“Radit, mulai hari ini juga aku mau kau secepatnya merenovasi restoran keluarga milik Alana itu menjadi lebih modern, kalau perlu bongkar saja bangunannya lalu kau ubah tata letak bangunannya serta ganti semua perlengkapan yang ada di restoran itu,” titah Nathan ketika mereka sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan menuju kantor.
Tentunya apa yang dilakukan Nathan saat ini bukan karena ia merasa bersalah, melainkan ingin membuat Alana agar terus terikat kepadanya dengan cara apa pun. Dengan begini, Nathan pikir apa pun yang akan dilakukan pada Alana nantinya tidak akan mudah membuat wanita itu pergi dari sisinya.
“Baik, Pak Nathan. Tapi kalau saya boleh tahu kenapa Bapak berniat untuk merenovasi ulang restoran itu?” tanya Radit yang sangat penasaran dengan sikap Nathan yang seolah mulai melunak kepada Alana serta keluarganya.
“Aku hanya tidak ingin orang lain tahu jika mertua palsuku itu memiliki usaha yang memalukan, lagi pula tidak akan mungkin aku menyimpan pernikahan ini selamanya tanpa diketahui oleh yang lainnya,” jelas Nathan sambil meleparkan tatapannya kepada Radit yang duduk di kursi depan bersama sang supir.
“Oh ya, kalau bisa pagi ini juga kau harus pertemukan aku dengan seorang kontraktor yang nantinya akan mengerjakan bangunan itu, aku ingin mengetahui lebih detail dengan cara kerjanya,” tambah Nathan yang tidak ingin sembarangan orang mengerjakan restoran itu apalagi secara asal-asalan.
“Baik, Pak Nathan,” balas Radit sambil menganggukkan kepalanya.
“Setidaknya jika Alana tahu kalau aku dengan sengaja membuatnya seperti Clarissa, ia tidak akan menolak. Jika ia ingin pergi pun wanita itu benar-benar harus membayarnya dengan harga yang sangat mahal.”
Nathan tersenyum sambil melihat keluar jendela mobilnya. Satu per satu rencananya harus berjalan dengan lancar, tidak boleh ada kesalahan sedikit pun. Sementara Radit yang baru melihat Nathan tersenyum sendirian seolah sudah tahu maksud licik di balik ini semua karena memang yang ia tahu Nathan sangat membenci wanita yang sudah melenyapkan nyawa mendiang majikannya.
* * *
Alana baru saja tiba di restoran, kakinya melangkah dengan cepat ke arah Naura yang sedang mengobrol dengan ayahnya. Memang tidak terlihat mengkhawatirkan seperti yang sempat ia bayangkan saat mendengar suara tangisnya tapi tetap saja Alana ingin tahu kondisi Naura yang memang sudah ia anggap sebagai adiknya sendiri.
Naura bertemu Alana ketika mereka berada di Amerika, saat Alana mendapatkan program beasiswa untuk meneruskan kuliahnya di salah universitas ternama. Awal pertemuan mereka terjadi saat Alana menolong Naura yang hendak diganggu oleh preman ketika ia baru saja pulang dari rumah temannya. Dan beruntungnya saat itu dengan bantuan sirine palsu yang ia dapatkan di salah satu sosial media membuat preman ketakutan hingga pergi.
Lama kelamaan hubugan Alana dan Naura pun semakin dekat apalagi setelah mereka tahu kalau keduanya memiliki kemiripan yaitu berasal dari anak yatim piatu. Bedanya hanya saat itu orang tua Alana meninggal karena kecelakaan dan hanya ia yang selamat. Lalu kalau Naura sendiri katanya ia memang sengaja dibuang oleh orang tuanya.
Namun kabar baiknya adalah keduanya dirawat serta dibesarkan oleh orang tua yang benar-benar baik serta tulus menyayangi keduanya. Sejak saat itu mereka memutuskan untuk membawa hubungan tersebut layaknya kakak dan adik.
“Naura, apa kau baik-baik saja?” tanya Alana yang langsung memeluk tubuh mungil Naura.
“Aku baik-baik saja, Kak. Oh ya, aku dengar dari Ayah kalau kamu sudah menikah tapi kenapa kamu tidak memberitahukan aku hingga aku bisa segera datang ke Indonesia?”
Alana terlihat kebingungan untuk menjawab pertanyaan Naura karena bukan hanya wanita itu saja yang tidak mengetahuinya melainkan kerabat terdekat dari keluarga ayahnya saja tidak mengetahuinya.
“Soal itu—“
Belum sempat Alana menjawab tentang pernikahannya dengan Nathan. Radit beserta beberapa orang sudah masuk ke dalam restoran dan dua orang lagi berjaga di luar.
“Permisi Ibu Alana dan Bapak Putra, saya ke sini karena diperintahkan oleh Bapak Nathan untuk menutup serta memindahkan beberapa barang yang ada di restoran ke tempat lain,” kata Radit menjelaskan alasan kedatangannya ke tempat itu.
Alana dan ayahnya langsung saling bertatapan dengan kedua matanya yang terbuka lebar akibat terkejut. Tentu saja keduanya berpikir kalau Nathan akan berulah kembali untuk menghancurkan usaha keluarga milik ayah angkatnya tersebut.
“Tidak, saya tidak ingin siapa pun termasuk kamu menyentuh restoran milik Ayah saya,” tolak Alana mentah-mentah dengan tatapannya yang tajam.
“Tapi—“
“Sekarang lebih baik kamu suruh semua orang ini keluar dari restoran Ayah saya,” titah Putra sambil menunjuk semua orang yang datang bersama Radit untuk segera pergi dari sana.
“Saya tidak bisa melakukannya karena ini perintah dari Bapak Nathan langsung,” jawab Radit yang terlihat panik karena jika ia tidak menuruti perintah dari Nathan bisa saja dirinya dimarahi atau mungkin terjadi hal yang buruk.
“Kak, sebenarnya apa yang terjadi?” bisik Naura yang terlihat ketakutan. Namun Alana tidak bisa menjelaskannya sekarang tapi ia memegangi tangan Naura yang sempat memegangi tangannya.
“Kalau begitu, antarkan aku bertemu dengan Nathan sekarang juga,” pinta Alana karena ia benar-benar akan meminta pertanggung jawaban atas perjanjian yang sudah sepakati sebelumnya.
Radit pun hanya bisa menuruti perintah Alana karena memang saat ini bagaimana pun ia berusaha untuk menjelaskannya kepada wanita itu rasanya tetap saja nihil. Ia berharap dengan Alana bertemu langsung dengan Nathan nantinya wanita itu akan mengerti alasan dari perintah sang bos.
“Baik Ibu Alana, saya akan mengantarkan anda untuk bertemu dengan Bapak Nathan di kantor mari ikut saya,” kata Radit mempersilahkan Alana untuk mengikutinya.
“Alana...” panggil Putra dengan raut wajah yang menunjukkan kekhawatirkannya.
“Ayah tenang saja, aku akan membicarakan hal ini secara baik-baik dengan Nathan,” jelas Alana yang mengerti kegelisahan yang dirasakan oleh ayahnya.
“Nau, kamu di sini dulu ya sama Ayah nanti aku pasti akan kembali,” pesan Alana sambil memegang kedua tangan Naura.
“Iya tapi Kakak hati-hati ya,” balas Naura yang juga sama khawatirnya dengan putra. Walau ia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi tapi ia tidak ingin terjadi hal yang buruk kepada Alana.
“Kalian tunggu di sini dan jangan melakukan hal apa pun sampai aku perintahkan,” kata Radit kepada semua orang yang tadi datang bersamanya. Mereka membalas ucapannya dengan menganggukkan kepala.
Radit keluar dari restoran tersebut dan melangkahkan kakinya sampai ke mobil. Sebelum masuk ke dalam mobil, ia membukakan pintu untuk Alana. Ia berharap sang bos tidak marah kepada dirinya karena sudah membawa Alana ke kantor hari ini.
“Aku akan benar-benar membuat perhitungan jika kau sampai mengingkari perjanjian kita, Nat.”