Keputusan Berat.

1275 Kata
Sudah dua hari Clarissa tidak masuk kerja. Tubuhnya terlalu lemah karena kelelahan. Namun hari ini ia memaksakan diri untuk bangun pagi dan kembali bekerja. Setelah bersiap, ia berangkat lebih awal karena khawatir jalanan akan macet parah, hari ini ada demo buruh menuntut pembayaran upah. Perjalanan terasa lebih lama dari biasanya. Angkutan umum yang ia tumpangi bergerak lambat di antara kerumunan kendaraan. Clarissa hanya menatap keluar jendela, mencoba menenangkan pikirannya yang penuh tekanan. Sesampainya di toko, Clarissa segera masuk dan menaruh tasnya. Ia langsung mencari Melia. “Mel, kerjaan yang sempat kamu tawarkan ke aku kemarin masih ada tidak?” tanyanya begitu sampai di dekat sahabatnya. Melia menoleh kaget. “Loh, Sa? Kamu sudah sembuh? Kemarin aku mau jengukin, tapi takut ganggu.” Clarissa mengangguk lemah. “Iya, sudah mendingan. Jadi bagaimana, masih ada?” Melia menghentikan pekerjaannya sejenak, lalu menatap Clarissa serius. “Syukurlah kalau sudah sembuh, Sa. Soal itu, aku belum sempat tanya lagi sama teman kos aku. Kamu beneran mau kerja yang aku tawarkan?” Clarissa menarik napas panjang. “Iya, Mel. Aku lagi butuh banget kerjaan tambahan. Uang kuliah Alianna harus segera dibayar, belum lagi biaya obat Mama.” suaranya merendah di akhir kalimat. Melia mengangguk pelan, memahami. “Oke, Sa. Nanti aku tanyakan lagi ke teman kos aku. Kita bahas lebih detail pas makan siang, oke?” “Baik, Mel. Kalau begitu aku tinggal dulu, masih banyak yang harus dibereskan.” Clarissa pun beranjak ke bagian lain toko, mencoba menepis pikiran yang berkecamuk. Di kantor, Andre berangkat lebih pagi dari biasanya. Hari ini ada pertemuan penting dengan investor asal Amerika. Sebagai CEO, ia tidak mau ada kesalahan sekecil apapun yang bisa mengguncang reputasi perusahaan yang ia bangun dari nol. Bagi Andre, kerja keras adalah satu-satunya jalan untuk menghapus masa lalu kelamnya. Meski hatinya pernah hancur ditinggalkan istri yang ia cintai tepat setelah melahirkan Felicia, Andre menolak menyerah. Ia harus tetap kuat demi putrinya. Meeting pagi itu berjalan lancar. Namun, setelah selesai, Andre memilih untuk duduk santai di ruang kerjanya, melepas dasi, dan memejamkan mata sebentar. Pikiran tentang masa lalu masih sering menghantuinya. Ketukan pelan terdengar di pintu. “Masuk.” Alberto masuk membawa tablet di tangannya. “Maaf, tuan. Siang nanti anda ada jadwal makan siang dengan Nona Meta.” Andre membuka matanya, nada suaranya terdengar tegas. “Batalkan, Al. Aku tidak mau buang waktu makan siang dengan wanita seperti dia. Cari alasan lain yang masuk akal.” Alberto menunduk. “Baik, tuan. Apakah ada hal lain yang ingin anda tanyakan?” Andre bersandar di kursinya. “Bagaimana, sudah ada kandidat sugar baby seperti yang aku minta?” Alberto menggeleng pelan. “Maaf, tuan. Belum ada yang sesuai kriteria. Tapi nanti siang saya akan coba tanyakan lagi ke kenalan saya. Oh, iya tuan, untuk makan siang, anda ingin di mana?” “Di tempat biasa saja.” “Baiklah, tuan. Kalau begitu saya permisi dulu.” Alberto lalu keluar meninggalkan Andre yang kembali terdiam. Andre menatap keluar jendela kantor yang tinggi. Pikirannya kembali pada bayangan mantan istrinya. Semua momen bahagia dulu kini terasa semu. Ia masih tidak mengerti alasan kepergian wanita itu, tapi mungkin, memang ini yang terbaik. Siang harinya… Clarissa dan Melia duduk di warung kecil dekat toko. Kali ini mereka memilih nasi padang lengkap dengan es teh manis yang dingin. Clarissa makan perlahan, pikirannya masih berat. Melia menatapnya dari seberang meja. “Sa, bagaimana? Sudah yakin mau kerja tambahan?” Clarissa menghela napas. “Aku sudah tidak punya pilihan, Mel. Uang buat kuliah Alianna harus ada bulan depan, dan Mama butuh biaya berobat. Gaji di toko ini tidak cukup.” Melia ragu sejenak sebelum mengeluarkan ponselnya. “Aku sudah tanya teman kos aku. Katanya masih ada lowongan yang kemarin aku ceritakan. Kamu yakin?” Clarissa menatap sahabatnya, ada keraguan di matanya, tapi juga tekad yang perlahan muncul. “Iya, Mel. Kali ini aku yakin. Aku butuh uang secepatnya. Demi mama, dan demi Alianna.” Melia terdiam, lalu tersenyum lemah. Ia mengelus tangan Clarissa pelan. “Aku mengerti apa yang kamu rasakan, Sa. Baiklah, nanti aku kasih nomor HP teman kos aku. Kamu hubungi dia langsung, oke.” Clarissa mengangguk perlahan. “Terima kasih, Mel. Kamu sudah banyak membantuku.” Melia hanya menghela napas. “Aku cuma berharap kamu tidak menyesal nanti.” Clarissa menatap ke luar jendela warung. Angin siang berhembus panas, tapi hatinya terasa dingin. Ia tahu jalan yang akan ia pilih bukan jalan mudah. Tapi demi keluarga, ia siap mengorbankan apa pun. Malam ini Clarissa bersiap untuk bertemu teman kos Melia di sebuah restoran. Clarissa sudah rapi dan siap untuk pergi ke restoran, kali ini dia akan menggunakan taksi untuk pergi ke restoran. Sesampainya di restoran Clarissa langsung masuk ke dalam untuk menemui Meisha yang sudah menunggunya di dalam. Saat Clarissa sibuk mencari Meisha tiba-tiba ada perempuan yang sangat cantik melambaikan tangannya ke Clarissa, Clarissa pun berjalan ke arah perempuan cantik itu. "Hai, Clarissa temannya Melia bukan?” tanya Meisha. "Ahhh iya benar, saya Clarissa kok mbaknya bisa tahu nama saya?" tanya Clarissa. "Iya, aku temannya Melia dikos, sebelum bertemu sama kamu Melia kasih lihat foto kamu,” kata Meisha. "Berarti mbaknya namanya Meisha ya?" tanya Clarissa. "Iya benar,panggil aja Meisha nggak usah pakai mbak kayaknya kita seumuran kok. O, ya kenalin ini pacar aku namanya Alberto,” kata Meisha. "Baiklah Meisha. O, iya kenalin nama saya Clarissa,” kata Clarissa. "Alberto,” kata Alberto. "O ya duduk Sa, kamu mau pesan apa?" kata Meisha. "Jus strowberry saja Mei," kata Clarissa. "Oke, aku pesankan," kata Meisha yang memanggil seorang pelayan. Setelah memesan pelayan itu pun pergi lagi. "O, ya, Sa. Kamu yakin mau menjadi sugar baby?" tanya Alberto. "Iya, betul karena saya sangat butuh uang untuk ibu dan adik saya yang sebentar lagi mau daftar di perguruan tinggi,” kata Clarissa. "Oke. Besok kamu ada waktu nggak? nanti saya akan bawa tuan saya bertemu sama kamu, sekalian negoisasi tentang uang yang akan kamu terima serta perjanjian atau syarat-syarat lainnya,” kata Alberto. "Saya ada waktu saat habis pulang kerja sekitar jam sembilan malam,” kata Clarissa. "Oke nggak apa-apa ntar kamu kirim alamat tempat kerja kamu biar saya jemput nantinya,” kata Alberto. "Ahh baiklah nanti saya kirim alamatnya,” kata Clarissa. "Sudah selesai ngobrolnya kan minum dong minumannya. O, ya, Sa. Kamu tidak pesan makanan gitu," kata Meisha. "Tidak Mei aku masih kenyang,” kata Clarissa. "O, ya. Sudah kalau begitu, boleh dong kapan-kapan kita jalan bertiga sama Melia juga kalau kamu ada waktu,” kata Meisha. "Boleh kok Mei kalau lagi tidak sibuk saja," kata Clarissa. "Ngomong-ngomong apa kamu nggak di marahin sama pacar kamu kalau kamu kerja jadi sugar baby," kata Meisha. "Aku tidak punya pacar Mei,” kata Clarissa. "Masa sih perempuan secantik kamu tidak ada yang naksir," kata Meisha. "Iya, benar Mei karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan keluargaku Mei,” kata Clarissa. "Yang sabar, Sa. Pasti suatu saat nanti kamu akan menemukan kebahagianmu," kata Meisha. "Iya, Mei. Sudah malam, aku balik duluan, ya," kata Clarissa. "Mau aku dan Alberto antar?" tanya Meisha. "Tidak usah Mei, aku bisa pulang naik taksi, kalau gitu aku duluan, ya,” kata Clarissa. "Iya hati-hati di jalan, hubungi aku kalau ada apa-apa,” kata Meisha. "Iya, Mei sambil berjalan keluar restoran." Di kamar Andre yang sedang merebahkan badanya, tiba-tiba dikagetkan dengan suara handphonenya yang berbunyi. "Iya, hallo. Ada apa Al malam-malam telepon?" tanya Andre. "Ini tuan, saya mau mengabarkan, saya sudah menemukan wanita dengan kriteria yang tuan mau,” kata Alberto. "Bagus kalau begitu, kapan kita bisa menemui dia,” kata Andre. "Besok, tuan sekitar jam sembilan malam kita jemput dia ke tempat kerja dia,” kata Alberto. "Ya, sudah kalau begitu. Aku matikan handphonenya."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN