Mengembalikan Rindu
Aku sedang di dapur untuk membuat makan malam, saat sebuah notifikasi email muncul. Biasanya notifikasi seperti ini kuabaikan, tapi deretan huruf “Yogi” di alamat email itu membuatku akhirnya membukanya. Sebuah file disematkan. Aku membukanya. Tampaklah gambar bangunan salah satu hotel di pusat kota. Di foto lain, sebuah senyum dengan secangkir coklat di tangan pemilik email membuatku mematikan kompor. Aku bergegas memesan taksi online kemudian bersiap. Jantungku berdebar. Bukan hanya karena semuanya harus dilakukan dengan cepat, tapi setumpuk kerinduan harus dikembalikan ke pemiliknya.
Begitu taksi datang, aku bergegas berangkat. Melupakan rutinitas panjang yang sebenarnya harus aku lakukan. Aku tak tahu kenapa harus lewat email, yang sudah barang tentu jarang kubuka. Kenapa bukan w******p, messenger, atau twitter? Aku memikirkan kemungkinan itu selagi aku semakin mendekat ke tempat yang dia kirimkan padaku. Hotel itu terletak lumayan jauh dari rumahku yang termasuk desa. Beruntung Wonogiri bukanlah kota besar yang seringkali macet, sehingga aku bisa sampai di tempat yang ada di foto dengan lebih cepat.
Begitu sampai, aku mengamati sekeliling area parkir dan aku menemukan motor yang masih sama yang sering memboncengku dulu. Aku melihat motor itu terparkir di pelataran, artinya dia masih ada di tempat yang sama. Saat aku turun dari taksi, aku memburunya dengan setengah berlari menuju café yang ada di lantai dasar hotel, namun ternyata kami berpapasan di luar gedung.
Genderang di jantung kembali ditabuh. Debar - debar rindu mengiringi setiap langkahku mendekatinya. Seperti yang lalu -lalu, dia hanya tersenyum.
“Apa kabar?” tanyaku.
“Baik, harusnya kamu ga perlu kesini,” jawabnya sembari menyibak helai rambut yang menutupi dahiku.
“Kamu yang kirim email,” jawabku dengan terengah-engah lalu melanjutkan pertanyaanku, “Eh, kenapa harus email sih? Kenapa bukan messenger, atau wa gitu?”
“Aku cuma pengin ngabarin kalau aku masih hidup, terus kebetulan lewat sini. Sengaja berharap ga langsung kamu buka. Ini aja udah mau berangkat lagi,” jawabnya masih dengan tersenyum.
“Acara apa, bukannya kamu kerja di Surabaya ya?” tanyaku lagi.
“Kerjaan lintas kota, hahahaha”, katanya sambil terbahak.
Aku menghambur memeluknya. Melingkarkan tanganku pada pinggangnya dan berusaha menyandarkan kepalaku pada dadanya. Tapi dia selangkah mundur. Seolah mengingatkan bahwa kami tak seharusnya berpelukan di tempat umum. Aku tersenyum malu.
“Kamu motoran dari Surabaya Yo?” tanyaku cemas.
“Ya gak lah Na, tadi naik kereta, trus ngambil ini motor di rumah Purwantoro,” jelasnya.
“Berapa lama kita tidak bertemu?” tanyaku sembari naik ke motornya dan dia mengangsur helm padaku.
“4 tahun, sejak orangtuamu marah-marah, sejak aku menikah, sejak aku kehilangan handphone dan semua akses tentangmu, yang tersisa hanya alamat emailmu di inbox gmailku,” jawabnya lalu menstarter motornya.
“Pantas saja aku begitu rindu,” jawabku lirih.
Kami sampai di sebuah supermarket pinggiran kota. Begitu turun dari motornya, aku berusaha membuka pengunci helm yang sulit. Dia kemudian membantuku membukanya lalu menunjuk ke coffe corner di pelataran supermarket itu.
“Tunggu disana, aku masuk sebentar”.
“Lama ga?” tanyaku.
“Kamu buru – buru? Ada acara?” dia balik bertanya.
Aku lama terdiam. Sebenarnya aku, tentu saja tidak bisa pergi lama-lama tanpa pamit ke orang rumah. Tapi kesempatan bertemu dengannya, bisa jadi hanya sekali ini.
“Ga sih, tapi bosen kalo nunggu lama,” jawabku akhirnya.
“Ok, aku selesaiin secepat mungkin”.
Setengah berlari dia masuk dan terlihat berbicara pada keamanan yang lalu mengantarnya. Agar aku tak jenuh, aku memesan jus alpukat dan secangkir cappucino. Dia selalu suka cappucino. Sedang aku tak pernah suka kopi, jenis apapun. Mataku tertuju pada motor bercat biru dengan stiker sun goku di salah satu sisinya itu. Motor itu pernah kemana-mana denganku. Dia mengantarku kuliah, mengobati rasa laparku, sabar menanti di parkiran ketika aku memilih novel di rentalan. Tersadar dari lamunan aku lalu menghubungi Mama. Kukatakan aku sedang menjenguk teman, mumpung ada teman yang juga menjenguk. Kenapa tidak jujur? Tidak mungkin!
Teringat ketika Yogi terakhir kali menemuiku dan keluargaku lalu membawa kabar pernikahannya yang terlanjur berlangsung karena ditodong di depan jenazah ibu si mempelai wanita. Saat itu dia tak punya cukup hati untuk membuat rumah duka itu harus bertambah dukanya jika dia menolak dan mengatakan sesungguhnya. Hanya karena dua kali mengantar gadis itu pulang, yang tak lain adalah adik tingkat kami. Lalu keluarga si gadis menganggap mereka pacaran dan cita – cita sang ibu adalah melihat gadis itu menikah. Maka mereka dinikahkan saat itu juga bahkan tanpa ijin orangtua Yogi. Pun gadis itu memang mencintainya. Maka dia dan keluarganya tak bisa menghindar. Dia hanya bisa mengatakan tentang duka itu kepada keluargaku dan pulang dari rumahku sebagai orang yang terusir. Kami sudah bertunangan. Meskipun tanggal pernikahan belum ditentukan.
Aku percaya semuanya? Iya. Aku masih selalu mempercayainya. Bahkan masih selalu mencintainya. Pernah terpikir untuk jadi istri keduanya. Dan itu kuungkapkan saat malam yang sama.
“Ma, tapi Yogi ga sengaja, bukan salah dia. Ma, beri kami satu kesempatan lagi,” rajukku.
“Gila kamu Na, mau jadi perebut suami orang kamu!” Papa membentakku.
“Kalo memang harus jadi istri kedua aku ga apa-apa kok Pa,” kataku sambil menghapus air mataku.
“Ga, Papa nyekolahin kamu supaya kamu sukses, supaya kamu bahagia. Kalau cuma untuk jadi istri kedua. Sudah papa kawinin kamu sama juragan mangga.”
Ruangan hening.
Saat itu sekali lagi Yogi angkat suara, “Bapak, Ibu, antara saya dan Naya sudah tidak ada hubungan lagi. Sebisa mungkin saya tidak akan mengganggu Naya lagi. Dengan mohon maaf yang teramat besar dari saya dan keluarga, saya pamit. Semoga masih bisa tersambung silahturahmi walau akhirnya seperti ini.” Dia berdiri lalu menyalami Papa dan berlalu hanya dengan menatapku. Aku tahu dia teramat ingin menyentuhku. Tapi tentu saja tidak berani. Tatapan mata itu aku tak bisa melupakannya hingga hari ini. Ketika kutemukan diriku yang menangis di pelukan Mama dan pada matanya yang juga menggenang air mata. Kami hanya sepasang muda mudi yang dikalahkan keadaan.
Gosip perempuan itu telah hamil lebih dulu, sehingga mendadak dilakukan pernikahan juga santer terdengar. Tapi waktu membuktikan bahwa kejadiannya memang tidak seperti itu. Aku dan keluargaku yang ikut tersangkut paut dalam setiap cerita yang beredar membuat Papa segera ingin menikahkanku juga.