“Aku! Sangat membencimu Gabriel!”
“Menjauh! Dan jangan pernah sekalipun kau berpikir untuk menemuiku lagi! Karena sampai kapanpun ... aku ... akan tetap membencimu!”
.
.
.
Seiring dengan suara-suara penuh kebencian itu terngiang di telinga Gabriel, pergerakan jemarinya di permukaan keyboard pun semakin cepat, semakin kencang hingga pada akhirnya ia menghempaskan tangannya di atas benda tersebut seraya menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi dan mengerang kecil.
Kedua tangannya merambat naik, mencengkram helaian rambutnya kemudian memukul pegangan kursi dengan keras saat suara-suara itu semakin menghantui kepalanya. Tak hanya suara penuh rasa benci saja yang ia ingat, tapi tatapan penuh kebencian dan kekecewaan yang Adara berikan pun tak kalah melukai hatinya. Membuatnya dihantui rasa bersalah yang seolah tak berkesudahan.
Ya ... rasa bersalah. Rasa bersalah dimana ia tak ingin melepaskan Adara, ia tak ingin kehilangan perempuan itu sementara ia sendiri bahkan tak bisa menggenggam tangannya. Jangankan menggenggam, mendekatpun rasanya sangatlah sulit. Bukan karena ia tak ingin, tapi keadaan yang mempersulitnya.
Tok tok tok!
Gabriel menghembuskan nafas lagi kemudian menatap ke arah pintu yang terbuka. Mix, asisten pribadinya yang datang.
“Saya membawa kabar yang paling anda tunggu Mr. Tyrone.”
Sebelah alis Gabriel naik, menatap penuh tanya.
“Anda ditugaskan untuk mengelola perusahaan Tyrone yang ada di California. Seperti yang anda harapkan.”
Gabriel seketika menegakkan posisi duduknya, menatap ke arah Mix diiringi dengan sebuah seringaian kecil. “Kakek benar-benar membiarkanku kembali ke California?”
Mix mengangguk. “Anda di pilih karena beliau menganggap anda yang paling tahu tentang California dan mengenal kota itu.”
Gabriel tersenyum puas. “Bagus. Sekarang saatnya untuk berbenah. Aku ... jadi tidak akan menundanya lagi, aku sudah tak sabar ingin kembali ke California.”
“Untuk menemui Miss Adara?”
Gabriel menyeringai. “Tentu saja.”
Mix menghembuskan nafas pelan. “Berhati-hatilah. Mata-mata Kakek anda sangat banyak. Jika anda salah melangkah Miss Adara pun akan mendapatkan imbasnya.”
“Aku tahu, aku akan berhati-hati. Seperti biasanya.”
“Satu lagi.”
Gabriel kembali menatap Mix.
“Anda tidak bisa dengan mudah menemui Miss Adara Mr. Tyrone. Miss Adara saat ini sudah bekerja di tempat Sean Archilles.”
“Apa? Sean Archilles? Bagaimana bisa?”
Mix mengangguk kecil. “Satu minggu yang lalu ada kejadian yang tidak menyenangkan. Miss Adara menabrak mobil Mr. Archilles, informan saya mengatakan Miss Adara bekerja di sana untuk mengganti rugi kerusakan yang di terima Mr. Archilles.”
Kedua tangan Gabriel mengepal, rahangnya pun mengatup dengan tajam. Marah. Ketika menyadari ada kejanggalan dari kejadian itu. Apakah Sean masih menyimpan dendam pada Adara? Atau ...
“Aku ... tidak akan membiarkannya bertahan di sana lebih lama lagi. Aku tidak akan membiarkan Sean mendekati Adara. Tidak akan pernah.”
***
“Sampah macam apa ini?!” Seru Sean kemudian melemparkan dokumen dihadapannya ke arah meja Adara dengan kencang. “Kau menyebut dirimu pintar tapi tak ada yang bisa kau kerjakan! Kesalahan penulisan dimana-mana, laporan keuangan tidak sinkron! Kau ingin merugikan perusahaanku hah?!”
Adara menunduk dengan rahang mengatup dan tangan yang mulai terkepal sempurna.
“Apa? Kau ingin marah?!”
Adara menarik nafas panjang kemudian mendongak lalu menghembuskan nafasnya perlahan. “Saya tidak membuat laporan ini Mr. Archilles. Anda salah orang.”
“Lalu tugasmu apa sebagai sekretaris? Kau harus memeriksanya! Kau harus memastikan laporannya benar baru kau simpan di meja kerjaku. Apa kau masih belum mengerti juga?”
Adara menghembuskan nafasnya lagi. “Baik Mr. Archilles. Saya mengerti. Akan saya perbaiki segera.”
“Satu jam.”
Adara mengerutkan kening. “Satu jam?”
“Mau membantah?”
“Baik. Satu jam. Sebelum satu jam saya akan menyimpan dokumennya di meja anda.” Ujar Adara kemudian meraih dokumen tersebut. Rasanya ... setiap kali dokumen masuk ia sudah memeriksanya. Mengapa ada dokumen yang begitu buruk seperti ini lolos?
Adara menghembuskan nafas lagi, lalu melirik Sean yang sudah kembali ke ruangannya. Siapa juga yang akan mengerjakan pekerjaan seperti ini? Atau ... ini akal-akalan Sean saja?
“Miss Rexford. Dokumen untuk rapat jam 2 siang ini sudah selesai?”
Adara kembali mendongak ke arah Rose yang masih berdiri dihadapannya. “Sudah.” Jawab Adara kemudian mengambil dokumen dalam map berwarna hitam. “Ini, silahkan anda baca terlebih dahulu sebelum Mr. Archilles kembali kemari dan marah seperti singa.”
Rose menghembuskan nafas seraya menutup kembali dokumen tersebut tanpa menanggapi ucapannya sama sekali. “Terimakasih.” Ujar Rose sebelum berlalu meninggalkan Adara sendiri.
Adara mendengus kemudian tertawa sinis. “Kalian benar-benar pasangan serasi.” Desisnya tajam.
Satu minggu bekerja untuk Sean satu minggu pula ia mendapatkan banyak siksaan. Memang bukan siksaan secara fisik, tapi dengan memberinya banyak sekali pekerjaan. Bahkan pekerjaan Rose pun, ia yang mengerjakannya. Ia mengerjakan semua pekerjaan untuk Sean kecuali satu hal yang berkaitan langsung dengan rahasia perusahaan. Akan sangat mudah jika pekerjaan itu hanya pakerjaan biasa, tapi gilanya Sean adalah lelaki itu selalu memberinya pekerjaan dengan tenggang waktu yang sangat tipis. Pernah suatu waktu ia harus mengerjakan lima dokumen sekaligus yang harus Sean periksa keesokan paginya. Sean menyiksanya seolah benar-benar memendam dendam dan menginginkannya mati muda.
“Aku bersumpah akan segera keluar dari tempat ini Sean Archilles!”
***
“Sean ... .”
Rose berjalan mendekat ke arah Sean yang sedang duduk di belakang meja kebesarannya. Sibuk dengan beberapa dokumen lain hingga lelaki itu tak menanggapi panggilannya sama sekali. Ia menghentikan langkahnya tepat di samping Sean, lalu menghembuskan nafas perlahan.
“Sean. Aku rasa sudah cukup. Jangan kekanak-kanakan begini. Kasihan Adara.”
Sean terkekeh kecil kemudian mendongak. “Untuk apa aku kasihan pada perempuan yang bahkan tidak punya rasa belas kasih? Dia saja selalu bertindak seenaknya, pada siapapun. Dia harus merasakannya sendiri sebagai pelajaran. Gerald juga tak memprotes. Dia mungkin senang karena aku bisa mendidik adiknya itu.”
“Tapi Sean ... kau sudah sangat keterlaluan. Kau memberinya pekerjaan tanpa henti, kau bahkan sengaja menerima laporan itu dari staff lain.”
Sean kembali tersenyum tipis, setengah menyeringai. Lelaki itu kemudian berdiri berhadapan langsung dengannya. Menyudutkannya pada ujung meja hingga ia harus memalingkan wajah ke kanan, menghindari wajah Sean yang semakin dekat.
“Kau terdengar sangat peduli padanya Rose.” Bisik Sean. Tangan lelaki itu kemudian terulur membelai wajahnya. “Atau ... kau cemburu?”
Rose mendelik, menatap Sean yang kini menyeringai dengan iris mata yang masih menatapnya, penuh godaan. “Kau terlalu banyak mengkhayal Sean. Menjauh, sebelum aku memukul wajahmu.”
Sean menyeringai. Secara teknis Rose memang pengawal terbaik sekaligus asistennya. Rose tak hanya cerdas dalam berpikir, tapi perempuan itu pun memiliki kemampuan bertahan diri yang sangat baik. Meski begitu, di bawah kendalinya Rose tidak pernah bisa melawan, karena ia tahu semua titik kelemahan perempuan itu.
“Yakin ingin aku menjauh? Aku tahu ... kau tidak akan pernah bisa menolakku Rose.” Ujar Sean kemudian mengecup ringan leher kanan Rose, ke arah telinga kemudian rahang, setelah itu Sean memagut bibir merah merona itu dengan ciuman yang begitu dalam.
Sekujur tubuh Rose meremang, kedua tangannya terkepal, mencengkram ujung meja sebelum tangan itu naik, menahan Sean, mendorong tubuh lelaki itu hingga terjerembab jatuh ke atas kursi.
Rose menarik nafas panjang seraya merapihkan rambut dan pakaiannya. “Kendalikan dirimu Sean. Aku sudah katakan berhenti.”
Sean kembali menyeringai. “Ah ... aku lupa kau tak suka aku goda di kantor.”
“Bersiaplah, kita harus segera meeting.” Ujar Rose seraya beranjak, menjauh dari Sean untuk kembali ke mejanya.
Semuanya bermula ketika Sean beranjak dewasa. Ibarat buah jatuh tak jauh dari pohonnya, begitulah Sean dengan sifat playboy yang didapatkan dari sang ayah. Lelaki itu selalu berganti pasangan hingga mambuat Rose muak. Kesal karena setiap perempuan itu selalu menuntut banyak hal tentang hubungan serius, hingga ada yang berusaha menjebak Sean.
“Kau harus berhenti sebelum perempuan-perempuan itu membuatku gila Sean.”
“Kalau aku berhenti, kau mau menggantikan posisi mereka? Berteriak, mendesah dibawahku dan membuatku puas Rossean?”
Entah setan apa yang hinggap dalam benak Rose, hingga perempuan itu menantang Sean, menyetujui keinginan lelaki itu. “Siapa takut? Setidaknya ... jika aku. Aku tidak akan menuntut apapun darimu.”
Sejak saat itu hubungan rahasia mereka terbentuk. Malam panas penuh desahan dan kepuasan pun sering kali mereka lewatkan bersama, layaknya pasangan kekasih yang sedang dimabuk asmara dan tak pernah ada rasa puas.
***
“Sayang bagaimana pekerjaanmu? Malam ini kau tidak terlambat pulang lagi kan?”
Adara mendesah pelan seraya menyandarkan kepalanya pada meja kerja, menatap ke arah tumpukan dokumen di sampingnya yang baru saja ia terima.
“Adara akan pulang terlambat lagi Ma ... Adara masih memiliki banyak pekerjaan.”
Sean singa sialan itu benar-benar menyiksaku! Lanjut Adara dalam hati.
“Tidak bisakah kau membawa dokumennya pulang sayang? Kerjakan saja di rumah. Mama khawatir jika kau selalu pulang sendiri, terlebih larut malam.”
“Adara baik-baik saja Ma ... tidak akan sampai tengah malam. Sebagian masih ada tenggang waktu yang cukup lama, bisa dikerjakan besok tapi beberapa dokumen harus Adara kerjakan malam ini.” jelas Adara.
Gloria mendesah penuh rasa khawatir. “Mama jemput ya?”
Adara terkekeh pelan. “Tidak perlu Ma, Adara berjanji Adara akan segera pulang setelah semua pekerjaan Adara selesai.”
“Janji?”
Adara bergumam. “Janji. Kalau begitu sudah dulu ya Ma? Adara mau membeli makanan dulu sebelum kembali bekerja. Bye Ma.”
“Bye bye sayang ... .”
Adara menarik nafas panjang. Setelah itu beranjak meninggalkan meja kerjanya.
Oh ya ... ngomong-ngomong tentang keluarganya, sekarang Ibunya—Gloria tidak lagi sesibuk dulu. Sebagian besar usaha yang di pegang Gloria sekarang diwakilkan pada asisten. Gloria hanya memantau sesekali sehingga lebih banyak waktu di rumah, membuatnya menerima banyak perhatian dari Ibunya itu. Seperti yang baru saja ia dengar.
Adara melangkahkan kaki keluar dari lift setelah lift yang ia tumpangi sampai di lantai dasar. Tujuannya adalah toko roti dan kopi yang berada di samping kantor, salah satu tempat favorite-nya setelah ia bekerja di tempat ini.
Setelah sampai Adara memesan dua buah Burrito berukuran sedang dan juga segelas americano dingin, lalu duduk di salah satu sudut toko, dengan tangan memainkan ponselnya. Setelah beberapa saat seseorang dengan pakaian serba hitam duduk di sampingnya, membuat Adara melirik lelaki itu, mengamati penampilannya sesaat. Jeans hitam, kaus hitam, jaket leather hitam dan juga topi hitam.
Adara menghembuskan nafasnya mengabaikan orang itu kemudian berdiri setelah pelayan menyebutkan pesanannya.
“Adara.”
Deg!
Adara mematung ditempat. Suara itu ...
Bruk!
Pelukan dari arah belakang ia dapatkan. Pelukan erat juga usakan lembut kepala orang itu di bahu kanannya mulai terasa. Membuat tubuhnya meremang, terkejut dengan degup jantung yang semakin menggila.
“Jauhkan tanganmu Gabriel!”
“I miss you ... .”