Satu jam kemudian Nathan masuk ke dalam kamar Alana yang saat itu baru saja keluar dari kamar mandi. Tentu saja keberadaan Nathan yang tiba-tiba saja sudah ada di dalam kamarnya membuat Alana sedikit terkejut.
“Ada apa, Nat? Apakah kamu memerlukan sesuatu?” tanya Alana.
“Buka pakaianmu sekarang,” perintah Nathan yang membuat Alana membulatkan matanya dengan mulutnya yang sedikit terbuka. Apakah tadi wanita itu tidak salah dengar?
“Nat....”
“Apa kau tuli? Sekarang juga buka pakaianmu,” titah Nathan lagi yang mengulangi ucapannya dan kali ini benar-benar membuat Alana merasa sangat takut karena di malam sebelumnya saja Nathan memperlakukan dirinya secara kasar hingga detik ini ia bisa merasakan bagaimana rasa sakit itu.
“Tidak, aku tidak mau,” tolak Alana tanpa menatap wajah Nathan yang terlihat menyeramkan baginya.
“Apakah kau sudah berani menolakku?” tanya Nathan sambil melangkahkan kakinya mendekat ke arah Alana. Hal itu tentu saja membuat wanita itu mundur beberapa langkah menyamai langkah kaki Nathan yang semakin dekat.
“Baiklah jika kamu menolakku, maka segera kembali seluruh uang yang tadi pagi sudah aku transfer ke rekeningmu,” kata Nathan yang kali ini membuat Alana berani manatap pria kejam itu.
Bagaimana caranya Alana dapat mengembalikan uang yang jelas-jelas sudah ia berikan kepada ayahnya untuk meramaikan kembali restoran milik sang ayah? Apakah Nathan memang sengaja melakukan semua itu kepadanya?
“Maafkan aku karena uang itu sudah tidak ada di rekeningku,” kata Alana dengan nada memelas.
Nathan tersenyum mengejek ke arah Alana karena sudah bisa ia tebak kalau wanita di depannya ini memang wanita yang munafik. Padahal tadi pagi dengan sombongnya ia mengatakan tidak membutuhkan uang itu dan sekarang dengarkan Alana mengatakan uang itu sudah tidak ada seakan lenyap dalam satu hari.
“Ternyata kau adalah wanita yang sangat boros karena sudah menghabiskan banyak uang yang baru saja aku kirimkan kepadamu pagi ini,” ledek Nathan yang merasa sangat senang karena malam ini ia akan mendapatkan tubuh Alana dengan secara suka rela.
“Artinya kau paham bukan? Jadi cepat lakukan perintahku atau aku yang akan merobek pakaianmu nanti,” tambah Nathan yang kali ini mengatakannya dengan nada meninggi serta penuh dengan penekanan yang membuat Alana benar-benar merasa takut.
Alana menarik nafas panjang lalu membuangnya karena jika menolak pun rasanya akan lebih buruk. Wanita itu pun mulai membuang satu per satu pakaian yang melekat di tubuhnya. Dan ketika penutup terakhir dibuka, hasrat yang sempat tertahan seketika bangkit membuat Nathan kembali bernafsu.
“Sungguh aku tidak menyangka kalau aku kembali menjamah tubuh itu.”
Alana yang merasa malu tidak berani menatap wajah Nathan yang kini sudah bersiap untuk menyerangnya. Rasanya seperti sudah menggebu-gebu karena siang tadi ia belum berhasil menyalurkan pelampiasannya.
Saat Nathan menarik tubuh Alana agar lebih dekat dengannya, wanita itu hanya bisa memejamkan matanya. Alana semakin merinding kala Nathan mencium ceruk lehernya. Gelenyar aneh pun perlahan muncul hingga ia sedikit mendesis ketika Nathan beberapa kali menghembuskan nafasnya.
“Aku mohon lakukan dengan perlahan dan jangan menyakitiku seperti kemarin, Nat,” pinta Alana dengan matanya yang masih terpejam. Ia berharap Nathan mau memenuhi permintaannya setelah dirinya sudah dengan terpaksa menuruti kemauannnya.
“Kau tidak berhak mengatur atau pun meminta sesuatu kepadaku Alana karena tubuhmu ini sudahlah menjadi milikku apalagi bukankah niatmu memang bertanggung jawab atas kematian istri dan calon anakku? Jadi diam dan nikmati saja tanpa protes,” kata Nathan sambil mengangkat tubuh Alana dan membawanya ke tempat tidur.
