Mereka dibuat kagum dengan Kerajaan fairy. Sepanjang mereka berjalan, mereka di suguhkan dengan pemandangan rumah para kaum fairy yang berada di atas pohon. Lalu disekitarnya terdapat banyak bunga bermekaran yang mengeluarkan cahaya.
Bahkan mulut Krystal tidak berhenti menyerukan kekaguman. Sekitar setengah jam berjalan mereka sampai di perbatasan antara clan fairy dan mermaid. Mereka segera berjalan menuju tepi laut. Saat berada di tepi laut Krystal dan Aiden berhenti sedangkan Fiona dan Felycia terus berjalan hingga kakinya terendam air. Mereka berdua kemudian memejamkan mata dan membaca mantra. Sesaat kemudian laut terbelah dan muncul sebuah tangga.
Fiona menoleh kearah Krystal dan Aiden menyuruh mereka mengikutinya. Krystal dan Aiden saling pandang tidak yakin. Mereka menggelengkan kepala
“Kami menunggu disini saja ya sampai kalian kembali” ucap Krstal
“Kau yakin Krys?” tanya Felycia
“Iya Cia”
“Tapi...”
“Biarkan mereka disini jika mereka tidak mau ikut” sela Fiona
“Baiklah. Kalian tunggu disini dan jangan kemana-mana” dijawab anggukan oleh mereka.
Fiona dan Felycia segera berjalan menyusuri tangga itu hingga tubuh mereka tertelan di dalam lautan. Karena mereka hanya berdua, mereka menghilangkan tangga tadi dan mulai berenang dengan sedikit dorongan kekuatan mereka agar mereka segera sampai di istana mermaid. Semakin dalam mereka berenang, semakin indah pemandangan yang memanjakan mata mereka. Ini adalah salah satu rahasia laut yang tidak di ketahui manusia. Mengingat kedalamannya yang tidak mungkin manusia biasa bisa berenang kemari.
Jika kalian mengira jika semakin dalam kedalaman laut maka semakin gelap, itu memang benar. Tapi itu hanya ilusi yang di buat untuk mengelabuhi manusia agar tidak ada yang tahu akan eksistensi makhluk immortal.
Saat mereka menginjakkan kakinya di halaman istana mereka disambut oleh para dayang dan prajurit yang berjejer rapi. Fiona yang melihat itu mendengus sebal berbeda dengan Felycia yang malah tersenyum.
“Apa mereka harus melakukan hal ini” Felycia yang mendengar gerutuan Fiona segera menyikut pinggang kembarannya. Fiona memberi tanda ‘ok’ kepada Felycia.
“Kami menyambut Daughter of Poseidon. Semoga kalian selalu di limpahi kebahagiaan dan umur panjang” ucap mereka serentak membuat Fiona terkejut hingga mundur dua langkah kebelakang.
‘Mengejutkan saja’ batin Fiona
“Dimana Raja Gio?” tanya Felycia
“Saya disini putri Felycia” Raja Gio berenang kearah Felycia dan Fiona kemudian membungkuk hormat pada putri junjungannya.
“Sudah aku bilang, panggil Felycia dan Fiona saja” kesal Felycia
“Bagaimana bisa saya memanggil anda berdua seperti itu. sangat tidak sopan sekali” jawab Raja Gio dengan senyum ramah
“Baiklah terserah anda Raja Gio. Kami kemari karena ada sesuatu yang ingin kami bicarakan” ucap Fiona
“Baiklah tuan putri, silahkan masuk. Kita bicarakan diruangan saya”
Raja Gio berenang diikuti oleh Fiona dan Felycia. Saat mereka berada di depan pintu besar dengan ukiran tulisan kuno mereka berhenti. Raja Gio membaca sebuah mantra hingga pintu itu terbuka barulah mereka memasuki ruangan kerja sang Raja.
“Apa ada suatu masalah hingga tuan putri kemari?” Raja Gio memulai pembicaraan
“Aku mendengar dari para arwah jika bangsa Immortal baru saja melakukan pertemuan besar yang tidak langsung melibatkan aku. Aku ingin tau apa yang kalian bicarakan” mendengar ucapan Fiona yang tanpa basa-basi membuat Raja Gio tersenyum.
“Benar putri. Saat saya tiba disana saya cukup terkejut karena mereka sudah mengetahui keberadaan kalian berdua”
“Lalu kau memberitahu mereka semua tentang kami” tanya Fiona
“Tidak tuan putri. Saya hanya mengatakan sedikit informasi tentang kalian berdua sesuai dengan perintah ayah kalian” jelas Raja Gio
“Kau benar-benar tidak mengatakan semuanya kan Raja Gio? Aku takut jika salah satu orang yang disana adalah anak buah Kronos. Itu akan sangat berbahaya” ucap Felycia
“Anda tenang saja. Tidak ada anak buah Kronos yang mengetahuinya. Karena kami para tetua sudah menyeleksi siapa saja yang bisa datang kedalam pertemuan besar itu” Felycia menghembuskan nafas legah.
“Lalu apa lagi yang kalian bicarakan?”
“Tidak banyak tuan putri. Kami hanya membicarakan bagaimana menjaga kalian tetap aman hingga waktunya tiba. Saat saya mengatakan untuk tidak mencari tahu tentang kalian secara lebih, mereka mengerti”
Raja Gio sengaja tidak mengatakan bahwa pasangan mereka sudah ditemukan. Karena takdir merekalah yang akan membuat mereka bertemu. Raja Gio menatap mereka berdua. Tidak menyangka bahwa kini mereka sudah besar dan saling melindungi satu sama lain. Padahal dulu saat Raja Gio pertama kali datang mereka suka sekali menjahili satu sama lain hingga membuat ibu mereka marah.
“Sepertinya kalian berdua harus segera pulang tuan putri. Karena saat malam hari dark wood akan sangat berbahaya. Saya akan memanggil Hippocampus milik Dewa Poseidon untuk mengantar kalian pulang ke Camp Halfblood” ujar Raja Gio
“Tapi masih ada dua temanku di daratan” ucap Felycia
“Kalian bisa memerintahkan Hippocampus pergi mendekati daratan untuk menjemput teman kalian, bukan?” ucap Raja Gio
“Kau benar. Kenapa aku tidak terpikirkan hal itu” setelah berbicara seperti itu Felycia segera menarik Fiona pergi dari ruangan Raja Gio. Sedangkan Fiona sebagai korban penarikan hanya mendengus malas.
Raja Gio hanya tersenyum maklum. Felycia memang selalu bersemangat hingga suka sekali menarik saudarinya kesana kemari.
Saat mereka sampai diluar sudah ada Hippocampus yang menunggu mereka. Dengan semangat Felycia berlari mendekati Hippocampus lalu mengelus kepalanya. Fiona menarik tangan kembarannya agar segera menaiki punggung Hippocampus. Jika tidak segera di tarik kembarannya itu akan bermain dengan Hippocampus itu hingga lupa waktu.
Setelah mereka naik mereka menolehkan kepalanya kebelakang lalu berpamitan pada Raja Gio dan istrinya yang ikut mengantar mereka pulang. Saat mereka mendekati daratan Aiden dan Krystal sangat terkejut melihat hippocampus yang mereka tunggangi
“Cepat kemari dan naik di punggungnya. Hari semakin malam” teriak Fiona
Mendengar teriakan Fiona, Aiden dan Krystal segera berlari kearah laut dan menaiki Hippocampus. Mereka lalu berpegangan erat karena Hippocampus terkenal cepat dalam berenang. Satu jam perjalanan mereka sampai di pondok Poseidon mereka juga sudah di tunggu oleh Chiron. Chiron adalah pelatih para Demigod
***
“Kalian dari mana? Bukannya kalian seharusnya istirahat?” tanya Chiron
“Ada sesuatu yang harus kami lakukan. Jadi kami pergi ke Kerajaan Mermaid” jawab Fiona
Chiron menatap mereka dengan tatapan penuh selidik. Dia tidak yakin dengan jawaban dari Fiona. Fiona yang merasa tatapan dari Chiron menyiratkan pertanyaan menghela nafas.
“Kami benar-benar kesana karena ada yang kami tanyakan. Tapi maaf kami tidak bisa memberitahumu tentang hal itu”
Fiona melewati Chiron begitu saja tubuhnya sudah minta di istirahatkan dari tadi. Chiron terus melihat kearah Fiona hingga Fiona menghilang ditikungan menuju kamarnya. Setelah itu, Chiron mengalihkan pandangannya kepada Felycia, Krystal dan Aiden. Mereka hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Chiron sendirian. Chiron menghela nafas lelah, menjadi pelatih para Demigod bukanlah hal mudah. Mengingat para Demigod memiliki karakter keras kepala dari orang tua Dewa mereka. Chiron mulai pergi dari sana dan kembali kerumahnya.
*
Seperti pagi sebelumnya jika tidak ada misi Fiona selalu berada di pinggir pantai dan duduk bersantai sambil mendengarkan suara ombak yang menurutnya menenangkan. Saat dia mulai menutup mata bayangan tentang mimpi itu kembali lagi membuat Fiona frustasi.
“Sebenarnya bagaimana wajah lelaki itu? Kenapa disaat mimpi itu berulang lagi dan lagi tapi wajahnya selalu buram. Aarggh..”
Fiona mengacak rambutnya frustasi. Mimpi itu sama sekali tidak memberi petunjuk tentang Matenya. Hanya peperangan yang dia lihat. Jalan satu-satunya hanya bisa terjawab jika dia bertemu dengan Matenya tapi bagaimana caranya. Saat sedang asiknya melamun terdengar suara gaduh dari dalam membuat Fiona menyerngit dan menoleh kebelakang.
Fiona berdecak malas melihat tingkah kembarannya yang berlari kearahnya dengan gaduh. Saat berada di depannya Felycia segera menerjang Fiona dengan pelukan hingga membuat mereka jatuh dengan posisi Fiona terlentang dibawah dan Felycia menindih diatasnya dengan senyum yang lebar.
“Hentikan senyumanmu itu Cia, kau mulai membuatku takut dengan senyumanmu”
Fiona menyingkirkan tubuh kembarannya kesamping dan mulai bangun. Felycia pun ikut bangun dengan senyuman yang tidak luntur dari bibirnya. Fiona merinding melihat kembarannya tidak berhenti tersenyum dari tadi. Felycia kembali memeluk Fiona disertai teriakan yang melengking yang membuat Fiona menutup matanya mencoba meredam emosinya yang mendadak naik karena tingkah absrud dari kembarannya.
“sekarang katakan padaku apa yang membuatmu tersenyum seperti ini dan demi para Dewa Dewi, Cia. Ini masih terlalu pagi jika kau ingin menggila” dengus Fiona
“kau tidak asik. Aku sedang bahagia Fio. Tidak bisakah kau ikut bahagia juga”
“bagaimana aku bisa ikut bahagia? Sedangkan aku saja tidak tahu apa yang membuatmu begitu bahagia Cia”
Dengan senyum merekah Felycia berkata, “Aku sudah bertemu dengan belahan jiwaku. Dia seorang Alpha Werewolf”. Fiona menaikkan sebelah alisnya, “Benarkah?” di balas anggukan oleh kembarannya.
“Aku bertemu dengannya saat aku sedang berjalan disekitar gerbang Camp Halfblood. Dia terlihat mencurigakan hingga tanpa sadar aku langsung menghampirinya untuk memberinya pelajaran karena beraninya dia memata-matai camp Halfblood. Saat aku akan melayangkan tinjuku padanya dia malah menarikku ke pelukannya dan terus berbicara Mate.. Mate.. Mate, begitu. Selanjutnya, tidak akan aku ceritakan padamu”
Setelah menjelaskan hal itu Felycia langsung pergi menjauh dari kembarannya. Fiona yang melihat Felycia seperti itu mendatarkan wajahnya. Dia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Felycia yang sedang menggodanya karena belum bisa bertemu dengan Matenya. Fiona melangkahkan kakinya kedalam rumah untuk berganti baju. Mendadak dia ingin pergi keluar camp untuk menghirup udara segar.
***
Setelah mendengar berita kalau Richard sudah bertemu dengan matenya ada sedikit rasa iri di hati Sean. Dia bangkit dari duduknya berjalan kearah jendela yang langsung di suguhi pemandangan para warrior yang sedang berlatih. Matanya menatap lurus dengan pandangan kosong hingga sebuah ide terlintas di kepalanya. Sean segera memindlink Betanya.
‘Kai aku akan pergi ke tempat mateku berada. Kau urus semua pekerjaan itu selama aku pergi’
‘Yang benar saja Alpha. Berkas-berkas ini menunggu tanda tanganmu Alpha’
‘Aku akan urus nanti. Mateku lebih penting dari berkas sialan itu’
Sebelum Betanya kembali cerewet Sean segera memutus mindlink dan melesat keluar pack. Para warrior sempat terheran dengan sang Alpha yang melesat begitu saja bagai angin dengan senyum yang tidak luntur. Ini pertama kali untuk mereka melihat sang Alpha tersenyum. Karena biasanya sang Alpha hanya menampilkan wajah datarnya.
***
To Be Continued