Senin pagi tiba, aku membuka jendela dan membiarkan udara pagi masuk ke dalam kamar. Kicauan burung bersahut-sahutan di luaran sana sambil mencoba untuk terbang kesana kemari. Aku duduk di depan kaca, berusaha mengeringi rambut yang masih agak basah kemudian menyisirnya. “Nyn, sarapan sudah siap. Cepat turun.” Teriak Mama dari bawah. “Iyaaaa.” Aku mengambil tas yang ku letakkan di atas kasur, lalu membawanya ikut turun ke bawah. Ku hampiri meja makan yang telah penuh dengan menu sarapan pagi. Wajah Mama dan Papa semakin hari semakin membaik, keceriaan mereka perlahan kembali seiring mencobanya untuk mengikhlaskan kepergian Bella dengan perlahan. Sementara Cila, masih seperti biasa, menjalani hari dengan wajah polosnya yang belum begitu mengerti apa-apa. “Ini, makan pakai sayur ya

