tangannya yang sudah memegang pergelangan tangan dari Zaara. "Baiklah, kita berangkat sekarang. Naik dan jangan lupa berpegangan erat biar kamu nggak jatuh, oke!" ucap Nizam yang sudah naik ke atas motor sport miliknya.
Zaara hanya menganggukkan kepalanya tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Tentu saja karena sebenarnya pikirannya sedang tidak fokus setelah diusir oleh papanya. Sehingga ia hanya menurut saja saat Nizam menyuruhnya naik ke atas motor dan ia pun langsung berpegangan erat pada perut sixpack laki-laki di depannya. Bahkan ia sudah menyandarkan kepalanya di punggung kekar itu seraya memejamkan kedua matanya dan sibuk bergumam di dalam hati.
"Hanya Daddy Arkan yang mampu menolongku. Aku harus segera menemuinya. Dengan kartu kredit yang tadi ia berikan, aku bisa membeli apa pun dan memenuhi kebutuhan hidupku. Aku nanti minta nomor ponselnya setelah aku membeli ponsel baru."
"Dan juga, aku harus mencari tempat tinggal sementara untukku. Tidak mungkin aku tinggal di hotel, karena itu akan menghabiskan banyak uang. Sepertinya tempat kos sangat cocok untukku. Akan tetapi, aku tidak ingin Kak Nizam sampai mengetahuinya. Jadi, aku harus mencarinya sendiri nanti setelah bertemu dengan Daddy Arkan," batin Zaara.
Sementara itu, Nizam terlihat sangat senang saat gadis yang dicintainya tidak ragu-ragu untuk memeluknya erat saat ia sudah melajukan motornya membelah kemacetan lalu lintas kota Jakarta.
"Mimpi apa gue semalam, hingga bisa dipeluk oleh Zaara. Terima kasih Tuhan, atas kebahagiaan ini. Semoga Zaara mau membuka hatinya untukku dan menerima cintaku," batin Nizam dengan senyuman terbit dari wajahnya.
TBC ...