Lelaki Bermuka Dua
"Kerja bagus, An," puji Lei setelah mendengar kabar bahwa Anrietta mengalahkan lima orang musuh. Gadis itu hanya diam, tidak berani berkomentar di dekat Tuan Muda Trevor.
"Huh, kerja apanya? Yang dia lakukan cuma merusak suasana!" sergah Tuan Muda Trevor sembari memandang sinis ke arah pengawal wanitanya tersebut.
"Tidakkah kau terlalu menyudutkan Anrietta?" tanya Lei yang geram dengan tingkah Trevor. Sejak dulu, lelaki tersebut merasakan ketidakadilan yang terjadi pada Anrietta.
Trevor pun pergi, meninggalkan keduanya di halaman depan kediaman keluarga Logdawn. Anrietta menengadah ke arah langit, mencoba menahan air mata yang nyaris jatuh. Lei menepuk pundaknya pelan, kemudian memberi ruang bagi Anrietta untuk menyendiri.
Dari kejauhan, seorang wanita memanyunkan bibir ranumnya. Tangannya mengepal kuat, ingin menonjok wajah gadis bersurai hitam yang pundaknya ditepuk oleh Lei. Kilatan kebencian itu pun ia tajamkan hingga akhirnya melemparkan sebilah pisau tajam ke arah seekor burung.
Bidikan perempuan bersurai jingga tersebut meleset, berakhir dengan menancapnya pisau itu di ranting pohon. Wajahnya bertambah kesal dan segera pergi dari area kediaman keluarga Logdawn.
Anrietta yang tidak menyadarinya pun segera memasuki ruangan atasannya, Rheinna Guardana. Namun saat membuka pintu, dirinya melihat perempuan tersebut sedang bertukar saliva dengan Alfred Yovenzy. Karena merasa tidak enak, dia pun kembali menutup pintu yang baru dibuka empat puluh lima derajat.
Tanpa sengaja, dia menabrak Trevor yang tengah melintas. Lelaki tersebut marah dan menampar Anrietta.
"Saya mohon maaf, Tuan," ujar gadis tersebut tanpa berani memandang wajah Trevor.
"Jalan tuh pakai mata! Buat apa matamu itu, hah?" sentaknya sembari menarik kerah baju Anrietta. Gadis tersebut hanya pasrah menerima perlakuan kasar dari Trevor. Dirinya sudah terbiasa dan tidak berniat melakukan perlawanan apa pun.
Alfred dan Rheinna yang mendengar keributan pun segera keluar, menemukan Trevor yang terlihat marah. Lalu, dia menghempaskan Anrietta sampai membentur tembok.
Sudah bukan rahasia lagi bila Trevor sangat membenci Anrietta. Semua orang tahu, kecuali ayah dan bundanya. Tuan dan Nyonya Logdawn tertipu dengan akting anaknya yang bersikap baik terhadap Anrietta. Padahal di belakang, lelaki tersebut menginjak-injak gadis malang itu.
Esok harinya sekitar pukul lima, Anrietta melihat Lei yang bertengkar dengan kekasihnya di taman. Gadis tersebut tidak berniat untuk menguping, tapi ia takut kalau mereka putus gara-gara dirinya. Selama ini, semua kekasih Lei minta putus karena lelaki tersebut memprioritaskan An.
"Kau bilang mau menyambut atasanmu, tapi apa? Kau malah bersama wanita lain!" seru wanita bersurai jingga.
"Kalau kau nggak mau terima, ya kita putus aja," sahutnya santai. Lei tidak habis pikir kenapa dia selalu mengencani wanita pencemburu.
"Aku hanya menegur dan kau mau mengakhiri hubungan kita? Lelaki macam apa kau ini, hah?" balasnya. Matanya berkilat-kilat, menusuk jauh ke relung hati Anrietta.
"Kau sama saja dengan mantan-mantanku! Apa aku salah bila mementingkan orang lain dibandingkan dirimu? Baru jadi pacar saja sudah sok, apalagi kalau kita udah nikah!" sindir lelaki berjas hitam tersebut.
Tenggorokan gadis bernama Ellyn itu pun tercekat. Dirinya tidak mampu membalas perkataan dari Lei.
"Kau mau alasan lain? Oke. Aku tahu kau bermalam di hotel dengan pemilik restaurant. Kuanggap itu sebagai perselingkuhan," tambah lelaki tersebut sembari mengusap pelan rambut Ellyn.
Kedua netra Ellyn membelalak sempurna. Bagaimana bisa Lei mengetahui kejadian itu? Padahal malam panas tersebut hanya diketahui oleh mereka berdua.
Anrietta tak tahan, dia pergi menuju gudang senjata untuk mengambil pistol baru. Kemarin, pistolnya rusak karena digunakan untuk menahan sebilah pedang yang nyaris menancap di kepala Trevor.
Bahkan setelah dia menyelamatkan nyawanya berulang kali, Tuan Muda tidak pernah memberinya apresiasi selain cercaan dan tamparan di pipi. Anrietta tidak bisa keluar dari tempat ini karena Ibunda Trevor melarangnya pergi. Sebenarnya, wanita itu keberatan bila An menjadi pengawal utama Trevor. Rasa sayangnya pada gadis tersebut sudah seperti pada anaknya sendiri.
"Nggak apa-apa, Ma. An bisa jaga diri, kok. Lagian ada aku," bujuk Trevor waktu itu.
Dalam hati, An mengumpat. Namun dia juga tidak menyangkal kalau kalimat palsu Trevor itu membuatnya sedikit bahagia. Setidaknya, lelaki tersebut menyadari keberadaan Anrietta, tidak abai seperti biasanya.
Lamunan Anrietta buyar saat tidak sengaja tersandung batu. Dia jatuh dan meringis. Lututnya sedikit lecet. Sambil menahan rasa sakit, ia mencuci lukanya di kran terdekat.
"Jalan saja tidak becus, apalagi berkelahi!" sindir Trevor yang tiba-tiba keluar dari dalam gudang.
Dia menoleh, dilihatnya Tuan Muda sedang menenteng senapan baru, seolah pamer. Kekesalan An memuncak ketika tiada satu pun pistol yang dijumpainya di gudang. Gadis itu lalu menghubungi Alfred.
"Stoknya habis kemarin sore. Kau mau kubelikan?" tanya lelaki tersebut. Kebetulan dia sedang mencari angin segar bersama Rheinna.
"Ya, terima kasih," balas Anrietta datar, lantas menutup percakapan.
"Dia itu kenapa, sih? Badmood?" gerutu Alfred. Rheinna pun mengedikkan bahu.
Satu jam setelahnya, Anrietta bersiap menuju universitas. Sebenarnya dia enggan untuk mengenyam pendidikan, tapi Nyonya Celine tidak mau dibantah. Alhasil An kuliah di universitas yang sama dengan Trevor.
"Kamu itu siput atau apa, sih? Lambat sekali!" omel Trevor yang sudah menunggu di dalam mobil hitamnya.
"Maaf, Tuan," balas An seraya masuk, diikuti dua pengawal lain yang bertugas menjaga keselamatan Trevor di universitas.
Lelaki botak bernama Hernandez menoleh ke arah Anrietta yang duduk sendirian di kursi belakang. Dia tersenyum pahit, ikut merasakan hati gadis yang terluka. An membalasnya dengan senyum simpul.
Sesampainya di kampus, beberapa wanita memandang sinis ke arah Anrietta. Mereka tidak rela bila gadis tersebut bisa berdekatan dengan salah satu mahasiswa tertampan di Universitas Nebula.
Hernandez yang duduk di bawah pohon bersama Leon hanya bisa menertawakan wanita yang ingin menjadi Anrietta. Segala sesuatu dilakukan An dianggap salah oleh Tuan Muda Trevor.
***
"Pagi, Cantik," goda Rio pada gadis yang memandang serius ke arah Trevor.
"Pagi juga," balasnya dingin.
"Pagi-pagi liat cogan," sindir lelaki tersebut sembari duduk di bangku depannya An.
"Yakh, barangkali ada yang mau nikam tuh cowo," sahutnya malas.
Rio tertawa renyah, "Mana ada yang begituan. Paling cewe tuh, nikam pake body mereka,"
Anrietta melotot. Rio jadi salah tingkah, lupa kalau mahasiswa di depannya adalah seorang wanita. Beruntung An tidak marah, hanya mendengus kesal dan membenamkan muka ke meja.
"Katanya mau ngawasin, kok malah tidur?" ujar Rio lagi. Sebenarnya, itu cuma modus untuk melihat wajah cantik Anrietta.
Gadis bersurai hitam tersebut tidak merespon, lebih memilih untuk terbawa ke alam bawah sadarnya. Rio mendengus, lalu ikut meletakkan kepalanya di atas meja. Kepalanya memunggunggi kepala Anrietta, tapi dia bisa merasakan seseorang menatapnya.
Usut punya usut, Trevor-lah yang melihat aktivitas konyol mereka. Diam-diam, dia mengambil ponsel dan mengabadikan momen tersebut.
"Ngapain, lo? Cemburu?" tanya perempuan yang duduknya tidak jauh dari Trevor.
"Liat aja nanti," balasnya tanpa memberi kepastian.