Jantung Alana semakin berdetak kencang saat posisinya sudah terbaring di atas tempat tidur. Sebelum kembali mendekat, Nathan melepaskan semua pakaian miliknya hingga keduanya sama-sama polos tanpa sehelai benang.
“Apa kau akan terus menutup matamu seperti itu? Atau kau mau ku buat buta sekalian?” kata Nathan yang terdengar seperti seorang psikopat yang hendak menyakiti targetnya.
Perlahan Alana membuka matanya karena ia benar-benar tidak ingin hal buruk itu dilakukan oleh Nathan. Cukup keperawanannya saja yang hilang, bagian tubuh lainnya jangan karena Alana masih membutuhkannya.
“Bagus sepertinya kau mulai patuh denganku,” kata Nathan sambil tersenyum.
Setelah selesai Nathan segera naik ke atas tempat tidur tempatnya langsung menidih tubuh Alana hingga wanita itu bisa merasakan sesuatu yang menyentuh kulitnya hingga jantungnya semakin berdebar tidak karuan.
“Bagaimana jika ia kembali menyakitiku seperti kemarin? Aku benar-benar merasa belum siap.”
Nathan memulai permainannya dengan menyerang bibir Alana yang terasa sangat manis baginya. Namun pria itu merasa sangat kesal ketika Alana tidak membuka mulutnya hingga ia menggigit bibir Alana. Saat mulut Alana terbuka, lidah Nathan langsung menelusuk masuk ke dalam tapi lagi dan lagi Nathan harus kembali merasa kesal karena Alana tidak membalasnya.
“Tidak bisakah kau membalas ciumanku? Atau memang aku sedang b******u dengan sebuah tembok,” bentak Nathan.
“Tapi aku tidak tahu harus berbuat apa karena sebelumnya aku tidak pernah melakukan hal itu,” jawab Alana yang benar-benar polos dalam urusan ciuman apalagi tentang urusan hubungan suami-istri di atas tempat tidur.
“Kau memang menyebalkan, sekarang perhatikan apa yang aku lakukan setelah itu kau lakukan hal yang sama kepadaku dan ingat jangan menutup mulutmu sekalipun,” kata Nathan lagi yang langsung dijawab anggukan oleh Alana.
Nathan pun mulai melakukannya kembali lalu setelahnya Alana melakukan seperti yang diperintahkan olehnya tadi. Setidaknya hal ini terasa sedikit lebih baik dari kemarin saat Nathan dengan kasar melakukannya. Hal itu pun berlangsung sampai ke arah di mana yang diinginkan oleh Nathan dan benar saja pria itu benar-benar merasa puas karena bisa melepaskan hasrat yang sempat membuat dirinya uring-uringan sepanjang hari.
Setelah merasa sangat puas dan cukup Nathan memakai kembali pakaian miliknya, sementara Alana masih terbaring di atas tempat tidur karena merasa lelah melayani Nathan yang terlihat seakan sedang mengejar sesuatu.
“Malam ini aku sudah melakukannya seperti yang kau minta tapi kau tidak usah berpikir kalau aku mulai mencintaimu karena aku hanya tertarik dengan tubuhmu itu,” kata Nathan yang tidak ingin Alana salah mengartikan apa yang sudah ia lakukan barusan karena memang benar Nathan melakukan sedikit lebih lembut dari yang kemarin.
Nathan tidak ingin Alana selalu berdebat ketika ia menginginkan tubuhnya. Pria itu juga ingin Alana mengerti apa yang harus dilakukannya walau Nathan harus cukup bersabar saat mengajarkan Alana tentang hal tersebut.
“Aku hanya tidak ingin kau berharap lebih kepadaku karena hal itu nantinya akan menyusahkanku,” tambah Nathan yang memang tidak ingin tertikat lebih dari ini.
“Baiklah aku akan selalu mengingat pesanmu,” balas Alana yang sebenarnya tidak ingin hal itu sampai terjadi kepadanya karena ia tidak bisa selamanya hidup dengan pria yang tidak menginginkan dirinya.
Nathan pun keluar dari kamar Alana lalu kembali ke dalam kamar Alana.Ada perasaan lega dan juga ringan karena semua hal yang sempat ia pertanyakan kini sudah ia dapatkan jawabannya.