chapter 2

1040 Kata
Jangan lupa vote nya :) soya merasa sesak ketika sebuah tangan besar berada di atas dadanya. Soya membuka mata nya perlahan, lalu ia menoleh ke belakang sebentar. pria bernama vino yang sangat ia cintai sedang memeluk nya. Tubuh tanpa terbalut sehelai benang pun di tutupi oleh selimut tebal. Soya mencoba untuk bangun lebih dulu, tubuh nya ia paksakan untuk mengambil posisi duduk. soya meringis kesakitan pada area bawah nya. Sebenarnya, soya menyadari bahwa yang ia lakukan bersama vino adalah salah. Ada penyesalan dalam dirinya. ada juga perasaan takut yang menyelimuti hati dan pikiran nya. soya segera beranjak masuk ke kamar mandi, ia melangkah perlahan karena area bawah nya terasa sangat sakit. Soya berniat untuk membersihkan badan nya yang terasa lengket. *** vino mulai merasa tak nyaman ketika sinar matahari menelusuk masuk kedalam kamar yang sedang ia tempati sekarang dan sinar itu membuat nya mengerjapkan mata berkali-kali. vino melirik ke sebelah nya. dimana soya? Mata nya berkeliling mencari sosok soya yang seharusnya ada disamping nya. vino menyadari keadaannya sekarang, dengan cepat ia mengambil baju dan celana nya yang tergeletak di lantai untuk ia pakai kembali . Ceklek Vino menoleh ketika mendengar suara pintu kamar terbuka. ternyata itu soya yang sudah berpakaian rapi dengan membawa teh diatas nampan plastik berwarna pink. vino tersenyum kepada soya, menatap kekasihnya itu yang sudah terlihat rapi dan cantik. soya menutup kembali pintu kamar nya, lalu ia berjalan dengan hati-hati ke arah vino yang sedang duduk di pinggir ranjang. "Udah bangun ternyata." soya meletakan teh nya di meja, di dekat vino duduk . "sana mandi, abis itu makan." tutur soya, sambil membereskan selimut dan seprai nya yang berantakan. "kamu mau cuci ini?" tanya vino, mata nya melirik sebentar ke seprai yang soya tarik. "iya lah, kamu gak lihat kalau banyak noda darah, dan- ya itulah pokok nya, awas minggir!" Mendapat peringatan dari soya, vino langsung berdiri dan ikut membantu wanita itu menarik seprai nya. Soya hanya tersenyum melihat vino yang ikut membantu nya . "loundry aja," kata vino. "emang!" cetus soya. lagi pula soya tak mampu mencuci seprai selebar ini dengan keadaan nya sekarang. "udah sana kamu mandi, aku bisa sendiri kok." soya menyuruh vino untuk segera mandi dan yang disuruh hanya menganggukan kepala nya patuh. Vino melangkah masuk kedalam kamar mandi, sebelum benar benar-masuk ke kamar mandi vino sempat melirik soya dan tersenyum. *** Setelah selesai dengan ritual mandi nya, vino melangkah keluar kamar mandi dengan setelan baju yang sudah soya sediakan sebelum nya. Memakai kaos putih bertuliskan Celine dan celana putih panjang. serta rambut gondrong yang masih sedikit basah, membuat vino terlihat tampan dan sexy. vino menatap soya yang sedang duduk diam di pinggir ranjang sambil memainkan jari nya, seolah sedang memikirkan sesuatu yang penting. vino berjalan dan duduk di kursi yang ada didepan soya. Wanita itu menatap vino yang membenarkan posisi duduk nya saat ini. Sudah merasa nyaman dengan duduk nya, vino meletakan tangan kanan nya di dagu dan menatap soya yang terlihat sedih. melihat wanita nya sedih vino juga ikut sedih. walaupun vino tidak tahu kenapa soya sedih. "kamu kenapa sedih gitu, ada apa sih?" tanya vino. "aku takut kak. takut bangett," jawab soya dengan ekspresi wajah nya yang terlihat takut, cemas dan juga bingung. "takut kenapa, sayang?" vino mencoba menjadi pendengar yang baik. ia perhatikan wajah yang sedang cemas saat ini. "aku takut hamil, kak!" Wajah vino langsung berubah menjadi cemas, tapi ia berusaha untuk menyembunyikan ekspresi itu dari wajah nya dan menarik senyum nya. "jangan takut, aku bakal tanggung jawab kok," ucapan vino terlihat sangat meyakinkan. tangan vino terulur mendekati wajah soya, dielus nya wajah soya dengan sangat lembut. "Kakak gak bohong kan?" soya mencoba bertanya kembali. ia hanya ingin memastikan ucapan vino tadi. "iya sayang. lagi pula kalau kita berani berbuat berarti kita juga harus berani bertanggung jawab kan? kamu jangan khawatir, aku akan selalu bersama kamu dan melindungi kamu." ucap vino meyakinkan soya. membuat wanita dihadapan nya sedikit lega dan tidak begitu takut lagi . *** soya benar-benar sangat bosan berada didalam kelas. apalagi sekarang mata pelajaran matematika, pelajaran yang sangat ia benci. "jam berapa ?" tanyas soya kepada rose yang merupakan teman sebangkunya. Yang ditanya langsung menarik tangan nya dan menatap jam yang melingkar indah dipergelangan tangan nya. "Jam 10, tenang aja bentar lagi istirahat,"ucap rose pada soya. "Aku bosen, laper juga."soya mendaratkan kepalanya di meja, tangan nya mengambil pulpen dan mencoret-coret meja kayu milik nya asal. itulah cara soya jika ia sangat bosan. meja nya sebagai pelampiasan rasa bosan nya. "sabar, bentar lagi." rose menepuk pundak soya seolah menyalurkan kekuatan untuk sahabat nya itu. Kringg... Tak perlu waktu lama, akhirnya mata pelajaran matematika pun berakhir. soya bersorak gembira. dengan cepat soya membereskan buku tulis, buku cetak dan pulpen yang ada di atas meja nya . "Yes! akhirnya bisa ke kantin." setelah selesai memasukan peralatan sekolah nya ke dalam tas, soya bergegas keluar kelas bersam rose. soya dan rose melewati kelas 12 IPS, dimana itu adalah kelas vino. Sadar karena soya jalan nya melambat dan tatapan nya kearah kelas lain, lantas rose menyadarkan soya dengan menggoyangkan lengan nya. "soy, kenapa sih. jalan nya cepet dong!" "Nanti, aku tunggu kak vino keluar kelas dulu," ucap soya sembari mengintip jendela kelas vino "Yaelah, bucin nya kumat!" cibir rose "Halah, kamu juga bucin sama jimmy kan." cibir soya ganti "Tapi gak sebucin kamu, soy…"cicit rose dan memandang kearah lain dimana sebelumnya ia memandang soya. "kekantin duluan aja, nanti aku nyusul sama kak vino." ujar soya, bermaksud agar rose tidak menunggu nya. karena ia tau rose juga sudah ingin pergi ke kantin dan pastinya ingin segera menemui jimmy, kekasihnya. "ya udah, gue duluan ya. Awas kalo gak nyusul!" ucapnya seperti mengancam soya. "iya-iya." Rose melangkah pergi dan meninggalkan soya sendirian. soya masih setia menatap vino yang sedang ada dikelas. Ya walaupun vino tak menatap soya, soya merasa senang karena bisa melihat vino disana. 5 menit kemudian vino beserta teman-teman nya keluar kelas. Soya langsung merapikan baju sekolahnya sebelum bertemu dengan vino. Menurutnya penampilan itu penting! "soya!" soya lantas menolehkan kepala nya saat mendengar vino memanggil nya. Pria itu berjalan cepat menghampiri soya yang tampak sibuk dengan rambut nya. "sayang?" "ah, iya?" "ayo," ajak vino mengulurkan tangan nya. soya tersenyum lalu mengulurkan tangan nya dan menyatukan nya dengan telapak tangan vino.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN