Kamu Berhak Bahagia Na

1062 Kata
Begitu aku selesai memarkir motorku, Indar langsung saja ada di belakangku. Seperti pemalak yang haus informasi eh, bukan seperti intelejen negara yang harus segera tahu rahasia demi keamanan negara, dia menarikku ke rest area di dekat parkiran. “Ga cek log dulu apa?” tanyaku. “Halah masih 30 menit lagi aja.” “Kalau udah ngobrol suka lama dan lupa kan?” “Iya deh nurut, yuk cek log dulu.” Kami lalu menuju ke lobbi untuk mengantri di depan mesin finger print. Setelah selesai, kami keluar lagi dan mulai menepi di rest area dekat kantin. Aku mulai menceritakan dari siapa jepit itu dan mengapa ada kenangan di dalamnya. “Jadi itu jepitnya pernah kamu kasihin ke dia gitu?” Indar bertanya teramat antusias. Aku hanya mengangguk. Awalnya aku hanya bercerita sedikit bahwa seseorang mengirimkan cindera mata padaku sedangkan aku mengira itu adalah eyeliner yang kupesan di online shop. Tapi dia terus bertanya mengorek semua informasi dariku. Di tengah perbincangan kami, Susi mendekat dengan tas jinjingnya yang lumayan besar, pasti ada tepat bekal di dalamnya. Dia melihat pada kami yang sedang ngobrol dan ikut nimbrung meskipun sambil berdiri. “Cek log dulu gih, ntar bareng-bareng masuk ruangan, telat mampus aku, anak baru main bandel jam kerja,” kataku. Susi pun menurut mengiyakan, kami lalu berjalan melewati lorong yang menghubungkan lobbi dengan ruangan kerja kami. Setelah sampai di ruangan, kami melihat Rudi sudah berkutat dengan beberapa data yang ada di mejanya. Indar kembali mendesakku berbicara melanjutkan tugasku memenuhi rasa penasarannya. Akhirnya aku hanya bisa berpasrah dengan pertanyaannya yang menggiring tentang dari mana jepit rambut itu, siapa dan ada hubungan apa si pengirim denganku. Dan pastinya bagaimana jepit rambut itu ada padanya dan sekarang mengapa harus kembali ke tanganku. “Kamu tahu, tadi pagi aku terbangun di bawah tempat tidur,” kataku sembari menyuapkan cookies ke mulutku. “Dipindahin setan?” tanya Indar. “Hust, aku glundhung Ndar, Indar,” jawabku gemes. “Hahaha, kenapa? Kurang luas tempat tidurmu,” Indar tertawa terpingkal. Aku terdiam, mempertimbangkan untuk jujur atau membiarkan Indar puas dengan imajinasinya. Tapi kelebatan memory setiap adegan di mimpi semalam menganggu fokusku. Gerakan tangan Yogi memakaikan jepit itu lagi di rambutku, senyum tipisnya saat memandangku, juga belaian tangannya setelah menyingkirkan anak rambut yang menghalangi dahiku. Semuanya memang pernah menjadi nyata. Tapi ketika kami telah lama tak bersua, setelah dia menjaga dirinya untuk tidak terlalu dekat, kemesraan yang dibingkai tidur itu menjadi pelipur sekaligus khayalan yang aku ingin menjadikannya kenyataan lagi. “Eh, kok malah jadi ngelamun, jadi kenapa tidurmu bisa pindah tempat?” “Aku mimpi dia memasangkan jepit itu di rambutku, aku mimpi dia semakin dekat padaku sampai-sampai aku jatuh ke pelukan lantai alih-alih jatuh ke pelukannya,” mungkin wajahku memerah saat Indar tertawa terpingkal-pingkal mendengar kalimat penjelasku yang terakhir. “Ya udah sih, ga usah ngakak gitu juga, yuk kerja dulu, ntar dilanjut lagi,” tegur Susi. Aku pun menurut. Segera menyalakan komputer yang ada di hadapanku dan melihat tumpukan map di samping CPU yang memanggil untuk diinput lebih dulu. Di ruangan kami hanya ada kami berlima dengan atasan kami diruangan yang tersekat. Tugas kami adalah menginput data barang yang akan siap dipasarkan termasuk lokasi dan tujuan pemasaran dengan perkiraan bea harga pasar dan transport. Setiap permintaan harus disesuaikan dengan stok yang sudah diajukan oleh divisi persediaan dan produksi. Kami hanya tinggal mengecek email dan menindaklanjuti permintaan pasar yang masuk ke pemesanan saja. Saat di ruang kerja, kami saling terdiam bekerja. Bercanda pun tidak banyak dan  tidak membahas sesuatu yang terlalu panjang. Masing-masing kami tekun dan tenggelam pada tugas-tugas kami. Tapi dengan cepatnya, kami segera tersadar lepas bebas tugas begitu terdengar alarm makan siang. Masing-masing kami berhamburan mencari secangkir kopi atau sesuap nasi untuk mengisi perut yang semakin protes. Siang ini, kami berempat bertahan di ruangan. Pak Broto sudah menyiapkan nasi kotak untuk kami karena kemarin beliau dapat arisan kantor. Maka kami hanya berada di ruangan sambil menikmati nasi kotak. Indar menyeduh beberapa cangkir kopi untuk kami ngobrol setelah makan.  “Kalo aku sih Na, mending kamu stop deh mikirin dia, kamu juga berhak punya masa depan yang lebih baik kan?” ujar Susi sembari menyuap sepotong wortel. “Kok jadi bahas itu lagi?”tanyaku. “Kamu pikir yang tadi pagi selesai? Enak aja,” kelakar Indar. “Aku belum tahu masalahnya, kalian pada bahas apaan?” tanya Rudi. “Kalau kamu memintaku mengulang dari awal aku angkat tangan,” jawabku sambil menunduk. Indar pun membuat sinopsis lisan dari cerita yang sudah kubagi untuknya. Rudi mendengar sambil manggut-manggut seolah ini hal penting yang harus dia dengar tanpa terlewat. “Jadi bisa dibilang kamu sedang dekat sama suami orang ya?” pertanyaan Rudi terdengar sangat menohok di telingaku. Ingin tersinggung tapi aku tak mampu. Iya kan? Aku memang sedang terjerat perasaan pada suami orang. Aku sendiri yang memilih menambatkan rindu dan berharap lebih pada Yogi yang notabene sudah menjadi mantanku. “Ya tapi ga senegatif itu juga kalimatnya Rud,” kataku sambil melempar kulit jeruk ke arahnya. Alih-alih menghindari lemparanku, Rudi justru menangkap kulit jeruk yang kulempar padanya dan membuangnya ke tempat sampah yang ada di sampingnya.   “Tapi kamu kan ga punya niat buat ngrusak hubungan dia dengan istrinya Na, kamu cuma masih ingin berteman kan?” kata-kata Indar terdengar bagai oase di gurun. Membuatku mengangguk dengan segera. Ya, aku hanya ingin berteman. Aku hanya belum bisa kehilangan dia lagi setelah sekian lama akhirnya aku bisa bersamanya. Aku tidak akan merebut dia dari istrinya. Aku tidak akan mengganggu rumah tangganya, tapi hanya ingin selalu  mendengar kabar darinya. Tapi ucapan Susi pun ada benarnya, ketika semakin aku mengharapkannya, mungkin aku lupa bahwa tentu bukan prioritasnya lagi. Aku bukan siapa-siapanya lagi. Saat itulah besar pengharapanku tidak akan sesuai dengan besarnya kekecewaanku karena merasa menunggu. “Dia memang ga ada cita-cita merusak rumah tangga orang, tapi kalau dia terus-terusan nunggu dan berharap bertemu kembali, dia ga akan punya waktu untuk lebih menikmati yang ada kan?” ucap Susi sambil mengemasi kotak makan siangnya dan membawanya ke wastafel di depan ruangan. Dia kembali dan mengelap kotak makannya dengan tisu kering lalu memasukkannya kembali ke wadahnya sebelum memasukkannya ke tasnya lagi. Ribetnya orang diet. “Aku ga pernah nunggu dia sampai lupa bahagia kok,” kilahku. “Iya, tapi pas kamu lagi bahagia dan tiba-tiba dia chat lalu hilang lagi kamu bakal balik sedih kan?” kali ini Rudi yang membuat analogi kesedihanku. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN