"Ngapain kau di sini? Enggak kuliah? Ooh, jadi kamu nggak ngehargain uangnya Papa sama Mama?" cecar Trevor kemudian.
Gadis itu pun menggeleng. Dia berkata bahwa, Mama memintanya untuk mengurus semua keperluan Trevor Logdawn. Layaknya perawat eksklusif jebolan Akademi Keperawatan Logdawn.
"Mana ada Akper Logdawn," protes lelaki itu.
"Saya hanya menirukan perkataan Mama," balas Anrietta sembari membuka tirai.
Setiap pagi, perempuan itu membiarkan udara segar untuk masuk. Sirkulasi yang baik itu penting bagi kesehatan. Ruangan jadi tidak pengap.
"Kau itu beo atau apa, sih?" omelnya lagi.
Gadis berbaju putih hanya bisa menghela napas. Kemarin, harinya begitu damai dan tentram. Namun sekarang, Trevor bahkan lebih cerewet dari biasanya. Rasanya kepala Anrietta mau pecah.
"Oi, buatkan aku limun segar. Awas kalau nggak enak!" pinta lelaki tersebut seraya menatap tajam ke arah Anrietta.
"Baik, Tuan. Limun dingin atau biasa?" tanyanya memastikan.
"Limun ya nggak dikasih es. Kalau dikasih, namanya es limun. Gitu aja nggak ngerti," balas Trevor yang terlihat kesal.
Anrietta mencoba untuk sabar dan segera pergi ke dapur. Untunglah ada lemon di kulkas, sehingga ia tidak perlu repot-repot membeli buah berkulit kuning tersebut di supermarket.
Untuk mempercantik limun racikannya, gadis cantik tersebut menghiasnya dengan potongan buah lemon dan berencana menaruh sedotan putih. Seperti yang disajikan di kafe atau restoran.
Sayang, ia hanya menemukan satu buah sedotan. Takut kotor, Anrietta pun mencuci dan mengeringkannya menggunakan hair dryer.
Usai siap, ia menyajikannya untuk Tuan Muda. Lelaki tersebut tidak bisa berkomentar apa-apa karena Mama melarangnya untuk mencela makanan dan mengharuskan dirinya untuk menghabiskan semua hidangan yang sudah diambil. Namun hari ini, ia ingin melanggar sedikit petuah dari Celine Logdawn.
"An, habiskan limunku!" pintanya sembari menyodorkan gelas yang isinya sudah berkurang separuh.
Pengawal itu tergagap, dia tidak begitu menyukai minuman masam seperti olahan dari lemon. Akan tetapi, dirinya tidak bisa membantah perintah Trevor. Alhasil, Anrietta menerima gelas tersebut dan meminumnya seteguk.
"Jangan minum dari bagian situ, nanti tidak enak," saran Trevor seraya memandang wajah pengawal pribadinya.
Anrietta memiringkan kepala, tanda tidak mengerti maksud dari perkataan Tuan Muda. Lelaki tersebut memijit jidat, lantas menjelaskan, "Minumlah dari sedotan."
Gadis bersurai hitam itu pun terperangah, sebab Trevor minum lewat sedotan putih tersebut. Ia ragu, bukankah hal semacam itu hanya dilakukan sepasang kekasih?
"Kalau nggak mau bekasku, ya ganti sedotan baru, sana!" marah Tuan Muda seraya melingkupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut putih bergaris ungu dan hijau.
Anrietta menelan saliva, sudah tidak ada lagi sedotan yang tersisa. Dia tidak bisa mengganti sedotan, seperti yang diminta Trevor.
"Tuan Muda, 'kan nggak liat tuh kalau aku minum dari pinggir gelas. Gitu aja kali ya?" ujar sisi malaikat dari Anrietta.
"Eh jangan, ini kesempatan emas, lho. Kapan lagi kamu bisa minum dari bekas sedotan Tuan Muda? Jangan sampai kamu nyesel dan gigit tuh sedotan pas mau dicuci," tolak sisi iblis gadis bersurai hitam.
"Bentar. Sisi malaikat nyuruh aku mengabaikan perintah, sisi iblis minta aku nuruti permintaannya Trevor. Enggak kebalik, tuh?" bimbangnya.
Serentak, kedua sisi yang bertarung dalam diri Anrietta berkata, "Emang gue pikirin?"
Gadis itu pun menepuk jidat dengan keras, membuat Trevor penasaran dan menurunkan selimutnya sebatas leher.
