Sedari tadi wanita berambut light brown itu mengobrak-abrik isi tas-nya. Soya lupa menaruh buku tulis matematika nya dimana. seingat nya ia menaruhnya terakhir kali di dalam tas nya, tapi ternyata tidak ada. soya sudah mencari di atas meja belajar, di lemari buku dan di tempat lain. Tapi tetap saja buku itu tidak ada.
"mampus besok ulangan!" soya memukul keningnya sendiri, ia baru ingat bahwa besok akan ada ulangan matematika. Benar-benar beban hidup sekali.
"tanya rose aja kali ya, tapi kan aku gak punya pulsa. Telpon rumah juga mati. Apa beli pulsa dulu ya? Tapi kok malem-malem?"
berbagai opini yang soya lontarkan untuk dirinya sendiri. Menimbang-nimbang. Kira-kira apa yang harus ia lakukan sekarang.
soya takut jika harus pergi beli pulsa malam-malam begini. soya juga sendirian dirumah. Wanita berambut light brown lurus itu mondar-mandir karena bingung harus melakukan apa .
Setelah beberapa menit soya berfikir. Akhirnya ia memutuskan untuk keluar membeli pulsa, yah walaupun ia takut, Tapi mau bagaimana lagi. Soya hendak mengambil jaket nya, namun tiba-tiba handphone nya berbunyi. Soya segera berlari mengambil handphone nya. Sungguh keberuntungan untuk soya, panggilan telfon itu ternyata dari vino.
"halo"
"kak vino, ya ampuun kak akhirnya kakak telfon juga. Aku gak punya pulsa jadi gak bisa telfon kakak. Ya ampun bingung banget aku sekrarang," cicit soya dengan nada panik.
"ada apa?"
Astaga, dari nada bicara vino sepertinya pria itu tidak khawatir. Nada suaranya terkesan santai dan biasa saja. Tapi tak apa , vino memang begitu.
"yang, buku matematika kamu kok ada didalam tas ku ya?"
Mata soya terbuka lebar, begitupun juga mulut soya. Buku yang sedari tadi ia cari-cari ternyata ada didalam tas vino. Bagaimana bisa?soya lupa juga.
"ya ampun dari tadi aku cariin buku itu, aku hampir mau nangis. Soalnya buku itu penting banget kak. Besok ulangan, kakak bisa anterin buku nya gak? Tapi kalo gak mau-"
"OTW"
Belum selesai berbicara, vino langsung memotong ucapan soya. Dan pria itu mematikan panggilan yang sedang berlangsung begitu saja karena bergegas ke rumah soya.
Ah, senang nya punya pacar yang peka seperti vino. soya berjalan ke meja rias untuk menatap wajah nya sendiri. Setidaknya wajahnya harus cantik didepan pacar nya soya memakai kaos king size warna hitam yang diberikan vino waktu ia ulang tahun di usia nya ke 16 tahun .
Sangat pas sekali momenya, vino akan datang kemari dan soya memakai kaos ini . soya tidak memakai celana panjang, Ia hanya makai celana pendek hitam yang bersembunyi dibalik kaos king size yang ia kenakan .
Soya kemudian menyemprotkan parfum dengan aroma vanila di seluruh pakaian nya. Rambutnya ia biarkan tergerai indah. Setelah dirasa penampilanya sudah bagus soya beranjak dari kamar-nya menuju pintu utama untuk menyambut kedatangan vino.
***
soya belari kecil menuju teras rumah nya, ketika melihat motor vino sudah memasuki area halaman rumah nya. soya sedikit melangkah agar lebih dekat dengan vino yang sedang mematikan mesin motor nya.
"kak vino," panggil soya membuat vino menoleh menatapnya,
"nih buku nya, cepetan belajar gih."
Soya memajukan bibirnya ketika menyadari vino yang tak mau turun dari motor. Pacar nya ini hanya mengantar buku nya saja dan tidak berniat masuk kedalam rumah nya.
"masuk dulu kak," ajak soya
Vino menggeleng dan tangan nya bergerak menghidupkan motor nya lagi.
"aku harus pulang, aku juga mau belajar. Besok aku ujian juga," ujar vino sedikit memundurkan motor nya. Reflek soya berjalan maju.
"ya udah deh, makasih ya kak. Hati hati dijalan!"
Vino menoleh sebentar dan tersenyum pada soya yang sedang memeluk buku tulisnya dengan erat.
"soya cantik banget, harum lagi," batin vino.
Lalu vino dengan cepat mengegas motornya dan pergi. Sudah dandan, pakai parfum dan serba -serbi lainya. Tapi vino hanya bertemu dengan nya singkat. Soya hanya bisa mengerutkan bibir nya sekarang.
"kadang cuek, kadang romantis, kadang gila, kadang bikin gemes. Dasar kak vino." gumam soya sendiri sebelum akhirnya ia melangkah masuk kedalam rumah.
***
Sudah 2 bulan berlalu dengan cukup baik. UTS sudah usai, tinggal menunggu UAS. Akhirnya soya bisa bernafas lega setelah berminggu-minggu otak nya di penuhi dengan pelajaran-pelajaran sekolah.
"soya ayok pulang " ujar rose melingkarkan tanganya ke pundak soya.
"aku ke kelas kak vino dulu ya, kamu tunggu di parkiran aja," ujar soya.
"huh, ya udah lah, gue duluan ya." rose beranjak melangkah pergi dan soya hanya tersenyum menatap rose yang semakin jauh.
soya berjalan ke arah kelas vino. Ternyata anak kelas vino sedang berkumpul diluar kelas, mungkin mereka mengobrol. dan pandangan soya jatuh kepada vino yang sedang tertawa renyah dengan seorang perempuan yang tak lain adalah dania. soya merasa cemburu.
bagaimana tidak, vino itu sangat jarang sekali tertawa lepas. tapi ketika bersama dania, vino bisa tertawa lepas seperti ini. Dasar!
Dania sadar ada soya di belakang vino yang sedang menatap mereka tajam . Dengan cepat dania memberikan kode dengan matanya yang mendelik kearah soya. Vino mengikuti arah pandangan dania dan melihat soya yang bermuka masam disana.
"aku duluan ya."
vino segera menghampiri soya, ia tau soya pasti cemburu saat ini. Sedangkan dania hanya mengangguk dan tersenyum .
Beberapa langkah menuju tempat soya berdiri. Wanita itu masih menatap kesal vino , dan vino senang karena pacaranya ini sedang cemburu .
"mau pulang ?"
"seru banget ya? Ketawa kenapa sih?"
soya berusaha tersenyum tapi wajah nya tak bisa membohongi vino . Wajah soya terlalu terlihat kesal dan cemburu karena vino mengobrol dengan dania tadi .
"cemburu? astagaa dia kan bendahara osis. Aku gak ada apa apa sama dia . Tadi ketawain si jimmy pas rapat osis. Jiimin ketiduran pas rapat terus ngiler," jelas vino dan pria itu tertawa mengingat peristiwa jimmy tadi.
soya juga ingin tertawa mendengar jimmy, pacar yang selalu dibanggakan rose. ternyata kalo tidur suka ngiler. Tapi disisi lain, soya menjaga image nya. Dia tetap kesal dengan vino dan dania tadi.
"udah dong sayang, gak usah marah. Pulang yuk." vino menarik tangan soya dan mengajak wanita itu pergi menuju tempat parkir.
"masih marah?"
"gak marah kok kak, cuma kesel aja " jawab soya
"maaf soya, aku minta maaf. Janji gak gitu lagi," ujar vino merangkul soya.
soya menarik kepalanya untuk menengok kekanan dan kekiri. ia khawatir jika ada guru yang melihat vino merangkulnya. Tapi seperti nya aman, mungkin guru sedang rapat di kantor.
"gimana kalo kita main dulu? " vino menatap soya.
"gak ah, badan ku pegel-pegel. Dari kemaren pusing."
"kamu sakit soy? " vino menatap soya khawatir
"engga tau, kayak nya gara gara main hujan-hujanan kemaren sama abang choky. Maklum lah aku sama abang ku kan suka banget sama hujan." jelas soya mendapat helaan nafas dari vino.
"ya suka sih suka soy, tapi kalo sakit gimana?"
"kalo sakit minum obat lah," ucap soya santai, tanpa memikirkan perhatian yang diberikan vino tadi .
"ohh dasar ya kamu."
"hehe."kekeh soya berlendet ketubuh vino saat sedang berjalan dikoridor.