Chapter 1

1752 Kata
 “Pilih satu ... tetap hidup mewah bersama keluargamu atau hidup sederhana bersamaku?”   Adara mengerjapkan matanya, lalu menatap penuh pertanyaan pada pendar sendu lelaki yang teramat ia cintai itu.   ‘Tentu saja aku memilihmu Gabriel. Aku memilihmu tak peduli aku harus menderita hidup sederhana atau apapun. Aku akan memilihmu.’   Sayangnya kalimat itu hanya terucap dalam hati. Mulutnya hanya terbuka, namun ia tak bisa berkata apapun. Suaranya tercekat di tenggorokan, tertahan ... membuat mulut yang sebelumnya terbuka tertutup lagi, tanpa ada suara sedikitpun, tanpa bisa menjawab sedikitpun pertanyaan yang lelaki itu layangkan padanya.   “Kenapa tak menjawab pertanyaanku Adara? Kau tak ingin menjawabnya? Kau tak ingin hidup sederhana bersamaku?”   Kepala Adara menggeleng beberapa saat. ‘Bukan Gabriel bukan seperti itu! aku mau bersamamu! Aku mau bersamamu!!!’   Lelaki itu tersenyum lirih, sarat akan kekecewaan yang membelenggu. “Tak apa ... aku mengerti. Kau lahir dengan sendok emas di mulutmu, tentu saja kau tak akan pernah bisa hidup sederhana.”   ‘Aku bilang bukan begitu Gabriel. Bukan begitu!!! Aku mencintaimu! Aku ingin bersamamu! Aku ingin kau meninggalkannya lalu memilihku Gabriel! Aku ingin kau bersamaku!’   “Tak ada alasan apapun lagi bagiku untuk tinggal Adara. Jika memang kau tak ingin ... aku menyerah. Selamat tinggal Adara ... Selamat tinggal. Semoga kau bahagia dengan pilihan hatimu yang lain.”   Genggaman tangan itu terurai, lelaki itu mulai mundur, selangkah demi selangkah menjauh, meninggalkannya. Ingin sekali ia menyusul langkah lelaki itu, ingin sekali ia mengejarnya. Namun ... kakinya serasa di cengkram, serasa diikat ditempat. Membuatnya tak berdaya, membuatnya tak bisa melakukan apapun selain menatap lelaki itu. Meratapi kepergiannya.   ‘Tidak!!!! TIDAK GABRIEL!!! TIDAK!!!! JANGAN TINGGALKAN AKU!!!!!’   Perlahan ... tubuh lelaki itu mulai samar, lelaki itu kemudian balik kanan, berlalu begitu saja dengan memberikan punggung sebelum menghilang dari pandangannya.   ...   “HHHAH???!!!”   Ditengah malam gelap gulita Adara terjaga, bangkit dari pembaringannya dengan nafas memburu, tersengal, serasa sesak. Matanya memerah, basah, di kedua pipinya pun terdapat jejak air mata, saksi bisu kesedihan dan rasa sakit yang masih bersarang dalam hatinya, sebuah rasa sakit yang ... dengan bodohnya bercampur dengan rasa rindu ... rasa penuh damba pada sosok terkasihnya itu.   Bodoh! Ya! Ia memang bodoh! Bagaimana bisa ia masih mencintai sesosok lelaki yang begitu melukai hatinya? Bagaimana bisa ia masih menginginkan lelaki yang bahkan hanya mempermainkannya? Bagaimana bisa ia masih berhadap dapat berdampingan dengan lelaki yang bahkan sudah ada pemiliknya?   Adara memeluk lulutnya, membenamkan kepala diantara kedua lututnya itu, berusaha menguatkan dirinya sendiri. Namun ... secara perlahan mulutnya mulai bergetar diiringi oleh isak tangis yang mulai menggema diseluruh penjuru kamar gelap dan sunyi itu. Tubuhnya ambruk, meringkung di pembaringan dengan punggung bergetar hebat, tak dapat menahan lagi rasa sakit dan perih dalam hatinya yang terasa semakin menganga lebar,   Ingin sekali ia membenci, ingin sekali ia membuang semua yang ia rasakan dalam hatinya itu. Tapi ... ia tak bisa.  Jangankan membenci, jangankan membuang semua perasaannya pada lelaki itu. Membuang bayangan lelaki itu saja ia tak bisa, menghilangkan setiap jejak lelaki itu dalam hidupnya saja ia tak mampu. Ia tak kuasa melakukannya.   Lalu ... apa yang harus ia lakukan jika sudah seperti ini? Apa langkah yang harus ia ambil? Haruskah ia tetap bertahan meskipun dalam rasa sakit? Ataukah ... merelakannya?   Entahlah ... Adara tak tahu.   Tangan kanannya perlahan merambat ke leher, meremat bandul cincin yang menggantung hampir mencekik lehernya.   “Gabriel ... jika memang kau tak bisa menjadi milikku ... mengapa kau melakukan semua ini?”   ***   Menurutmu apa yang paling menyakitkan dari sebuah perjalanan cinta? Di tolak? Di tinggalkan? Mungkin orang lain akan mengatakan ‘Ya.’ pada salah satunya. Tapi bagi Adara jawabannya ‘Tidak.’ Adara pernah di tolak, ia pun pernah di tinggalkan. Namun perasaan sakit dan perih yang ia rasakan karena dua hal itu tidak lebih menyakitkan daripada ...   Merindu padanya yang telah menjadi milik orang lain.   Terdengar sangat menyedihkan bukan? Ya ... sangat, ia merasakan hal itu. Namun apa boleh buat? Ia tak bisa menghindari ini, ia tak bisa mengelak dari takdirnya ini. Ia sudah terlanjur mencintai lelaki penuh rahasia itu dan sekarang hal inilah yang harus ia terima ketika ia tahu kenyataannya.   ...   “Perkenalkan ini calon pewaris perusahaan kami ... Gabriel Wyn Tyrone beserta calon pendampingnya, Claretta Mikaila Austin.”   ...   “ARGH!!!”   Adara memukul kemudi seraya mengerang dengan sangat kencang. Rahangnya mengatup, nafasnya pun memburu dengan sangat cepat, berusaha menahan emosi, menahan amarah yang bersemayam dalam dadanya. Dadanya semakin sesak, sakit ketika ucapan itu terus menerus menghantuinya. Hatinya pun semakin teriris perih ketika bayangan Gerald yang berjalan dengan bergandengan tangan bersama perempuan itu kembali dalam benaknya. Satu persatu semuanya datang saling menghantui, seolah tak membiarkannya melupakan kejadian itu sama sekali. Apalagi ...   Adara memejamkan matanya sesaat sebelum fokus ke jalan raya lagi, berusaha fokus dengan mata yang mulai memburam, berkaca-kaca, menahan tangisan yang hampir saja kembali pecah. Apalagi ketika bayangan Gabriel yang memeluknya malam itu kembali ia ingat. Hangatnya sentuhan lelaki itu bahkan masih terasa, masih tersisa hingga ia merasa mendamba, ia merindu pada lelaki itu. Merindukannya setengah mati.   Satu bulan, dua bulan, tiga bulan bahkan sudah berlalu ... berbulan-bulan ia berusaha melupakan kejadian itu, ia pun sudah berusaha dengan keras untuk melupakan Gabriel. Tapi sayangnya ia selalu gagal, ia selalu kalah oleh bayangan Gabriel, ia selalu kalah oleh pelukan Gabriel yang masih terasa begitu nyata baginya, bahkan ... ketika ia sedang berusaha melupakan lelaki itu, dengan tidak sopannya dia selalu datang melalui mimpinya, membuatnya gagal untuk berpaling dan semakin tak bisa melupakan sosok tampan itu.   Tangan kanan Adara merambat naik menyisir rambutnya yang terurai dengan kasar lalu memukul stir lagi sebelum meremat d**a kirinya yang berdetak dengan kencang, hingga membuat dadanya perlahan berubah menjadi sesak, terasa begitu sempit hingga membuat nafasnya tersengal, sulit untuk bernafas seolah ia kehilangan pasokan oksigen di sekelilingnya. Tangan kiri Adara mencengkram kemudi, semakin mengeratkan pegangannya ketika sakit yang ia rasakan semakin menganga lebar.   Mengapa ia harus melalui ini semua? Mengapa ia harus merasakan sakit yang teramat dalam ketika mencinta? Kapankah ia akan bahagia? Kapankah ia tersenyum bersama seseorang yang ia cintai?   Tak bisakah Tuhan memberinya jalan menuju kebahagiaan? Sesegera mungkin agar ia tak selalu menangis, tak selalu bersedih memikirkan hal sama.   Bertepatan dengan itu ponsel Adara berdering, namun ketika ia meraih ponselnya, benda itu terjatuh membuat tangan kanannya terulur ke bawah mencari benda yang terus berdering nyaring itu. Adara menunduk lalu tersenyum ketika mendapatkannya. Namun saat ia bangkit tepat di depannya sebuah mobil sport berwarna merah menyala berhenti, membuat Adara harus menginjak rem dengan kencang hingga membuat bunyi decitan dari gesekan ban dan aspal terdengar begitu nyaring.   CIIIITTTTT! Brak!   Terlambat, mobil yang ia kendarai ternyata tetap saja menabrak mobil merah tersebut. Jarak yang terlalu dekat tak mampu membuatnya menghindari kendaraan di depannya itu.   Adara mengatur nafasnya dengan tangan yang mencengkram kemudi begitu erat. Sekarang ... apa lagi yang akan menimpanya? Apa lagi yang akan menambah beban hidupnya? Mengapa ditengah harinya yang terasa selalu buruk, keburukan lain justru datang?   Tok tok tok!   Adara menoleh ke arah jendela mobilnya. Ia melihat seorang perempuan dengan stelan jas yang rapih berdiri di sana dengan tangan yang menggantung bersiap mengetuk jendela mobilnya lagi. Adara menegang ketika ingatannya melayang ke masa lalu saat pertama kali ia bertemu perempuan itu. tubuhnya meremang, merinding, ia bergidik sesaat ketika melihat iris mata perempuan itu yang menatapnya dengan nyalang.   Ia meneguk ludahnya kasar lalu membasahi bibirnya yang mendadak terasa kering.   Tok tok tok!   Adara menghembuskan nafas kasar. Lalu tanpa berpikir lebih panjang lagi ia keluar dari kendaraannya kemudian berdiri di depan perempuan itu, menatapnya berani seolah tak ada ketakutan dalam hatinya.   “Adara Rexford? Kau lagi?”   Tak lama setelah itu suara pintu mobil yang di tutup terdengar. Membuatnya dan perempuan itu berpaling secara bersamaan ke sumber suara. Ternyata ...   Deg!   Sean Archilles.   Tubuhnya menggigil, ketakutan ketika berhadapan kembali dengan lelaki dihadapannya itu.   Lelaki itu adalah Sean, Sean Leonardo Archilles yang terkenal dengan reputasi buruknya, egois, dingin, pemaksa  dan perempuan sebelumnya adalah Rose, asisten pribadi Sean. Lelaki itu menghela nafas panjang, melirik bagian belakang kendaraannya sendiri sesaat sebelum menatapnya kembali dengan tatapan dingin seraya mendekat ke arahnya.   “Adara ... kenapa kau tak pernah berhenti cari masalah denganku?”   Adara meneguk ludah kasar lalu menggigit bibirnya. “A—aku, aku tak sengaja. A—aku sungguh ... tak sengaja, aku minta maaf Mr. Archilles. Aku berjanji aku akan bertanggung jawab, aku akan mengganti seluruh kerugian yang menimpa anda. Aku berjanji ... .”   Sean berjalan semakin mendekat ke arahnya, lalu menyeringai. “Ya ... memang sudah sepatutnya kau bertanggung jawab Mrs. Rexford. Bahkan mungkin ... kau harus mengganti mobilku dengan yang baru.”   “Tentu ... tentu saja. Sekarang juga aku akan menghubungi orangtuaku agar mengirimkan mobil dengan seri yang sama seperti yang kau miliki. Aku akan melakukannya sekarang.”   Sean terkekeh kecil dengan kepala menggeleng, setelah itu ia menatapnya lalu kembali menyeringai. “Tidak semudah itu Adara. Kau pikir aku tak mampu membeli yang baru?”   “Kalau begitu beli saja. Kau tak perlu—.”   “Kau harus mengganti semua kerugian yang menimpaku dengan uangmu sendiri, bukan uang orangtuamu.” Sean masih menyeringai, lalu menatapnya dengan semakin intens. “Itu ... baru yang dikatakan dengan tanggung jawab.”   Adara meneguk ludahnya kasar. Mengganti kerungian dengan uangnya sendiri? Matanya mengerjap beberapa saat, lalu menatap Sean dengan tatapan intens. “B—bagaimana bisa begitu?! Aku bisa mengganti rugi dengan uang mereka. Karena aku adalah anak mereka. Aku tanggung jawab mereka. Mereka pasti akan membantuku."   “Sepertinya kau belum mengerti maksudku Adara.” Sean semakin menyeringai. “Ini bukan masalah uangnya saja, tapi ini masalah rasa tanggung jawabmu. Kau harus mempertanggungjawabkannya sendiri tanpa ada campur tangan dari orang lain.”   “Tapi bagaimana aku menggantinya? Aku—.” Aku belum bekerja! Darimana aku mendapatkan uang sebanyak itu. Lanjut Adara dalam hati.   “Kau hanya perlu memilih bentuk dari tanggung jawabmu Adara. Ganti dengan uangmu atau masuk penjara?”   Bola mata Adara melebar. “A—apa? Kau tak perlu bertindak sampai sejauh itu!”   Sean menyeringai. “Tak perlu? Kau yang salah Adara. Mau play victim?”   “Ah! Aku lupa. Kau kan anak manja, kau bahkan tidak memiliki pekerjaan.” Sean menarik nafas panjang kemudian menatap Adara dengan melipat kedua tangannya didada. “Baiklah ... akan kupermudah saja. Kau bisa mengganti rugi dengan bekerja untukku. Bagaimana? Atau ... kau ingin memilih penjara saja?” Sean menatapnya dengan tajam.   “Pikirkan dengan cepat. Kau tahu betul aku seperti apa Adara ... aku tak pernah main-main dengan ucapanku. Jadi putuskan sekarang juga. Bekerja untukku atau mendekam di penjara?”    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN