D&W 04

1646 Kata
“Jika kau sudah menemukanmu Matemu lalu aku kapan?” suara Kai terdengar frustasi. Karena dirinya pun belum mendapatkan seorang mate. Poor Kai. “Mana aku tahu” Sean menggedikkan bahunya “Lalu Matemu seorang bangsa Immortal apa manusia?” tanya Kai penasaran “Mateku sepertinya seorang Demigod” ucap Sean dengan menghela napas Kai melototkan matanya. Kai tahu untuk mendapatkan Mate seorang Demigod bukan hal yang mudah. Mengingat mereka anak Dewa jadi akan susah. Terkadang para Dewa selalu memberikan ujian yang tidak masuk akal agar bisa membawa anaknya pergi. “Lalu kau tahu matemu putri dari Dewa apa?” tanya Kai semakin penasarran “Aku masih belum tahu. Tapi aku harap Mateku bukan dari putri Dewa yang merepotkan seperti Delta kita” Kai yang mendengar ucapan Sean langsung mengingat Deltanya yang kesulitan membawa Matenya karena ayah dari Matenya mengajaknya bertarung jika berhasil maka sang Delta bisa membawa putrinya bersamanya. Tentu saja sang Delta kesulitan. Bagaiman bisa Delta itu menang jika yang ia lawan adalah sang Dewa Perang, Ares. Belum apa-apa sudah jadi bubur duluan. Sean dan Kai yang mengingat hal itu mendadak bergidik ngeri. Membayangkan jika mereka yang berada di posisi itu. Mungkin tubuh mereka sudah tidak berbentuk. “Aku harap Mateku bukan seorang Demigod” celetukkan Kai membuat Sean menoleh. “Kenapa jika Matemu seorang Demigod?” tanya Sean “Aku tidak siap jika harus seperti Delta kita” mendengar ucapan Kai membuat Sean tertawa. “Aku berdoa pada Moon Goddess agar Mate mu sama sepertiku. Seorang Demigod” Sean tertawa puas melihat wajah pias Betanya saat ia mengatakan hal itu. Kai bergidik ngeri, sungguh dia berharap ucapan Sean tidak terjadi. *** Rencananya Sean akan berada di sekitar camp Halfblood tetapi banyak sekali dokumen yang harus ia kerjakan membuat Sean mengurungkan niatnya menemui matenya. Sean menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya. Badannya terasa pegal karena sudah duduk berjam-jam. Melihat tumpukan dokumen di depannya membuat ia mendesah lelah. Kertas-kertas itu terasa tidak ada habisnya. Jika kalian mengira Sean bangsa Immortal seperti dalam cerita kalian salah. Bangsa Immortal hidup layaknya manusia modern, hanya saja yang membedakan, mereka tinggal di kedalaman hutan. Listrik dan peralatan elektronik pun ada. Bahkan jalan beraspal pun ada. Hanya saja tidak terdeteksi oleh manusia. Dokumen yang di kerjakan Sean pun, bukan hanya dokumen protes dari rakyatnya. Tapi juga dokumen tentang jual beli barang yang masuk ke pack. Bisa di bilang layaknya perusahaan besar di dunia manusia. *** Pintu ruang kerjanya terbuka dan masuklah sang Beta. Sean mendadak memiliki ide agar bisa pergi dari tempat terkutuk ini. Saat Kai sudah dekat dengannya, Sean beranjak bangun dan lari secepat mungkin. Saat berada di luar gerbang pack Sean memindlink Betanya. “Kai kau urus pekerjaanku. Aku harus menemui Mateku” ‘Kau gila Sean, aku ingin istirahat sudah tiga hari aku mendekam di ruanganku’ Kai berucap dramatis lewat mindlink. “Sudahlah. Kau kan Betaku jadi saat Alpha tidak ada di tempat kau yang menggantikanku” setelah berbicara seperti itu Sean langsung memutus mindlink. Sedangkan di pack Kai misuh-misuh karena ulah seenaknya sang Alpha sekaligus temannya. Sean duduk di dahan pohon sambil terus mengawasi camp Halfblood. Sean berharap Matenya keluar untuk melakukan misi atau apapun agar dia bisa mendekatinya. Tiga jam Sean menunggu lalu bau Matenya tercium. Terlihat gadis dengan memakai hoodie hitam dan celana jeans panjang serta sneakers putih berjalan kearah camp Halfblood. Dipunggungnya terdapat ransel dengan ukuran sedang. Sean tidak bisa melihat wajahnya karena tertutupi oleh topi hoodie. Allard pun sudah berteriak Mate dikepalanya hingga membuat Sean pusing. Sean memutus mindlink dengan wolfnya dan fokus melihat matenya. Tiba-tiba ada angin datang dan melepaskan topi hoodie dari kepalanya. Sean terpanah melihat rambut Matenya yang unik. Campuran warna grey di bagian atas lalu honey brown di bagian tengah dan blue di bagian bawah. Rambutnya juga terlihat halus saat terkena angin. Sean masih belum bisa melihat wajah Matenya. Karena Matenya jalan sambil menunduk. “Fiona” Terdengar suara gadis yang berteriak memanggil nama Matenya. Ah namanya Fiona, nama yang cantik batin Sean. Saat Matenya menoleh terlihat wajah cantiknya. Sean dan Allard terpesona dengan wajah cantik matenya. ‘Mate kita cantik sekali Sean’ ucap Allard lewat mindlink “Kau benar Allard” ‘Kira-kira dia anak Dewa yang mana?’ “Aku belum tahu” Sean yang dari tadi mengawasi mereka tersadar akan sesuatu. Wajah Mate nya dan gadis yang memanggilnya sama yang membedakan hanya warna rambutnya. “Allard, apa Mate kita memiliki kembaran?” ‘Aku pikir, juga begitu’ Setelah memutus mindlink Sean akan beranjak mendekati Matenya sebelum dia melihat sesuatu di balik pohon tidak jauh dari Matenya yang juga mengintai kedua gadis itu. Terlihat dari posturnya seorang lelaki. Sean mulai menajamkan matanya. Saat Matenya mulai memasuki camp Halfblood Sean segera beranjak menuju tempat si pengintai. Saat sampai betapa terkejutnya Sean melihat wajah si pengintai. Si pengintai yang ternyata Richard sama terkejutnya seperti Sean. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya mereka bersamaan “Aku melihat mateku” jawab Sean “Aku juga” setelah itu mereka melototkan mata terkejut. Mereka sama-sama menemukan Mate mereka. “Mateku Halfblood yang memiliki rambut berwarna honey brown dan blue” jelas Richard “Aku sebaliknya” mereka tidak menyangka jika Mate mereka adalah kembar “Apa kau sudah tau anak Dewa mana Matemu?” tanya Richard “Belum” jawab Sean dengan menggelengkan kepala, “apa kau tau Mate kita anak Dewa mana?” Richard menganggukkan kepalanya. Lelaki itu menghela nafas berat lalu melirik kearah Sean. “Kita sepertinya akan kesusahan mendapatkan mereka Sean” “Kenapa? Mereka anak Dewa Ares? Atau Dewi Arthemis?” “Bukan keduanya. Kau tau tentang ramalan besar yang menyangkut semua clan Immortal maupun manusia?” tanya Richard. Sean menganggukkan kepalanya tau. “Mate kita adalah anak dari tiga Dewa besar yang artinya salah satu Mate kita adalah sang gadis ramalan” Sean terkejut hingga terkejut hingga tidak bisa berkata-kata. “Ini akan berat mengingat ketiga Dewa besar itu sangat posesif terhadap anaknya terutama putrinya. Dewa Lautan, Poseidon. Dialah ayahnya” ucap Richard “Ya, kau benar. Ini akan berat dan panjang. Dari yang aku dengar kekuatan sang gadis ramalan cukup besar hingga di perlukan kekuatan yang besar juga” Richard menyetujui ucapan Sean “Poseidon tidak akan melepaskan putrinya begitu saja. Mate Bryan seorang Halfblood jadi aku bertanya padanya. Dia menjawab hanya anak Poseidon yang memiliki perpaduan warna di rambutnya dan matanya. Mereka juga cukup kuat, tidak ada Demigod yang bisa mengalahkan mereka sampai hari ini” Richard melihat kearah camp Halfblood, “dan sang gadis ramalan adalah salah satu dari si kembar, yaitu Matemu. Gadis yang memiliki perpaduan tiga warna itu adalah sang gadis ramalan. Ini akan lebih sulit untukmu. Yah... meskipun aku juga sulit. Mereka sudah berumur 19 tahun. Jadi hanya tersisa satu tahun sebelum ramalan itu terjadi. Aku pikir kau sudah tau apa yang harus kau lakukan sebelum gadis itu berumur 20 tahun” mendadak tubuh Sean kaku mendengar penjelasan Richard “Ini benar-benar tidak mudah, Card” kepala Sean berdenyut mendengar banyak informasi tentang Matenya. “Aku harus kembali ke pack untuk menjernihkan pikiranku” Sean segera melesat kembali ke pack. Richard yang melihat Sean hanya menatap sendu melihat takdir Sean yang begitu berat. Sean yang sampai di mansion tidak menghiraukan sapaan para Omega maupun Warrior yang berjaga di sekitar Mansion. Sean sibuk mencari ibunya. Di taman belakang tidak ada, di kolam ikan samping juga tidak ada. Dimana kau mom batin Sean. Setelah mengetahui dimana sang Mommy Sean segera melesat kesana. Sean segera mengetuk pintu kamar Mommynya dengan brutal tidak peduli jika Daddynya akan marah. “Sean kau sungguh mengganggu waktuku dengan mommymu” ucap Loridz kesal Tanpa mendengar ucapan sang ayah, Sean menerobos masuk. Melihat ibunya yang sedang duduk di sofa sambil melihat film Sean segera duduk di sebelahnya dan memeluk sang ibu. Loridz yang melihat tingkah putranya yang seenaknya mendengus sebal Dasar bocah kurang ajar batinnya * “Ada apa Sean?” tanya Lily mommy Sean “Mom, Dad. Aku sudah tau siapa Mateku” ucap Sean serius Loridz dan Lily mengalihkan atensi mereka kepada Sean. Mereka diam menunggu kelanjutan ucapan Sean. Bagaimanapun Mate adalah hal yang paling penting bagi Werewolf apalagi bagi Alpha. Kehadiran Mate adalah pelengkap hidup mereka. “Dia anak Dewa Poseidon dan juga sang gadis ramalan. Mateku bernama Fiona. Dia memiliki kembaran. Mereka adalah halfblood terkuat disana. Fiona sekarang sudah berumur 19 tahun Dad. Kembarannya Mate dari Richard. Richard mengetahuinya dari Mate Bryan yang seorang Demigod. Untuk lebih jelasnya aku belum tahu, aku masih harus mencari tau lagi” ucap Sean dengan satu tarikan nafas “Untuk membawa Mateku kemari tidak akan mudah Mom. Mengingat mereka anak salah satu dari tiga Dewa besar di tambah Mateku adalah sang gadis ramalan. Aku tidak tau apa yang akan Poseidon lakukan untuk mengujiku nanti” ucap Sean sendu Lily mengelus punggung putranya untuk menguatkan putranya. Loridz tidak menyangka jika Sean adalah pasangan dari gadis ramalan itu. “Kau ingat saat ayah pergi beberapa waktu lalu untuk pertemuan para tetua bangsa Immortal?” Sean menggangguk. “Pertemuan itu membahas tentang gadis ramalan. Karena terdengar rumor yang mengatakan gadis itu telah lahir. Hanya saja tidak ada yang tau keberadaannya dan bagaimana wajahnya karena Poseidon benar-benar menyembunyikan putrinya. Aku tidak menyangka jika gadis itu adalah Matemu, Son” ucap Loridz “Jika memang gadis itu telah lahir dan sekarang berumur 19 tahun waktu kita tidak banyak Sean. Peperangan besar akan terjadi. Daddy yakin gadis itu sudah dipersiapkan untuk peperangan ini. Hanya saja kalian harus bersatu agar kekuatan gadis itu bisa terkendali dan tidak lost control. Mengingat kekuatannya yang tidak main-main. Aku harus mengadakan pertemuan dengan para tetua kaum Immortal juga pemimpin Immortal di pack kita. Kau bisa jelaskan nanti pada mereka dan langkah apa yang bisa kita lakukan nantinya” jelas Loridz Sean hanya mengangguk. Sean masih berpikir bagaimana cara membawa Matenya. Semoga saja dia di permudah oleh Moon Goddess untuk membawa Matenya. *** To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN