Silvermoon Pack terlihat sibuk, karena akan diadakan upacara penyambutan Alpha yang baru. Sean Aldirch Anderson adalah nama Alpha baru itu. Sean terlahir dari pasangan Werewolf dan penyihir.
Ayahnya seorang Wereweolf dan ibunya penyihir. Diumur 20 tahun Sean sudah harus siap menjadi seorang Alpha. Saat masih menjadi calon alpha, Sean sering terjun dalam pertempuran. Pertempuran yang Sean pimpin tidak pernah terkalahkan. Dia selalu memenangkan semua pertempuran. Sean di kenal sebagai calon alpha yang dingin, tegas dan berwibawa.
Sean selalu di kelilingi wanita cantik di sekitarnya tapi Sean tidak pernah memperdulikan mereka. Sean setia menunggu matenya, pasangan yang sudah di takdirkan Moon Goddess untuknya. Selama ini Sean sering bepergian untuk mencari matenya tapi Sean masih belum mendapatkan hasilnya.
“Kau siap untuk penobatanmu malam ini?” tanya sang ibu
“Siap Mom” Sean sangat yakin jika dia sudah siap menjadi Alpha dan raja dari clan werewolf.
“Bagus, itu baru putra Mommy” ibu Sean menepuk pundak putranya bangga. Ibunya pun pergi meninggalkan kamar Sean
“Hey dude” seorang lelaki bertubuh tinggi bertelinga peri datang dengan setelan jas yang melekat di tubuhnya menghampiri Sean
“Kau datang Richard” lelaki yang dipanggil Richard itu mengangguk. Richard adalah sahabat Sean, pertemanan mereka sudah terjalin dari kecil. Bersama dengan Kai dan Bryan. Richard adalah seorang Alpha dari Bloodmoon Pack. Salah satu pack terkuat setelah Silvermoon Pack.
“Taku datang. Bagaimana bisa di acara penobatanmu aku tidak datang”
“Dimana Betamu yang cerewet itu? Biasanya dia selalu menempel di belakangmu” Sean mencari Bryan yang selalu berbicara dan menempeli temannya. Bahkan dulu Sean mengira jika Bryan temannya itu belok.
“Aku memberinya tugas, jadi untuk sementara telingaku aman dari suaranya. Aku heran dengan matenya, apa telinganya tidak panas mendengar Bryan selalu berbicara terus-menerus” Richard bergidik membayangkan kalau dia mempunyai mate yang mempunyai karakter seperti Betanya. Bisa-bisa telinganya lepas karena mendengar suara seperti Bryan hampir 24 jam.
Sean terkekeh mendengar ucapan Richard. Sean sendiri bingung bagaimana mereka bisa tahan bertahun-tahun berteman dengan Bryan yang mulutnya mengalahkan wanita.
“Sudah waktunya penobatanmu. Ayo cepat turun” Sean mengangguk. Richard menepuk bahu Sean lalu beranjak turun kebawah lebih dulu.
Sean mulai turun ke bawah. Setelah ayahnya mengucapkan pidatonya ia mulai dipanggil untuk naik ke atas untuk mengucap sumpahnya. Ayah Sean menepuk bahu putranya dengan senyum bangga. Setelah itu ayah Sean mulai mengiris telapak tangannya dan menaruh darah yang keluar kedalam cawan emas dan menaruh di depan Sean yang akan mengucapkan sumpahnya.
“I am Sean Aldirch Anderson. Alpha Silvermoon Pack and the King of the Werrewolf clan. Accept all responsibility and vowed to protect all werewolf peoples. Always be leader who is fair and honest”
Setelah sumpah di ucapkan lalu Sean melakukan percampuran darah dengan darah ayahnya. Sean mengiris kecil telapak tangannya dan menaruh darahnya di dalam cawan emas bercampur dengan darah ayahya dan meminumnya.
Setelah itu mereka berubah menjadi Werewolf dan mengikuti sang Alpha mengelilingi pack sebagai tanda kekuasaannya.
Setelah mengelilingi pack mereka melakukan pesta semalaman. Banyak sekali bangsa immortal yang datang selain bangsa Werewolf ada Vampire, Mermaid, Fairy dan Elf. Sedangkan sang Alpha baru sedang termenung di balkon kamarnya. Sean tidak menikmati pesta sama sekali. Pikirannya sedang melayang memikirkan dimana Matenya berada. Kenapa seakan keberadaan matenya sedang disembunyikan. Ia merasa iri melihat para Werewolf yang datang dengan membawa Mate mereka. Sean bahkan sudah mengililingi bangsa Immortal bahkan sampai dunia manusia. Tetapi Matenya tetap saja tidak ditemukan.
‘Sebenarnya dimana keberadaanmu Mate? Kenapa susah sekali mencari dirimu’
***
*Dua bulan sejak diangkatnya Sean menjadi Alpha Silverwolf
“Ada apa Kai?” tanya Sean pada Betanya.
“Alpha, para rouge muncul dan menyerang beberapa warrior dibagian perbatasan pack. Jumlah mereka cukup banyak. Sedangkan Delta sedang pergi ke Bloodmoon pack untuk memberikan surat kerjasama kita Alpha” Sean yang mendengar mulai menggeram marah. Beraninya para rogue hina itu menyerang packnya.
Sean langsung melesat menghiraukan sang Beta yang hanya bisa menggeleng kan kepalanya. Alphanya memang selalu seperti itu. Untung dia sudah mengenalnya dari kecil. Kai segera melesat mengikuti alphanya yang sudah jauh berada di depan.
Saat sampai di perbatasan, Kai hanya melihat mayat para rogue yang bergeletak. Sedangkan sang Alpha berada di tengahnya dengan nafas memburu dan jangan lupakan bibirnya yang tersenyum.
“Alpha, kau sudah membunuh mereka semua” Kai dibuat geleng kepala karena tingkah Alphanya.
“Kau terlalu lama Kai, aku sudah tidak tahan untuk menghabisi rogue sialan ini” suara rendah dan berat dengan intonasi tajam yang keluar dari Sean menandakan jika sang Alpha sudah di ambil oleh sosok wolfnya.
“Alpha Allard?” Kai memastikan.
“Ya ini aku. Sudah lama Sean tidak bertarung jadi saat kau mengatakan ada para rogue yang menyerang aku langsung mengambil alih tubuhnya” terdengar geraman rendah dari Allard. Kepalanya pusing mendengar teriakan Sean yang menggema di kepalanya. Sean memindlink wolfnya,
‘Hei wolf sialan, cepat berganti shift denganku. Seenaknya saja kau mengambil alih’
‘Ayolah Sean, aku sudah lama tidak keluar. Lagipula tadi ada rogue yang menyerang. Tidak apakan jika aku keluar’
‘Tidak dengan tiba-tiba bodoh. Dasar wolf sialan’
‘Berhenti memakiku sialan. Jika kau lupa kita di dalam satu tubuh’
‘Ckk.. aku bingung kenapa Moon goddes memberiku wolf sepertimu’
‘Kau pikir aku mau hah.. memiliki hewolf sepertimu’
Sean dan Allard masih sibuk saling memaki lewat mindlink membuat Kai yang melihat sang Alpha hanya diam, paham dengan apa yang dilakukan sang Alpha.
‘pasti mereka saling berkelahi lagi’ batin Kai lelah.
***
Empat tahun berlalu kini sang alpha sudah berumur 24 tahun. Sang Alpha sampai sekarang masih belum mendapatkan Matenya. Sean sudah lelah mencari keberadaan Matenya.
Hingga suatu hari, saat Sean berjalan keluar dari pack tanpa arah tujuan hingga sampai di dekat camp halfblood bau harum tercium di hidungnya. Perpaduan antara wangi embun pagi, laut dan citrus. Terasa begitu segar dan memabukkan indra penciumannya. Allard pun sudah mulai berisik dan berlari kesana kemari di dalam diri Sean hingga membuatnya pusing. Sean mengerang sambil memegangi kepalanya.
Mate... mate... mate...
Teriakan Allard menyadarkan Sean dari bau memabukkan itu. ‘Mate’ pikir Sean.
Sean pun segera berlari mengejar bau itu. Hingga bau itu hilang saat Sean berada di daerah para Halfblood. Sean pun mulai berpikir, apakah ini alasan mengapa ia tidak bisa menemukan Matenya. Karena Mate nya seorang Demigod. Demigod sangat pandai menyembunyikan bau begitu pula aura mereka. Karena akan sangat berbahaya jika para monster mengetahui keberadaan mereka.
“Allard, kau juga memikirkan apa yang ku pikirkan?” tanya Sean lewat mindlink
‘Ya Sean, kurasa tidak akan mudah kita mendapatkan Mate kita. Mengingat camp halfblood tidak bisa dimasuki kecuali keturunan para Dewa’ Allard menjawab dengan lesu. Baru saja ia semangat karena telah menemukan Matenya. Tapi setelah mengetahui kemungkinan Matenya seorang Demigod membuat Allard patah semangat.
“Kenapa kau terlihat pesimis Allard? Moon Goddess sudah menakdirkan dia untuk kita. Jadi apapun yang terjadi kita pasti bisa mendapatkannya” Sean mencoba menyemangati wolfnya
‘Kau benar’ ucap Allard kembali semangat
“Ya sudah kembali dulu ke pack. Kita pikirkan cara untuk mendapatkan Mate kita” Sean pun kembali ke pack dengan senyuman cerah yang menghiasi wajahnya.
Saat melewati sang Beta senyumnya pun tidak luntur. Membuat sang Beta yang melihatnya bergidik takut. Sang Beta segera pergi dari hadapan Sean. Takut jika sang Alpha sedang tidak beres.
Memang kurang ajar sekali Beta Sean satu itu.
Sean yang sedang bahagia menghampiri sang ibunda. Ibu Sean yang kaget karena tiba-tiba mendapat pelukan dari belakang segera menoleh. Setelah tahu siapa pelakunya ibu Sean mengangkat tangannya mengusap pipi sang putra yang ada di bahunya.
“Ada apa kau tersenyum seperti itu Sean? Kau juga terlihat bahagia” tanya sang ibu
“Mom, aku sudah menemukan mateku” ucap Sean dengan senyum yang tak luntur dari bibirnya.
Ibunya pun terkejut lalu melepaskan rangkulan Sean dan beralih menghadap putranya. Pasalnya Sean sudah menunggu mate nya cukup lama. Dengan senyum lembut ibunya mengusap rambut Sean. Sean yang mendapat perlakuan seperti itu mulai menutup matanya merasakan usapan ibunya.
“Benarkah kau sudah menemukan mate mu Sean? Dimana matemu? Dari pack mana dia? Atau dari clan apa dia? Bangsa immortal atau manusia?” ibunya yang begitu antusias menodong Sean dengan banyak pertanyaan.
“Tenanglah mom, satu-satu jika bertanya” Sean menenangkan ibunya
“Aku masih belum tahu seperti apa mateku. Tapi mateku sepertinya adalah seorang Demigod. Tadi saat aku berjalan-jalan keluar pack. Tiba-tiba saat berada di daerah camp Halfblood aku mencium bau yang memabukkan. Allard terus meneriaki kata mate. Saat itulah aku sadar jika Mate ku ada di sekitar situ. Saat aku mengikuti baunya, bau itu berhenti tepat di depan camp Halfblood” jelas Sean panjang lebar.
Mendengar ucapan sang putra, ibu Sean merasa khawatir. Karena ibu Sean tahu bagaimana susahnya Werewolf ketika mendapatkan Mate seorang Demigod. Melihat wajah ibunya yang khawatir. Sean mencoba menenangkan sang ibu.
“Tenang saja mom. Moon Goddess sudah memilihkan dia untukku. Jadi aku yakin apapun yang terjadi kami tetap bersatu” mendengar ucapan sang putra yang sungguh-sungguh ibu Sean pun mulai merasa tenang.
“Aku masuk dulu. Kai memindlink jika banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan. Jika tidak Kai akan terus berisik dan membuat kepalaku pusing” Sean mencium pipi ibunya dan langsung masuk kedalam mansion. Setelah masuk kedalam ruang kerjanya Sean dihadapkan dengan wajah ingin tahu sang Beta.
“Jadi Alpha, apa yang membuat anda tiba-tiba tersenyum seperti itu? Sungguh Alpha jangan menakuti saya” wajah Kai terlihat ngeri melihat wajahnya
“Aku sedang bahagia Kai. Apa aku tidak boleh tersenyum?” Sean mengangkat sebelah alisnya. Mendengar nada santai Sean, Kai pun bertanya
“Bahagia? Bahagia karena apa? Seingatku tidak ada yang spesial hari ini” nada ucapan Kai sudah mulai santai. Saat nada Sean sudah mulai santai berarti yang berada di hadapannya bukanlah Alphanya melainkan temannya.
“Aku sudah menemukan Mateku. Meskipun akan sulit mendapatkannya tapi aku tetap bahagia. Mate yang sudah kutunggu akhirnya ku temukan” Kai yang mendengar ucapan Sean membelalakkan mata.
***
To Be Continued