Menciptakan Sosok Clarissa

1097 Kata
Walau ucapan Nathan terdengar getir di telinga Alana tapi ia merasa harus mengendalikan hatinya agar tidak begitu saja mudah menjatuhkan hatinya kepada pria itu, walau harus ia akui kalau tadinya ada gelenyar aneh saat mata mereka bertemu. Apalagi tadi Nathan memperlakukannya dengan lembut tidak seperti malam sebelumnya. “Alana, kau sudah mendengarnya bukan? Ia hanya menginginkan tubuhmu jadi lakukan seperti rencana awal dan jangan pernah menjatuhkan hatimu dengan mudah kepadanya,” gumam Alana sambil menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup beberapa menit yang lalu. Jika nantinya Alana dipaksa keadaan untuk jatuh cinta kepada pria itu, sepertinya ia harus lebih keras menikam hatinya sendiri dengan setiap kata-kata Nathan barusan. Kalau dipikirkan kembali mana ada orang yang akan jatuh cinta kepada seseorang yang sudah menghilangkan nyawa orang yang paling disayanginya? Alana bangkit mengambil pakaian miliknya yang sudah berceceran di lantai, sebelum memutuskan untuk tidur ia ingin membersihkan dirinya di kamar mandi sekaligus mengalihkan ucapan Nathan yang masih terniang di telinganya. Ia merasa harus memikirkan cara untuk mempromosikan sekaligus mengembalikan nama baik restoran milik ayahnya. Sekitar pukul delapan pagi Nathan meminta beberapa pelayan memindahkan semua sabun mandi milik Clarissa ke kamar Alana. Nathan sengaja melakukan hal itu karena secara perlahan ingin menciptakan sosok Clarissa di dalam tubuh Alana. Karena dengan begini Nathan merasa bisa mengobati rasa rindunya kepada mendiang istrinya tersebut lewat Alana. Semula Nathan akan membiarkan sabun serta parfum yang biasa dipakai Clarissa kepada Alana, lalu setelah itu ia berniat untuk mengganti gaya berpakaian Alana dan sisanya mungkin ia akan merubah kebiasaan Alana agar sama persis seperti Clarissa. “Nathan, tunggu...” panggil Alana yang baru saja keluar dari kamarnya dan mengejar Nathan yang hendak pergi keluar dari paviliun. Tentu saja apa yang dilakukan Nathan pagi ini benar-benar membuat Alana terkejut karena sebelumnya ia sama sekali tidak boleh memakai barang-barang mendiang istrinya. Namun kali ini yang terasa aneh adalah beberapa barang tersebut dipindahkan ke kamarnya. Nathan menoleh ke arah Alana yang setengah berlari menuruni tangga untuk mengejar dirinya. Wanita itu terlihat seperti anak kecil yang hendak mengejar balonnya yang baru saja lepas. “Tidak bisakah kau berjalan normal tanpa berlari seperti anak kecil di rumahku?” tanya Nathan yang memang terdengar sinis tapi Alana merasa itu adalah sebuah rasa khawatir yang Nathan tunjukkan kepada dirinya. Ya Alana yakin perhatian kecil itu berdasarkan agar tubuhnya tetap dalam keadaan baik dan selalu siap digunakan kapan pun pria itu inginkan. Alana lantas menundukkan kepalanya karena merasa takut dengan tatapan mata Nathan yang tajam. “Ma— maaf.” “Ada apa kau memanggilku? Apa kau memerlukan uang lagi karena sema—“ “Tidak, bukan itu,” potong Alana cepat karena ia sama sekali tidak ingin dinilai matre oleh Nathan sehingga ia harus kembali direndahkan olehnya. “Lalu apa? Tidak bisakah kau menatapku saat bicara? Apakah kau menyamakanku dengan seekor tikus yang berada di lantai sehingga kau selalu menundukkan kepala seperti itu?” sergah Nathan yang membuat Alana langsung mengagkatkan kepalanya. Ya, kau memang seekor tikus yang selalu menggangu penghuni rumah seperti Alana, Nathan. Apakah kau tidak sadar dengan cara bicaramu serta perlakuanmu kepada Alana yang selalu membuatnya takut? “Bu— bukan seperti itu tapi....” “Apa sekarang lidahmu terasa kebas hingga bicaramu gugup seperti itu?” potong Nathan yang sama sekali tidak menyadari kalau Alana hampir mati