"Aku nyuruh kamu buat minum, bukan nepuk dahi keras-keras," omelnya setelah melihat bahwa pengawalnya belum meminum limun yang ia berikan.
"Maaf, Tuan," balas An sekenanya lantas menyesap limun dari sedotan warna putih.
"Nah, gitu dong. Habis ini, taruh gelasnya di meja, terus belin aku steak daging sapi di restoran biasanya. Atau kamu mau ambilin di dapur juga boleh," pinta Trevor sembari menekankan kata dapur.
An tersenyum kecut, baru bertanya, "Uangnya, Tuan?"
"Pakai uang kamulah. Beli satu porsi aja buat aku. Terserah, sih, kalau kamu mau beli sarapan," balasnya kesal.
"Baik, Tuan," jawab Anrietta yang berusaha tersenyum meski batinya jengkel dan ingin mengumpat Trevor Logdawan.
"Eh bentar," cegah lelaki tersebut sesaat sebelum Anrietta beranjak dari samping tempat tidur Trevor.
Tuan Muda menarik pergelangan tangan Anrietta, sehingga gadis tersebut terjerembab ke ranjang.
Mata Anrietta membulat sempurna. Tidak menyangka kalau lelaki itu punya tenaga yang cukup meski baru saja siuman.
Tangan kanan Trevor bergerak usil di pipi Anrietta. Tatapan tajamnya membuat gadis berambut coklat tidak mampu melakukan perlawanan. Dia seolah tersihir ketika mendapat perlakuan manis ini.
"Apa otak Tuan Muda bergeser?" batinnya bingung.
Pewaris tunggal keluarga Logdawn mengembangkan senyuman yang mampu merebut kesadaran Anrietta. Menimbulkan gemuruh di d**a gadis itu. Entah kapan terakhir kali dirinya melihat senyuman ini. Sudah sangat lama hingga otaknya tak mampu mengingat.
Tangan itu ganti meraih tengkuk Anrietta. Mengikis jarak di antara mereka, hingga embusan napas saling beradu.
"Miringkan kepalamu," pintanya tanpa merasa bersalah sedikit pun.
Dengan polosnya, Anrietta menurut. Dia memiringkan kepala. Sesuai dengan apa yang diminta Trevor.
Kini, keduanya terjebak dengan napas memburu. Tapi, Trevor tak kunjung melakukan sesuatu. Padahal Anrietta sudah menantikannya sedari tadi.
Trevor menarik napas panjang. Dalam sekali sentakan, hidung Anrietta menyentuh leher Trevor. Membaui aroma maskulin yang selalu melingkupi Tuannya itu.
"Tadi ada Alice di depan pintu. Nggak usah punya pikiran macem-macem," bisiknya lembut lantas mengakhiri drama dadakan tersebut.
"I-iya, Tuan," balas Anrietta seraya menjauh. Dalam hati, ia merutuki dirinya yang berharap lebih pada sosok Trevor Logdawn. Ujung-ujungnya kena harapan palsu.
Trevor lalu berkata, "Buruan belikan sarapan! Awas kalau lama, kepalamu jaminannya!"
Anrietta pun bergegas menuju restoran terdekat menggunakan taksi, kebetulan motornya sedang diperbaiki karena ada kerusakan di bagian oli. Sesampainya di restoran, dia pun memesan satu porsi steak.
Tiba-tiba, perutnya berdemo. Maka dia menambahkan satu menu lagi, yaitu frittata. Kebetulan harganya cukup terjangkau.
Uang yang dipunyai An tidaklah cukup untuk membayar taksi menuju kediaman Logdawn, mau tidak mau, ia harus pulang menaiki bus. Beruntung ada halte tepat di seberang restoran, jadi An tidak perlu berjalan jauh untuk menaiki angkutan umum tersebut.
Ketika menyebrang jalan untuk mencapai halte, tiba-tiba bayangan Trevor kembali hadir. Senyam-senyum sendiri saat mengingat Tuan Muda menyentuhkan tangan di pipi putih bersih miliknya.
Tiba-tiba, seorang pejalan kaki melempar bahu An menggunakan kerikil, membuat gadis tersebut menoleh ke belakang. Anrietta melihat kerumunan yang menunjuk sebelah kanannya. Ia penasaran dan menoleh.
Sebuah sepeda motor berkecepatan tinggi menekan klakson dengan nyaring, tapi An tetap tidak bergeming. Harusnya pengawal seperti dia memiliki refleks yang bagus. Namun entah kenapa ia hanya melongo, melihat kelebat Trevor yang berdiri di sudut jalan.