Setelah sampai di depan gerbang halfblood bertepatan dengan Fiona yang sedang berjalan keluar dari gerbang. Seketika bau morning dew, sea dan citrus tercium di indra penciumannya. Dengan rakus Sean mencium bau itu. Tanpa Sean sadari kakinya melangkah mendekati Fiona yang sedang berdiri.
Fiona terkejut melihat pria yang tiba-tiba datang kehadapannya dengan tersenyum lebar. Fiona mulai melangkah mundur mencoba menghindari pria itu. Sean yang melihat matenya melangkah mundur segera menarik tangan matenya dan segera memeluknya. Sean menyusupkan kepalanya diperpotongan leher Fiona dan mulai mengendus bau Fiona dengan rakus yang mulai membuatnya mabuk. Bahkan Allard sudah berteriak untuk menandai matenya.
Fiona yang terkejut atas perlakuan Sean segera menyerang Sean. Sean yang memiliki reflek bagus dengan cepat segera menangkap tangan Matenya. Fiona mencoba melepaskan tangannya dari Sean dengan menendang secara brutal ke arah Sean. Fiona yang merasa apa yang dia lakukan tidak berhasil mulai berhenti melawan. Sean yang merasa matenya mulai menyerah segera menarik matenya kedalam pelukannya.
“Mate.. Mate.. Mate” ujar Sean
“Mate?” tanya Fiona. Sedangkan Sean semakin mengeratkan pelukannya. Memeluk matenya seperti ini adalah keinginannya dari dulu.
“Ya, kau adalah mateku”
“Bagaimana aku bisa percaya dengan ucapanmu?”
“Kau pasti tahu bagaimana kami, kaum Werewolf mengetahui mate kami”
“Mereka bisa tahu dari bau khas mate mereka?”
“Benar sekali”
“Lalu bau apa yang kau hirup dariku?”
“Morning dew, sea, dan citrus”
“Bagaimana bisa? Aku sudah menyamarkan bauku dari makhluk lain”
“Karena kau mateku, mate”
Sean melepas pelukannya dan melihat wajah matenya. Tangannya dia bawa kearah pipi matenya dan mulai mengelus pipi itu. Sean terkejut dengan kulit matenya yang terasa lembut ditangannya. Bagaimana bisa matenya yang selalu pergi menjalankan misi tapi kulitnya masih selembut kulit bayi.
“Kurasa kita harus saling memperkenalkan diri. Bukan begitu, mate?” ujar Sean
“Ya kau benar. Meskipun aku belum yakin denganmu. Aku akan terus mengawasimu”
Sean terkekeh mendengar ucapan matenya. Memang para Demigod tidak seperti para makhluk immortal yang bisa tahu matenya. “Baiklah. Kau bisa mengawasiku sesuka hatimu mate” ujar Sean. “Namaku Sean Aldirch Anderson aku Alpha dari Silvermoon pack” lanjut Sean
“Namaku Fiona”
Sean menaikkan alisnya, “hanya itu?”
“Apa maksudmu dengan ‘hanya itu?”
“Namamu”
“Iya hanya itu”
“Aku tidak yakin” ucap Sean dengan mimik muka yang tidak yakin
“Terserah” ucap Fiona dengan wajah datar
Sean menyerah. Benar kata Raja Mermaid bahwa Matenya bukan tipe gadis yang mudah. Matenya sangat berbeda dengan kembarannya. Sepertinya Sean harus berusaha keras untuk membuat matenya percaya kepada dirinya.
“Prove yourself”
Setelah mengatakan hal itu matenya berjalan mundur dan masuk kedalam camp Halfblood. Sean yang melihat segera berjalan kearah matenya tapi saat Sean ingin menarik tangan matenya Sean terlambat karena matenya sudah masuk kedalam hingga Sean terpental karena tidak sengaja menyentuh protection yang ada di depan gerbang camp Halfblood. Sean terbatuk lalu memegangi dadanya yang seketika terasa sakit. Protection itu dibuat langsung oleh ketiga Dewa besar tentu saja efeknya luar biasa bagi makhluk Immortal.
Fiona yang melihat apa yang terjadi pada Sean mendadak merasakan nyeri pada dadanya. Dia melihat kearah Sean dengan linglung.
Apa yang terjadi padaku? Ini tidak benar, kenapa aku merasakan sakit seperti pria itu batin Fiona sambil memegangi dadanya yang semakin nyeri. Fiona mulai berlari untuk menemui Chiron dengan langkah yang terseok-seok. Langkah Chiron yang akan masuk kedalam rumah terhenti melihat Fiona yang kesakitan. Chiron segera menghampiri Fiona.
“Ada apa denganmu Fiona?” tanya Chiron khawatir
“Aku tidak tahu Chiron. Tapi saat ada pria yang mendatangiku dan mengatakan aku matenya dan saat pria itu terluka aku merasakan di dadaku. Dia seorang Alpha dari Silvermoon pack”
“Dia seorang werewolf? Apa dia sudah menandaimu Fiona?” tanya Chiron yang dijawab gelengan kepala oleh Fiona.
Chiron sungguh terkejut. Bagaimana bisa mereka berbagi rasa sakit tanpa ada ikatan matebond. Takdir apa yang ada sekeliling gadis didepannya ini. Dari awal kedatangan gadis didepannya dan kembarannya Chiron merasa ada yang berbeda dari mereka berdua. Mereka terlihat amat sangat berbeda dari para Demigod lain.
“Kau yakin kau belum di tandai oleh werewolf itu?” tanya Chiron memastikan
“Iya Chiron, aku yakin 100%. Dia hanya memelukku tadi”
“Ini sangat aneh Fiona. Bagi bangsa werewolf kalian akan bisa saling merasakan sakit jika salah satu dari kalian terluka setelah kalian ditandai. Tapi bagaimana kau bisa merasakan sakit yang sama dengan pria itu?”
“Aku tidak tahu Chiron”
Chiron mulai menghela nafas berat. Tidak dia sangka dia akan melepaskan kedua anak Poseidon dari pengawasannya secara bersamaan. Pagi tadi Felycia melapor padanya jika dia sudah menemukan matenya sekarang Fiona. Chiron merasa baru sebentar berada di camp Halfblood. Centaur itu merasa tidak rela melepaskan mereka. Apalagi mereka berdua adalah Demigod yang paling berbakat di camp Halfblood.
“Baiklah Fiona. Kau harus segera bersiap keluar dari camp Halfblood dan ikut bersama matemu ke packnya dan beritahu Felycia dia juga harus keluar dari camp Halfblood untuk ikut dengan matenya”
“Tapi kenapa kami harus pergi Chiron? Aku tidak mau. Disini rumahku”
“Mate kalian adalah bangsa Immortal dan disaat mereka menemukan matenya mereka tida bisa jauh dari mate mereka. Itu akan menyiksa mereka Fiona. Jadi kau harus ikut dengannya” jelas Chiron. “Kau tenang saja camp Halfblood selalu terbuka untuk kalian” Chiron menepuk pundak fiona yang terlihat lesu.
***
Sean yang melihat matenya semakin masuk kedalam camp Halfblood hanya bisa terdiam. Dengan keadaan seperti ini dia tidak mungkin bisa masuk kesana. Setelah memindlink Betanya untuk datang kemari membantunya yang tadi terkena serangan protection hingga tubuhnya langsung melemah. Kai yang melihat Alphanya yang tergeletak ditanah dan terlihat mengenaskan segera berlari dan membantu Alphanya untuk berdiri.
Saat mereka sampai di Silvermoon pack Kai segera membawa Sean kekamarnya untuk beristirahat dan segera memindlink dokter pack untuk datang. Sean pingsan saat mereka sampai di depan mansion sehingga dia tidak bisa bertanya apa yang terjadi pada Alphanya. Sekitar lima belas menit dokter pack datang dan segera memeriksa Sean.
“Bagaimana keadaan Alpha?”
“Apa Alpha baru saja bertarung Beta? Saat aku memeriksa Alpha ada luka dalam”
“Aku tidak tahu. Tapi aku menemukan Alpha ada di dekat camp Halfblood. Apa jangan-jangan Alpha terkena protection yang ada disana?” tanya Kai
Sang dokter mengerutkan dahinya bingung. “Untuk apa Alpha menerobos kesana Beta?” tanya sang dokter.
“Bukan apa-apa. Buatkan ramuan agar Alpha segera pulih” Kai mengalihkan pembicaraan agar sang dokter tidak bertanya lebih. Karena keberadaan mate Sean masih menjadi rahasia kecuali para tetua clan yang sudah mengetahui.
Sean mulai membuka matanya setelah dua hari pingsan. Matanya mulai mengedar ke seluruh penjuru ruangan. Setelah yakin dia berada di kamarnya Sean mengangkat satu lengannya dan menaruh diatas kepalanya dan memejamkan mata kembali. Sean merasa kepalanya pusing.
Krieett~
Pintu kamar Sean terbuka masuklah sang ibu dan Betanya. Saat melihat kearah Sean mereka berdua tahu jika Sean sudah sadar dari pingsannya. Mereka mulai berjalan mendekat kearah ranjang Sean. Ibu Sean duduk di pinggir ranjang lalu mengelus rambut Sean. Sean yang merasa ada yang menyentuh rambutnya menurunkan tangannya dan mulai membuka matanya.
“Bagaimana keadaanmu Sean?” tanya sang Ibu
“Sudah lebih baik hanya sedikit pusing. Berapa lama aku pingsan?” tanya Sean sambil beranjak duduk.
“Dua hari Alpha” jawab Kai. “Sebenarnya apa yang terjadi pada anda Alpha? Apa saat melihat mate anda, anda bertemu dengan musuh?” tanya Kai
“Bukan Kai. Aku terkena protection dan terpental. Kau tahu sendirikan protection yang dibuat oleh Dewa bukan main-main” jelas Sean
“Lalu bagaimana kau sudah bertemu dengan matemu? Atau kau masih melihatnya dari jarak jauh?” tanya ibu Sean ingin tahu
“Aku sudah mengatakan padanya mom kalau dia adalah mateku. Tapi dia tidak percaya padaku. Seperti kata Raja Gio mateku bukanlah gadis yang mudah untuk ditakhlukkan”
“Lalu apa yang akan kau lakukan Alpha?” tanya Kai
“Tentu saja aku akan menjemputnya dan dia akan tinggal disini bersamaku”
“Kau yakin dia akan mau Alpha?” Kai tidak yakin kalau mate Alphanya akan mudah di bujuk untuk tinggal disisi Alphanya.
“Mau tidak mau dia harus tinggal disini. Dia adalah calon Luna dari Silvermoon pack. Aku yakin pelatihnya sudah menjelaskan tentang kaum Immortal yang sudah menemukan matenya. Apalagi jika matenya adalah seorang Alpha atau Lord. Aku akan menjemputnya sekarang”
Sean bangun lalu segera membersihkan dirinya dan berangkat menjemput matenya. Dia tidak peduli meskipun dadanya masih terasa nyeri.
***
Hidup Fiona terasa sepi setelah kepergian kembarannya yang di bawa oleh matenya bersama dengan Krystal dan Aiden yang menjadi pelindung kembarannya. Ini pertama kali bagi Fiona jauh dari kembarannya. Sebelumnya mereka tidak pernah terpisah sekalipun. Bahkan kemarin saat Felycia di bawa pergi oleh Richard kembarannya itu menangis meraung agar tidak terpisah dari adik kembarnya sehingga membuat Richard kualahan. Kini dia tinggal sendiri dengan ditemani oleh Reese dan Olyvia.
Saat sedang asik melamun terdengar ketukan pintu dari luar Fiona menolehkan kepalanya kearah pintu. Fiona beranjak bangun. Saat pintu terbuka ada Reese dan Chiron yang berdiri di depan pintunya.
“Ada apa kalian berdiri di depan pintu kamar ku? Terutama kau pelatih Chiron”
Dahi Fiona berlipat tanda bingung. Tidak biasanya Chiron mau menemuinya di depan kamarnya. Karena biasanya Chiron akan memanggil mereka keruangannya.
“Ini saatnya Fiona. Kau akan tinggal di Silvermoon pack. Matemu sudah menjemputmu. Dia berada di depan gerbang camp Halfblood” ujar Chiron
Fiona yang mendengar hal itu matanya seketika membola. Fiona menggelengkan kepalanya sambal memundurkan badannya dan terus berkata tidak mau hingga membuat Chiron tidak tega. Meskipun selama ini dia menantikan keberadaan matenya tapi entah mengapa saat bertemu dengan matenya dia malah tidak siap.
“Tenanglah Fiona aku dan Olyvia akan selalu ada disampingmu” ujar Reese dengan langkah yang mendekati Fiona.
Olyvia pun ikut berjalan mendekati Fiona dan saat berada di depan Fiona Olyvia segera memeluk tubuh Fiona yang bergetar hebat dipelukannya.
“Tenanglah Fiona tidak ada hal buruk yang akan terjadi denganmu” Reese mencoba menenangkan Fiona.
“Kita tidak bisa berlama-lama Fiona. Seorang Alpha tidak memiliki banyak kesabaran dalam hal menunggu” Chiron memperingati Fiona
“Kita pergi sekarang Fiona. Olyvia akan mengurus pakaianmu. Kau akan pergi dulu denganku” Fiona hanya mengangguk mendengar ucapan Reese.
***
To Be Continued