ketakutan untuk berhadapan dengannya yang terlihat seperti boneka santet baginya... hahaha “Sudahlah, kau sudah banyak membuang waktuku jadi sekarang biarkan aku yang bicara,” kata Nathan mengambil alih obrolan mereka kali ini hingga Alana benar-benar diam kali ini. “Aku tadi menyuruh para pelayan untuk memindahkan peralatan mandi milik mendiang istriku jadi mulai hari ini kau boleh menggunakannya karena semalam tubuhmu masih ada aroma kemiskinan dan aku tidak menyukainya,” kata Nathan yang diselingi dengan sebuah hinaan yang membuat Alana mencium kembali aroma tubuhnya. “Memangnya aroma kemiskinan itu seperti apa? Kenapa dia senang sekali menghinaku? Padahal semalam jelas-jelas dia terlihat menikmati permainan ka... ah sudahlah tidak usah dipikirkan, turuti saja kemauannya itu.” “Kalau perlu setelah ini kau mandi lagi dan gunakan sabun yang sudah disediakan karena aroma busuk itu masih tercium di tubuhmu,” titah Nathan sambil menutupi hidungnya dengan tangannya, seakan-akan tubuh Alana memang sangat bau. “Ya,” balas Alana singkat untuk menunjukkan rasa kesalnya. “Apa kau marah dengan perkataanku?” selidik Nathan. Alana tentu langsung menggelengkan kepalanya dan pura-pura tersenyum. “Tidak usah tersenyum lebar seperti itu karena kau tetap saja jelek dan tidak bisa meluluhkan hatiku untuk memaafkanmu,” kata Nathan yang membuat Alana ingin sekali menjambak rambut pria menyebalkan itu. Atau bisakah Alana menampar mulutnya yang dengan ringan selalu melemparkan cacian, makian, dan apalagi itu? “Oh ya, satu lagi kenakan parfum ini....” Nathan memberikan parfum yang sempat diambilnya kepada Alana. Wanita itu langsung mengambilnya sebelum Nathan mengeluarkan kata-kata pedasnya. “Eh parfum ini lagi? Memangnya sejak kapan ia mengambilnya? Aku sendiri sampai tidak tahu kapan ia mengambilnya.” “Jika parfum itu habis, belilah yang sama persis seperti itu tapi ingat jangan pakai parfum itu saat menemui sembarang orang yang tidak penting,” tambah Nathan. Dan tanpa mengatakan apa pun, Nathan meninggalkan Alana yang masih bergeming ke rumah utama karena ia berniat sarapan sebelum pergi ke kantor. Nathan rasa hari ini cukup membuat Alana menjadi sosok yang diinginkannya. “Sembarang orang katanya? Apa maksudnya bertemu dengan ayah dan orang-orang terdekatku?” gumam Alana sambil memanyunkan bibirnya. Ia benar-benar merasa sangat kesal dengan pria itu. Kalau saja tadi ia bisa menimpuk Nathan dengan botol parfum yang baru diberikannya mungkin sudah ia lakukan. Ketika Alana sedang merasa gemas dengan sikap dan perilaku Nathan kepadanya, ponsel milik Alana berdering hingga ia memutuskan menjawab panggilan tersebut sambil melangkahkan kakinya ke kamar. “Hei Naura, ada apa kau menghubungiku?” tanya Alana saat menjawab panggilan dari sahabat lamanya yang bernama Naura. Perlahan senyum Alana berubah saat mendengar suara isak tangis dari wanita itu. “Kak Alana,” lirihnya yang terdengar begitu menyayat hatinya. “Naura, apa yang terjadi? Kenapa kamu menangis?” tanya Alana yang panik. Terdengar wanita itu menarik nafasnya lalu suaranya terdengar kembali stabil. “Kak, aku merindukanmu. Bisakah kita bertemu hari ini?” “Aku juga sangat merindukanmu tapi apa kau baik-baik saja, Naura?” tanya Alana untuk kembali memastikan kembali kalau Naura berada dalam kondisi yang benar-benar baik. “Maaf sudah membuat Kak Alana khawatir tapi aku baik-baik saja, ayo kita bertemu sekarang. Aku sedang dalam perjalanan menuju restoran milik ayahmu, Kak,” ajak Naura yang terdengar seolah baik-baik saja. “Baiklah, kita bertemu di sana,” balas Alana lalu menutup panggilan telepon tersebut dan bersiap untuk segera pergi menemui Naura.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN