“APA?!” Sean terjengit mendengar seruan Adara. Terkejut dengan respons keras yang Adara berikan. Mata Adara membulat, menatap tajam ke arahnya, tampak begitu marah. “Apa kau bilang? Gabriel ... .” ucapan Adara menggantung dengan kepala menggeleng tak percaya. Sean membasahi bibirnya sesaat lalu menghembuskan nafas seraya menatap Adara kembali. “Gabriel tidak benar-benar kehilangan ingatannya Adara. Dia hanya menipumu. Kau tak merasakan gelagat anehnya? Dia tidak seperti seseorang yang kehilangan ingatan Adara. Seharusnya kau sadar itu.” Rahang Adara mengatup, dengan kedua tangan yang terkepal dengan erat. “Darimana kau mengetahui ini semua Sean?” “Kau ingat ... saat kalian menemui Adelia? Gabriel berkata seperti itu pada Adelia. Dia mengakui bahwa dirinya tidak hila

